{"id":7826,"date":"2018-09-04T10:38:17","date_gmt":"2018-09-04T17:38:17","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7826"},"modified":"2018-09-02T08:39:03","modified_gmt":"2018-09-02T15:39:03","slug":"rabu-pekan-biasa-xxii-2018","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7826","title":{"rendered":"RABU PEKAN BIASA XXII 2018"},"content":{"rendered":"<p>RABU PEKAN BIASA XXII 2018<\/p>\n<p>1 Korintus 3:1-9; Lukas 4:38-44<\/p>\n<p>Kota Korintus adalah kota pelabuhan layaknya kota Semarang, Surabaya, Makassar dan Jakarta. Salah satu dari sekian banyak ciri khas kota pelabuhan adalah, soal intensitas pertemuan warganya dengan orang luar yang cukup tinggi. Perbedaan budaya, bahasa, karakter dan selera dari para pendatang, sedikit banyak berpengaruh terhadap mental dan kepribadian penduduk Korintus.<\/p>\n<p>Sebagai kota pelabuhan, Korintus sering menjadi tempat singgah para pewarta sabda Allah antara lain Apolos dan Paulus. Entah karena sekedar singgah atau mempunyai tujuan kunjungan ke komunitas Korintus, para pewarta sabda tersebut mencoba mengabarkan Injil Yesus Kristus di kota ini. Karakter dan cara masing-masing pewarta sabda yang berbeda-beda itu memunculkan perasaan suka dan tidak suka. Hal ini kemudian memicu timbulnya kelompok-kelompok yang pro pewarta sabda tertentu dan berlawanan dengan pewarta sabda yang lain. Situasi ini memunculkan keprihatinan yang amat mendalam pada diri Paulus. Paulus takut apabila jemaat di Korintus yang nota bene beriman kepada Tuhan Yesus yang sama, harus terpecah-pecah kerena fanatisme terhadap para pewarta sabda. Paulus meyakinkan jemaat Korintus bahwa: \u201cAku yang menanam, Apolos yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama, yaitu pelayan Tuhan kita Yesus Kristus\u201d.<\/p>\n<p>Komunitas Gereja Katolik pun kurang lebih menghadapi situasi yang sama dengan Jemaat di Korintus. Paroki kita, tidak luput dari yang namanya pergantian pewarta sabda \/ gembala \/ imam. Secara berkala, para imam yang melayani paroki kita pasti dirotasi. Masing-masing pelayan tersebut membawa karakter pelayanan dan kepribadian masing-masing yang pasti disukai dan tidak disukai oleh umat. Hal ini seringkali memunculkan kelompok-kelompok yang nge-fans sama romo yang satu dan tidak suka dengan romo yang lain. Like or dislike sebagai manusia itu wajar. Namun menjadi tidak sehat apabila hal itu berlanjut pada fanatisme sempit yang dapat menimbulkan perpecahan dalam tubuh Gereja kita. Amat sangat disayangkan apabila komunitas Gereja kita terpecah belah hanya gara-gara kecenderungan suka dan tidak suka ini.<\/p>\n<p>Hari ini St. Paulus mengingatkan kita bahwa meskipun masing-masing pewarta sabda itu berbeda-beda, namun sebenarnya mereka tetaplah satu di dalam<\/p>\n<p>Kristus. Kita diajak untuk menanggalkan perasaan suka dan tidak suka yang dapat merusak keutuhan komunitas kita, sebab kesatuan dan keutuhan komunitas kita jauh lebih penting dari yang lainnya. Semoga roh pemersatu membantu kita untuk menciptakan kesatuan dan kerukunan dikomunitas kita sehingga pewartaan sabda Allah pun menjadi semakin efektif membangun hidup beriman kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RABU PEKAN BIASA XXII 2018 1 Korintus 3:1-9; Lukas 4:38-44 Kota Korintus adalah kota pelabuhan layaknya kota Semarang, Surabaya, Makassar dan Jakarta. Salah satu dari sekian banyak ciri khas kota pelabuhan adalah, soal intensitas pertemuan warganya dengan orang luar yang cukup tinggi. Perbedaan budaya, bahasa, karakter dan selera dari para pendatang, sedikit banyak berpengaruh terhadap mental dan kepribadian penduduk Korintus. Sebagai kota pelabuhan, Korintus sering menjadi tempat singgah para pewarta sabda Allah antara lain Apolos dan Paulus. Entah karena sekedar&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7826\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7826","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7826"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7826\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7827,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7826\/revisions\/7827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}