{"id":7756,"date":"2018-08-09T17:45:23","date_gmt":"2018-08-10T00:45:23","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7756"},"modified":"2018-08-09T17:45:23","modified_gmt":"2018-08-10T00:45:23","slug":"benih-yang-hidup-harus-mati-terlebih-dahulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7756","title":{"rendered":"Benih yang Hidup, Harus Mati Terlebih Dahulu!"},"content":{"rendered":"<p>Jumat,  10 Agustus 2018, Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir<br \/>\nBacaan Injil Yoh 12:20-36<\/p>\n<p>&#8220;Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.&#8221;\u00a0 Yohanes 12:24<\/p>\n<p>Hampir di semua budaya kematian dimengerti sebagai akhir dari segala sesuatu. Kalau sudah mati ya sudah tamat! Tidak mengherankan jiakalau kematian bagi kebanyakan orang merupakan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Maka kita bisa mengerti mengapa manusia sama sekali tidak suka berpikir atau berbicara mengenai kematian. Singkatnya, kematian menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Di sisi lain, ada banyak usaha untuk menghindari kematian dari budaya kita. Hal ini dikarenakan pada umumnya, kita mempunyai konsep tentang kehidupan dan kematian hanya satu arah saja: yakni dari hidup menuju kematian. Kita semua hidup di dunia dan sedang menuju kepada kematian.<\/p>\n<p>Kematian itu adalah bagian dari kehidupan kita di dunia ini. Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi kehidupan dan kematian? Injil hari ini dan juga pesta Santo Laurensius, diakon dan Martir, yang kita rayakan hari ini, mengungkapkan pemahaman tentang kehidupan dan kematian yang diajarkan Yesus kepada para pengikut-Nya. Dengan mengatakan, \u201cSesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,&#8221; Yesus mau menjelaskan bahwa\u00a0 Kalau konsep dunia: dari hidup menuju mati; tetapi konsep Yesus : dari hidup menuju mati dan hidup lagi. Agar biji gandum itu dapat bertumbuh dan berbuah maka ia harus ditanam dan mati terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Saudara-saudariku, sebenarnya melalui injil hari ini, Yesus sedang mengungkapkan rahasia kehidupan yang dijalani-Nya di dunia ini. Seperti biji gandum, hidup Yesus harus mati dulu untuk menghasilkan buah-buah keselamatan yang berlimpah. Tuhan Yesus mau taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah.\u00a0 Di sini kita melihat bagaimana Yesus telah memberi contoh dan teladan dalam hal menyangkal diri demi keselamatan umat manusia dan dunia ini. Bagi Yesus, syarat utama menjadi murid Kristus adalah menyangkal diri. <\/p>\n<p>Dengan demikian, injil hari ini dan juga teladan Santo Laurensius, diakon dan martir yang pestanya kira rayakan hari ini, mengundang kita untuk bersedia menyalibkan dan mematikan keakuan dan keinginan untuk mementingkan diri sendiri agar hidup kita menghasilkan buah yang berlipat ganda. Hidup ini begitu singkat, mari kita jalankan dengan sebaik-baiknya dengan jalan memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama kita. \u201cUntuk apa kita memperoleh segala sesuatu di dalam hidup yang sementara ini, tetapi kita kehilangan hidup yang kekal?\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 10 Agustus 2018, Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir Bacaan Injil Yoh 12:20-36 &#8220;Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.&#8221;\u00a0 Yohanes 12:24 Hampir di semua budaya kematian dimengerti sebagai akhir dari segala sesuatu. Kalau sudah mati ya sudah tamat! Tidak mengherankan jiakalau kematian bagi kebanyakan orang merupakan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Maka kita bisa mengerti mengapa manusia sama sekali tidak&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7756\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7756","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7756"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7756\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7760,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7756\/revisions\/7760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}