{"id":7846,"date":"2018-09-14T08:49:06","date_gmt":"2018-09-14T15:49:06","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7846"},"modified":"2018-09-14T08:49:06","modified_gmt":"2018-09-14T15:49:06","slug":"jalan-salib-jalan-keselamatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7846","title":{"rendered":"Jalan salib, jalan keselamatan\u00a0"},"content":{"rendered":"<p>Jalan salib, jalan keselamatan<\/p>\n<p>John 3:13-17<\/p>\n<p>Salib Kristus selalu mengingatkan tentang nama dan identitas kita sebagai orang Kristen.<\/p>\n<p>Salib adalah simbol penderitaan, penghinaan, penolakan. Bagi dunia, salib tidak memiliki makna, simbol kejahatan, kebodohan. Namun bagi orang Kristen, ia adalah mana dan identitas di mana Tuhan dan Penebus kita dipaku dan menderita hingga kematian-Nya. Karena itu Kristus adalah Kristus yang tersalib. Kristus adalah Kristus yang bangkit.<\/p>\n<p>Ia tersalib memikul dosa-dosa kita, dihina, dipersalahkan, dihukum mati dengan dipaku pada salib. Palang hina. Dengan salib Kristus mengajarkan bahwa penderitaan dan kematian-Nya adalah jalan yang harus diambil untuk sampai kepada kemenangan. Untuk dunia, salib adalah kehinaan dan tanpa makna. Namun, bagi Kristus salib adalah makna dan jalan keselamatan. Ia adalah kekuatan, sarana, jalan salib, jalan yang dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan manusia dan dunia dari kebinasaan.<\/p>\n<p>Sebagai nama dan identitas kita, salib dihormati, diperingati, dirayakan dalam liturgi Gereja, karena dibalik kayu palang di mana Kristus tersalib, terkandung makna hidup dan keselamatan yang sesungguhnya. Dengan salib dan penderitaan Kristus, lahirlah kebangkitan dan hidup baru. Kristus mentransformasi, merubah apa yang dianggap tidak berguna, tanpa makna dan hina menjadi sesuatu yang bermakna, berguna dan bahkan menyelamatkan. Dengan salib, Kristus mengajarkan kita tentang bagaimana kita harus menjalani hidup. Penderitaan-Nya mengajarkan bahwa dosa adalah sesuatu yang hina dan membinasakan. Namun kerahiman dan kasih Allah lebih besar dan lebih kuat untuk membawa kita keluar dari air mata dan penderitaan. Salib mengajarkan kita kesabaran. Bahwa penderitaan tidak boleh membuat orang putus asa. Tidak menyerah pada cobaan, penderitaan.\u00a0 Bahwa\u00a0 kejahatan dan ketidakadilan hanya bisa dilawan dengan kasih dan pengampunan. Bahwa hidup ini bermakna jika kita jalani dengan kesabaran, ketekunan dan kerja keras dengan berpangkal pada iman dan harapan Kristiani. Hidup ini keras tapi harus dijalani. Dijalani dengan mengikuti tapak-tapak kaki Kristus. Tapak-tapak yang dijalani Kristus penuh cobaan, derita, air mata dan bahkan kematian. Namun sebesar apapun cobaan dalam hidup kita harus mampu mengatasinya. Tidak takut dan tidak boleh takut karena Tuhan kekuatan kita. Kristus tersalib adalah Kristus yang bangkit, yang tidak menyerah baik kepada kejahatan maupun penderitaan dan kematian.<\/p>\n<p>Salib adalah nama dan identitas kita yang percaya pada Kristus. Hanya kasih dan cinta Kristus mampu membawa kita kepada hidup dan kebahagiaan sejati.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan salib, jalan keselamatan John 3:13-17 Salib Kristus selalu mengingatkan tentang nama dan identitas kita sebagai orang Kristen. Salib adalah simbol penderitaan, penghinaan, penolakan. Bagi dunia, salib tidak memiliki makna, simbol kejahatan, kebodohan. Namun bagi orang Kristen, ia adalah mana dan identitas di mana Tuhan dan Penebus kita dipaku dan menderita hingga kematian-Nya. Karena itu Kristus adalah Kristus yang tersalib. Kristus adalah Kristus yang bangkit. Ia tersalib memikul dosa-dosa kita, dihina, dipersalahkan, dihukum mati dengan dipaku pada salib. Palang hina&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7846\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7846","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7846","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7846"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7846\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7848,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7846\/revisions\/7848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}