{"id":7606,"date":"2018-06-07T10:42:12","date_gmt":"2018-06-07T17:42:12","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7606"},"modified":"2018-06-07T06:42:48","modified_gmt":"2018-06-07T13:42:48","slug":"hr-hati-yesus-yang-mahakudus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7606","title":{"rendered":"HR Hati Yesus yang Mahakudus"},"content":{"rendered":"<p class=\"x_MsoNormal\">Jumat, 8 Juni 2018<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">[Hos. 11:1-4.8c-9; Ef. 3:8-12.14-19; Yoh. 19:31-37]<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">HR Hati Yesus yang Mahakudus<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">\n<p class=\"x_MsoNormal\">Pada awalnya devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus adalah menangkal ajaran sesat Jansenisme, yang disebarkan oleh seorang Pastor bernama Jansen. Dalam kotbahnya, Pastor Jansen selalu mengatakan bahwa manusia itu begitu buruk, lemah, tak berdaya, tak berharga, tidak dapat melakukan sesuatu yang baik dari dirinya sendiri. Dalam ajaran iman, perasaan tidak layak perlu dibarengi dengan harapan akan belaskasih dan cinta Tuhan. Maka, sebagai reaksi atas paham Pastor Jansen ini, devosi Hati Yesus yang Mahakudus ini diserukan, dengan pasan bahwa setiap manusia memang tidak layak, namun Kristus yang wafat untuk kita, adalah Kristus yang wafat di saat kita masih berdosa, dan karena itulah kita diselamatkan. Kita pun turut memiliki harapan untuk turut dalam kebangkitan Kristus.<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">Ada dua jenis manusia jaman sekarang, yang masih sering kita jumpai, yaitu orang-orang yang selalu dipenuhi rasa bersalah, tidak memiliki harapan untuk bertobat, serta selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Jenis satunya adalah orang-orang yang merasa diri paling benar, tidak memiliki cacat dan cela, serta semua yang dilakukan adalah segalanya. Dua-duanya adalah ekstrim yang salah, dan tidak perlu ditiru, karena teladan utama kita adalah Kristus. Bahwa kita memiliki dosa adalah benar, namun tidak berarti itu membawa kita pada \u2018lembah yang dalam\u2019, namun justru berusaha terus menerus untuk mencapai hidup yang baik dan suci, serta mengarahkan diri hanya kepada Allah. Bersama Hati Yesus yang Mahakudus, kita mencoba untuk tetap sadar bahwa kita adalah manusia yang tidak layak, lemah dan mudah jatuh dalam pencobaan, tapi selalu ada alasan untuk berharap dan berterima kasih, yaitu karena kita dicintai oleh Allah.<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">Selamat pagi, selamat menemukan kasih Allah lewat Hati Yesus yang Mahakudus. GBU.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 8 Juni 2018 [Hos. 11:1-4.8c-9; Ef. 3:8-12.14-19; Yoh. 19:31-37] HR Hati Yesus yang Mahakudus Pada awalnya devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus adalah menangkal ajaran sesat Jansenisme, yang disebarkan oleh seorang Pastor bernama Jansen. Dalam kotbahnya, Pastor Jansen selalu mengatakan bahwa manusia itu begitu buruk, lemah, tak berdaya, tak berharga, tidak dapat melakukan sesuatu yang baik dari dirinya sendiri. Dalam ajaran iman, perasaan tidak layak perlu dibarengi dengan harapan akan belaskasih dan cinta Tuhan. Maka, sebagai reaksi atas paham&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7606\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7606","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7606"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7606\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7607,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7606\/revisions\/7607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}