{"id":7837,"date":"2018-09-10T06:56:49","date_gmt":"2018-09-10T13:56:49","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7837"},"modified":"2018-09-10T06:56:49","modified_gmt":"2018-09-10T13:56:49","slug":"renungan-senin-09-10-2018","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7837","title":{"rendered":"Renungan Senin 09\/10\/2018"},"content":{"rendered":"<p>Injil Lukas 6:6-11:<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u201cPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: &#8220;Bangunlah dan berdirilah di tengah!&#8221; Maka bangunlah orang itu dan berdiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Lalu Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: &#8220;Ulurkanlah tanganmu!&#8221; Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;-<\/p>\n<p>Kisah injil tentang penyembuhan orang yang mati tangan sebelah adalah sebuah teguran keras sekaligus peringatan terhadap manusia yang tidak taat kepada Allah tetapi kepada aturan.<\/p>\n<p>Acapkali kita tidak mampu merasakan penderitaan orang lain. Kita merasa diri benar karena ingin menegakkan aturan. Padahal aturan itu sendiri barangkali salah. Aturan yang salah pasti aplikasinya juga salah. Taat aturan secara buta membuat kita tidak sanggup melihat realitas apa adanya. Dan hal ini juga membuat kita tidak mampu memberi respond yang tepat terhadap kebutuhan sesama. Terutama mereka yang sakit dan butuh pertolongan. Kita lebih banyak bertindak seperti para farisi dan ahli kitab. Pandai membuat aturan dan suka memberi judgement. Namun tanpa rasa dan fleksibilitas. Tiada empati terhadap yang menderita. Dan lebih jahat lagi, tidak memberi kesempatan agar orang disembuhkan dari penderitaan yang dialaminya.<\/p>\n<p>Aslinya hukum sabat dimaksudkan untuk memuliakan Allah dan melakukan perbuatan baik. Namun dimanipulasi dan disalahgunakan.<\/p>\n<p>Seperti si sakit, kita juga butuh kesembuhan dari Tuhan. Kita harus mendengarkan dan lebih taat pada suara Tuhan, bukan suara-suara lain. Ulurkan tangan karena Tuhan menyuruh. Bukan pada ketakutan dan amarah serta suara-suara para komplotan jahat. Telinga dan hati kita harus lebih sensitif dan terbuka pada kehadiran Allah, dan hanya pada kuasa dan belaskasih-Nya sajalah kita mesti berpasrah diri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Injil Lukas 6:6-11: \u201cPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: &#8220;Bangunlah dan berdirilah di tengah!&#8221; Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7837\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7837","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7837"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7837\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7839,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7837\/revisions\/7839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}