{"id":7877,"date":"2018-09-23T10:46:49","date_gmt":"2018-09-23T17:46:49","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7877"},"modified":"2018-09-22T16:47:27","modified_gmt":"2018-09-22T23:47:27","slug":"senin-pekan-biasa-xxv-tahun-ii-2018","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7877","title":{"rendered":"Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018"},"content":{"rendered":"<p>Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018<\/p>\n<p>Amsal 3:27-34; Lukas 8: 16-18<\/p>\n<p>Rumah-rumah Palestina pada zaman Yesus biasanya terbuat dari tanah liat yang keras, dan mereka memiliki cukup jendela untuk membiarkan udara dan cahaya masuk, tetapi cukup kecil untuk menahan debu gurun dan panas. Saat itu, sangat berharga untuk memiliki lampu minyak yang terbakar di dalam rumah. Kenyataan sehari-hari inilah yang mengilhami Yesus untuk berbicara dengan nada simbolis yang dia miliki dalam Injil hari ini.<\/p>\n<p>&#8220;Terang&#8221; biasanya adalah tanda kehadiran Tuhan di dalam Alkitab. Di kitab Kejadian, Terang menggambarkan tentang Tuhan yang membuat cahaya keluar dari kegelapan yang kacau. Teofani Allah selalu disertai dengan cahaya seperti kilat dan semak yang menyala. Nabi Yesaya dalam bernubuat tentang kedatangan Mesias mengatakan: \u201cOrang-orang yang berjalan dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar\u2026\u201d Dalam Perjanjian Baru, St. Yohanes mengembangkan Injilnya dengan tema-tema tentang cahaya Allah melawan kegelapan. Paulus, dalam surat-suratnya menulis bahwa kita harus hidup sebagai anak-anak terang. Injil kita hari ini menggarisbawahi bahwa dengan cara yang sama pelita diletakkan di atas kaki dian untuk memberi terang kepada semua orang di rumah. Iman kita kepada Allah dapat kita sebut sebagai pelita kita, harusnya menuntun kita untuk menyaksikan kepercayaan ini sehingga orang lain dapat mendengar, melihat, dan mengalami kehadiran Allah (lih. Yoh 1: 1-7).<\/p>\n<p>Saya mengajak kita semua untuk merefleksikan tentang dua hal yang berkaitan dengan &#8220;membiarkan terang kita&#8221; bersinar:<\/p>\n<p>Pertama, cahaya atau terang harus terus menerus menegaskan dirinya untuk menaklukkan kegelapan. Jadi, kita harus menyadari bahwa tugas kita sebagai pengikut Kristus bukanlah tugas yang mudah. Kita harus terus menegaskan komitmen kita di tengah tantangan kegelapan dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai kristiani, sistem yang bertentangan dengan iman serta ajaran kristiani dst.<\/p>\n<p>Kedua, semakin banyak api menyala, maka akan memiliki kecenderungan alami untuk menjadi lebih besar! Jadi, dengan iman kita yang kita satukan dengan iman jemaat-jemaat lain akan membuat \u201ckobaran\u201d api Kristus menyala dihati banyak orang. Iman yang dibagikan berkali-kali akan membuat iman kita semakin diperkuat. Ini mirip dengan apa yang diungkapkan dalam kitab kebijaksanaan yang mengatakan: \u201cPractice makes perfect.\u201d Semakin kita mengaplikasikan iman kita<\/p>\n<p>dalam hidup kita sehari-hari, semakin sempurna dan berkembanglah iman kita. Semoga kita sebagai pengikut Kristus mampu membawa terang kepada setiap orang yang kita jumpai sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018 Amsal 3:27-34; Lukas 8: 16-18 Rumah-rumah Palestina pada zaman Yesus biasanya terbuat dari tanah liat yang keras, dan mereka memiliki cukup jendela untuk membiarkan udara dan cahaya masuk, tetapi cukup kecil untuk menahan debu gurun dan panas. Saat itu, sangat berharga untuk memiliki lampu minyak yang terbakar di dalam rumah. Kenyataan sehari-hari inilah yang mengilhami Yesus untuk berbicara dengan nada simbolis yang dia miliki dalam Injil hari ini. &#8220;Terang&#8221; biasanya adalah tanda kehadiran&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7877\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7877","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7877","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7877"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7877\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7878,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7877\/revisions\/7878"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7877"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7877"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7877"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}