{"id":8256,"date":"2019-02-06T11:00:50","date_gmt":"2019-02-06T19:00:50","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8256"},"modified":"2019-02-05T10:01:32","modified_gmt":"2019-02-05T18:01:32","slug":"bekerjasama-dengan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8256","title":{"rendered":"Bekerjasama dengan Allah"},"content":{"rendered":"<p>Kamis, 7 Februari 2019<\/p>\n<p>Hari Biasa IV<\/p>\n<p>Bacaan I Ibr 12: 18-19. 21-24<\/p>\n<p>Bacaan Injil Markus 6: 7-13<\/p>\n<p>Bekerjasama dengan Allah<\/p>\n<p>Mendalami Injil hari ini tentang perutusan dua belas murid, baru-baru ini saya mendapatkan pengalaman dari frater-frater projo Keuskupan Purwokerto. Mereka baru saja menjalani program peregrinasi, yakni berjalan kaki sejauh 300 km tanpa bekal; mereka harus meminta belas kasih jika hendak makan, minum, istirahat dan tidur. Peregrinasi adalah perjalanan iman yang memuat silih, harapan dan kemurnian panggilan para frater sehingga dari diri mereka tumbuh suatu sikap iman dan percaya sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi. Benar saja, pengalaman ditolak adalah kisah yang semakin mendewasakan mereka sekaligus mengokohkan cinta mereka pada Yesus. Mereka tak putus asa jika ditolak, justru terpancing untuk berusaha lebih keras lagi agar bisa makan, minum dan numpang di rumah orang. Berdoa adalah cara mereka untuk dapat bertahan dari segala kekecewaan pasca ditolak.<\/p>\n<p>Penyelenggaraan Ilahi, itulah garis besar yang patut kita renungkan. Tidak secara otomatis Penyelenggaraan Ilahi bernuansa kegembiraan, tetapi terkadang berwujud dalam situasi yang menuntut kita untuk \u201cberkeringat\u201d. Terhadap semua itu, kita diajak untuk tetap fokus pada tujuan semula, yakni percaya pada-Nya. Sebagaimana para murid: jika di suatu tempat diterima atau ditolak, mereka tetap harus berpindah tempat karena tujuan mereka adalah mewartakan kabar gembira di sebanyak mungkin tempat. Maka, yang patut kita miliki adalah sikap mampu mengontrol diri. Dengan mampu mengontrol diri, kita akan melenyapkan segala nafsu duniawi sehingga dengan jernih bisa merasakan kepenuhan Penyelenggaraan Ilahi. Allah bekerja bukan dengan cara kita, melainkan dengan metode Allah sendiri yang tak pernah bisa kita duga. Sekali lagi, satu poin yang harus kita miliki adalah tetap fokus dalam sikap percaya pada-Nya.<\/p>\n<p>Percaya kepada Allah bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Di situlah tantangan kita, hendaknya kepercayaan tidak menjadi kesadaran di permukaan, tetapi sungguh bisa kita hidupi secara efektif. Bagaimana dengan kita? Apakah saat kita melakukan tugas perutusan masih mengandalkan kepercayaan pada Allah? Ataukah kita cenderung sibuk dengan kepercayaan pada kemampuan diri kita sendiri tanpa perlu mempersilakan Allah bekerjasama?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 7 Februari 2019 Hari Biasa IV Bacaan I Ibr 12: 18-19. 21-24 Bacaan Injil Markus 6: 7-13 Bekerjasama dengan Allah Mendalami Injil hari ini tentang perutusan dua belas murid, baru-baru ini saya mendapatkan pengalaman dari frater-frater projo Keuskupan Purwokerto. Mereka baru saja menjalani program peregrinasi, yakni berjalan kaki sejauh 300 km tanpa bekal; mereka harus meminta belas kasih jika hendak makan, minum, istirahat dan tidur. Peregrinasi adalah perjalanan iman yang memuat silih, harapan dan kemurnian panggilan para frater sehingga&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8256\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8256","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8256","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8256"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8256\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8257,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8256\/revisions\/8257"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}