{"id":7783,"date":"2018-08-16T12:10:41","date_gmt":"2018-08-16T19:10:41","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7783"},"modified":"2018-08-16T12:10:41","modified_gmt":"2018-08-16T19:10:41","slug":"dosa-mengisolasikan-kehidupan-kita-dari-tuhan-dan-yang-diperlukan-ialah-pengampunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7783","title":{"rendered":"Dosa mengisolasikan kehidupan kita dari Tuhan; dan yang diperlukan ialah pengampunan"},"content":{"rendered":"<div>Hari Kamis, 16 August, 2018<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Ezekie 12:1-12<\/div>\n<div>Matius 18:21-19:1<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Saudara-saudariku terkasih,<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Bacaan-bacaan hari ini, membawa kita kepada suatu permenungan tentang beban dan konsekwensi dosa ataupun kesalahan yang kita perbuat disatu pihak dan kesediaan kita untuk mencari ataupun menemukan pengampunan pada pihak yang lain.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Dari bacaan pertama, Allah lewat nabi Yehesekiel mengingatkan bangsa Israel supaya keluar dari dunia para pemberontak melalui tindakan symbolis. Keluar dari daerah mereka yang &#8220;mempunyai mata untuk melihat tetapi tidak melihat dan yang mmempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar.&#8221; Dengan tindakan symbolis itu mereka harus keluar dari daerah kaum pemberontak sambl memikul barang-barang mereka pada siang dan malam hari dan Yehezekiel sendiri akan membuat lobang di dinding tembok itu. Tindakan symbolis ini mempunyai arti yang sangat dalam bahwa akan ada dinding pemisah antara dia dan komunitasnya, dan dalam hal ini adalah Allah. Sambil keluar ia harus menutup mukanya, dan apabila ditanya, katakanlah: &#8220;Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.&#8221;<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Saudara-saudari terkasih,<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Kalau kita berdosa, maka kita perlu dikirim di dunia pembuangan, tetapi sebenarnya pembuangan itu ada di dalam diri kita sendiri. Karena baik secara psikologis, emosional dan maupun spiritual adalah konsekwensi dari dosa yang kita lakukan itu membuat hidup kita terisolasi. Kita secara otomatis mengisolasikan diri dari Tuhan dan dari satu sama lain. Seperti raja dalam bacaan pertama tadi &#8220;yang di tengah-tengah mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap dan akan pergi keluar; orang akan membuat sebuah lobang di tembok supaya ada baginya jalan keluar; ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu.&#8221;<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sementara Yesus dalam bacaan injil hari ini tidak hanya memberi kita resep untuk keluar dari belenggu dosa itu, tetapi bagaimana secara bertahap kita harus dapat mengetrapkannya dalam kehidupan kita setiap hari. Proses pengampunan dan belaskasihan kepada sesama secara psikologis akan membebaskan kita dari belenggu rasa dendam dan marah. Dan kalau pengampunan dan belaskasih itu telah membawa orang ke pertobatan maka yang bersangkutan akan bebas dari rasa malu dan kembali menemukan martabatnya. Sebaliknya, kitapun dibebaskan oleh pengampunan dan belaskasihan Allah yang dapat kita teruskan itu kepada sesama, kalau kita sendiri rela bertobat.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Saudara-saudari terkasih,<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Yesus mengatakan: kita harus mengampuni sesama kita tujuhpuluh kali tujuh kali.Tentu saja tidak dapat ditafsirkan secara harafiah, teapi suatu pengampunan tanpa batas (limitless). Tentu saja dalam hal mengampuni sesama, kita tidak harus membiarkan diri kita tenggelam dalam situasi dosa, berarti tanpa memberi kesempatan lagi kepada orang lain untuk berbuat dosa atau kesalahan lagi. Kita masih bisa memberikan pengampunan dalam jarak jauh, atau dengan pengampunan yang diberikan tidak berarti kita lalu mau mengatur dan merobah orang itu. Orang itu masih tetap mempunyai kebebasan untuk menyimak rahmat pengampunan yang diberikan kepadanya.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Dengan demikian kita memungkinkan cinta untuk terus mewarnai kehidupan kita, dan membuka hati agar Tuhan terus tinggal dalam diri kita. Berarti kita mau menyerahkan semua pergolakan hidup ini kepada Tuhan dan memberi kesempatan kepada RohNya yang Kudus untuk menyembuhkan segala luka batin kita, memurnikan kenangan lama yang dirasa melukai batin kita dan dipersembahkan dalam doa-doa kita.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Oleh karens itu ketika kita mampu mempersembahkannya dalam doa-doa kita khusus bagi mereka yang telah melukai kita, maka tanpa kita sadari Yesus sendiri telah membuka hidup kita untuk menerima rahmat dan berkat Allah dan kita pun merasa bebas dari rasa dendam dan marah yang berkepanjangan. Dengan demikian kitapun akan merasa lega, bebas, dan memungkinkan kita untuk bisa berdoa untuk orang yang melukai kita dengan sepenuh hati, Kitapun bisa dengan lega berdoa untuk rahmat Tuhan supaya selalu bekerja di dalam diri kita. Amin.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Kamis, 16 August, 2018 Ezekie 12:1-12 Matius 18:21-19:1 Saudara-saudariku terkasih, Bacaan-bacaan hari ini, membawa kita kepada suatu permenungan tentang beban dan konsekwensi dosa ataupun kesalahan yang kita perbuat disatu pihak dan kesediaan kita untuk mencari ataupun menemukan pengampunan pada pihak yang lain. Dari bacaan pertama, Allah lewat nabi Yehesekiel mengingatkan bangsa Israel supaya keluar dari dunia para pemberontak melalui tindakan symbolis. Keluar dari daerah mereka yang &#8220;mempunyai mata untuk melihat tetapi tidak melihat dan yang mmempunyai telinga untuk mendengar,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7783\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7783","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7783"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7783\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7784,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7783\/revisions\/7784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}