{"id":7963,"date":"2018-10-31T10:00:49","date_gmt":"2018-10-31T17:00:49","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7963"},"modified":"2018-10-31T07:01:52","modified_gmt":"2018-10-31T14:01:52","slug":"berbahagialah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7963","title":{"rendered":"BERBAHAGIALAH!"},"content":{"rendered":"<p class=\"x_MsoNormal\">Kamis, 1 November 2018<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\"><span lang=\"IN\">HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)<\/span><\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Why. 7:2-4,9-14;\u00a0Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6;\u00a01Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a<\/span><\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">\n<p class=\"x_MsoNormal\">BERBAHAGIALAH!<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">\n<p class=\"x_MsoNormal\">Hidup manusia adalah keterkaitan antara pengalaman sedih dan pengalaman gembira.\u00a0<span lang=\"IN\">Kahlil Gibran\u00a0<\/span>pernah mengatakan\u00a0<span lang=\"IN\">bahwa hal yang membuat tertawa suatu saat akan membuat menangis, dan apa yang kini membuat menangis adalah hal yang akan membuat tertawa kelak. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada\u00a0<\/span>orang yang saking menderitanya<span lang=\"IN\">\u00a0berkata bahwa \u201cair mata mereka sudah kering\u201d. Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.<\/span><\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\"><span lang=\"IN\"><br \/>\nMenarik bahwa dalam khotbah-Nya<\/span>\u00a0di bukit<span lang=\"IN\">, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia.\u00a0<\/span>Sebab<span lang=\"IN\">\u00a0kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam\u00a0<\/span>dunia kita saat ini<span lang=\"IN\">, sangat mungkin kesedihan dan ratapan berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan.\u00a0<\/span><span lang=\"IN\">Mari kita bertanya dalam diri:\u00a0kapan kali terakhir kita membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah\u00a0<\/span>kita<span lang=\"IN\">\u00a0merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah<\/span>!<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">Selamat pagi, selamat berbahagia. GBU.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 1 November 2018 HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P) Why. 7:2-4,9-14;\u00a0Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6;\u00a01Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a BERBAHAGIALAH! Hidup manusia adalah keterkaitan antara pengalaman sedih dan pengalaman gembira.\u00a0Kahlil Gibran\u00a0pernah mengatakan\u00a0bahwa hal yang membuat tertawa suatu saat akan membuat menangis, dan apa yang kini membuat menangis adalah hal yang akan membuat tertawa kelak. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada\u00a0orang yang saking menderitanya\u00a0berkata bahwa \u201cair mata mereka sudah kering\u201d. Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7963\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7963","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7963"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7963\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7964,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7963\/revisions\/7964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}