{"id":8063,"date":"2018-12-05T17:45:05","date_gmt":"2018-12-06T01:45:05","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8063"},"modified":"2018-12-05T21:27:15","modified_gmt":"2018-12-06T05:27:15","slug":"arti-kemuridan-kristus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8063","title":{"rendered":"Arti Menjadi Murid Kristus"},"content":{"rendered":"<p><em>Kamis, 6 Desember 2018<\/em><br \/>\nMat 7:21,24-27<\/p>\n<p>Bacaan injil hari ini mengingatkan kita akan arti menjadi murid Yesus yang sejati! Injil berisikan tentang akhir dari kotbah di bukit yang merupakan bacaan mengenai Hukum Allah. Ini dimulai dengan Ucapan Bahagia (Mat 5: 1-12) dan berakhir dengan perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas batu. Ide utama atau konteks dari bacaan ini adalah pencarian guna memperoleh kebijaksanaan sejati. Sumber kebijaksanaan sejati itu diyakini adalah Firman Tuhan yang dinyatakan dalam Hukum Tuhan. Maka, kebijaksanaan sejati terjadi kalau orang mendengarkan dan mempraktekkan Firman Tuhan dalam hidupnya.  Tidaklah cukup sekedar mengatakan &#8220;Tuhan, Tuhan!&#8221;, yang terpenting adalah bukan dengan mengatakan kata-kata indah tentang Tuhan, tetapi lebih kepada melakukan kehendak Allah, dan oleh karena itu, menjadi penyataan kasih-Nya dan kehadiran-Nya di dunia. <\/p>\n<p>Saudari-saudara yang terkasih, lebih lanjut dikatakan bahwa orang yang mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan, adalah seumpama orang yang membangun rumah di atas batu. Kekuatan rumah tidak berasal dari rumah itu sendiri, tetapi lebih dari fondasinya, yakni dari batu. Apa arti &#8216;batu&#8217; itu dalam konteks Injil hari ini? Batu adalah pengalaman kasih Allah yang diwahyukan di dalam diri Yesus. <\/p>\n<p>Kalau kita cermati, ada orang-orang yang mempraktekkan Firman Allah hanya untuk mendapat kasih Allah. Tetapi dalam perspektif iman, kasih Allah itu tidak bisa diusahakan atau dibeli, Kasih Allah diterima secara cuma-cuma. Untuk itu, marilah kita mempraktekkan Firman Allah bukan untuk mendapat kasih sayang, tetapi untuk mengucapkan syukur dan berterimakasih atas kasih Allah yang telah kita terima secara gratis. Ini adalah fondasi yang baik, batu yang memberi keamanan bagi rumah kita. Keamanan sejati berasal dari kepastian cinta Tuhan. Itu adalah batu karang yang menopang kita di saat-saat sulit dan dalam badai.  Ini adalah arti sesungguhnya menjadi murid Kristus: mengucap syukur atas kasih dan penyelamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus. <\/p>\n<p>Saudari-saudara terkasih, mari kita dengan sungguh-sungguh, khususnya dalam masa adven ini, menantikan hadirnya Allah di tengah-tengah kita dalam diri Yesus, Sang Kasih dan Juru selamat! Amin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 6 Desember 2018 Mat 7:21,24-27 Bacaan injil hari ini mengingatkan kita akan arti menjadi murid Yesus yang sejati! Injil berisikan tentang akhir dari kotbah di bukit yang merupakan bacaan mengenai Hukum Allah. Ini dimulai dengan Ucapan Bahagia (Mat 5: 1-12) dan berakhir dengan perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas batu. Ide utama atau konteks dari bacaan ini adalah pencarian guna memperoleh kebijaksanaan sejati. Sumber kebijaksanaan sejati itu diyakini adalah Firman Tuhan yang dinyatakan dalam Hukum Tuhan. Maka, kebijaksanaan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8063\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8063","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8063"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8063\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8066,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8063\/revisions\/8066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}