{"id":8241,"date":"2019-01-30T12:02:26","date_gmt":"2019-01-30T20:02:26","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8241"},"modified":"2019-01-30T12:02:26","modified_gmt":"2019-01-30T20:02:26","slug":"berbagi-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8241","title":{"rendered":"Berbagi"},"content":{"rendered":"<p>Kamis pada Pekan ke-3 Masa Biasa<\/p>\n<p>31 Januari 2019.<\/p>\n<p>Peringatan St. Yohanes Bosko<\/p>\n<p>Mark 4:21-25<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Masyarakat zaman sekarang ditandai dengan mentalitas yang berorientasi uang dan semakin konsumtif. Semakin banyak orang percaya bahwa uang bisa menyelesaikan segala permasalahan dan dengan demikian, banyak orang bekerja sangat keras untuk mendapatkan uang. Seorang teman dari Filipina menceritakan bagaimana dia bisa bekerja 12 sampai 14 jam di kantornya setiap hari untuk mendapatkan cukup uang untuk menopang keluarganya. Dengan sistem perbankan dan kredit modern, masyarakat semakin tergiur untuk membeli bahkan sebelum mereka memiliki uang. Lebih buruk lagi, beberapa orang hanya tahu bagaimana menghabiskan uang tanpa tahu bagaimana cara untuk membayar utang mereka. Utang terus membengkak dalam jumlah tak terbayangkan dari sebelumnya, dan sebagai konsekuensinya, mereka yang sebenarnya tidak pernah meminjam uang harus membayar utang orang lain.<\/p>\n<p>Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina, masalah ekonomi terbesar adalah kemiskinan yang semakin memburuk. Sementara sebagian besar masyarakat bekerja sangat keras untuk mendapatkan upah yang minimum, sebagian kecil dari masyarakat menyedot uang orang miskin melalui korupsi besar-besaran. Semakin banyak orang jatuh ke dalam prostitusi, perdagangan manusia, perdagangan narkotika dan sindikat kejahatan, hanya untuk mengisi perut kosong mereka. Beberapa negara miskin lainnya menjadi lahan subur bagi terorisme, bukan karena ideologi tertentu, namun karena bayaran uang yang sungguh memikat.<\/p>\n<p>Masyarakat kita mungkin berada pada puncak fenomena konsumerisme dan mentalitas uang sebagai kebahagian, tetapi ini tidak berarti bahwa mentalitas ini hanya mempengaruhi masyarakat saat ini. Kembali ke zaman Yesus, kita bisa melihat mentalitas ini telah meracuni hati manusia.<\/p>\n<p>Yesus tahu bahwa mendapatkan dan mengumpulkan sesuatu bukanlah jawaban, tetapi terletak pada kemampuan kita untuk berbagi apa yang kita miliki dan juga berbagi\u00a0 hidup kita dengan orang lain. \u201cUkuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu\u2026\u201d<\/p>\n<p>Dengan demikian, masalah ekonomi yang mendasar yang sedang kita hadapi sekarang bukanlah tentang bagaimana mendapatkan uang, tetapi ketidakmampuan kita untuk berbagi. Saat kita menjadi terlalu egois dan melakukan apa saja untuk mengumpulkan kekayaan, orang-orang lemah lainnya akan terus menderita. Namun, kita tidak pernah putus asa, dan kita bisa belajar dari para kudus. Pada abad ketiga belas, St. Fransiskus dari Assisi menjual seluruh miliknya, dan hidup dalam kemiskinan sehingga ia bisa menjadi satu dengan orang-orang miskin. Ibu Teresa meninggalkan tanah asalnya dan memberikan diri untuk orang termiskin di Calcutta, India. St. Yohanes Bosco melihat kemiskinan yang disebabkan oleh industrilisasi dan urbanisasi di Italia, tidak bisa tinggal diam. Diapun memberikan dirinya sepenuhnya untuk orang miskin secara khusus anak-anak muda yang terkena dampak paling hebat dari kemiskinan. Semakin banyak orang mengikuti jejak mereka meskipun dengan cara yang unik dan beragam. Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik jika kita mau berbagi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis pada Pekan ke-3 Masa Biasa 31 Januari 2019. Peringatan St. Yohanes Bosko Mark 4:21-25 &nbsp; Masyarakat zaman sekarang ditandai dengan mentalitas yang berorientasi uang dan semakin konsumtif. Semakin banyak orang percaya bahwa uang bisa menyelesaikan segala permasalahan dan dengan demikian, banyak orang bekerja sangat keras untuk mendapatkan uang. Seorang teman dari Filipina menceritakan bagaimana dia bisa bekerja 12 sampai 14 jam di kantornya setiap hari untuk mendapatkan cukup uang untuk menopang keluarganya. Dengan sistem perbankan dan kredit modern, masyarakat&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8241\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8241","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8241","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8241"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8241\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8242,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8241\/revisions\/8242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8241"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8241"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8241"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}