{"id":8296,"date":"2019-02-25T20:22:57","date_gmt":"2019-02-26T04:22:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8296"},"modified":"2019-02-27T06:48:30","modified_gmt":"2019-02-27T14:48:30","slug":"hidup-itu-butuh-perjuangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8296","title":{"rendered":"Hidup Itu Butuh Perjuangan"},"content":{"rendered":"<p>Selasa, 26 Februari 2019<\/p>\n<p>Bac. I : Sir. 2:1-11<\/p>\n<p>Bac. Injil : Mrk. 9:30-37<\/p>\n<p>Hidup Itu Butuh Perjuangan<\/p>\n<p>oleh Dn Rheza Pramudita<\/p>\n<p>\u201cHidup itu butuh perjuangan, Le. Kowe kudu tenanan yo\u201d, itu pesan yang diucapkan ibu saya kepada saya, sewaktu saya masuk ke Seminari Tahun Orientasi Rohani Jangli Semarang. Dalam hati saya berkata, \u201cemang sih ada benernya, tapi basi ah\u201d. Saya bisa bilang gitu karena saya sudah sering banget denger kata-kata macam itu. Sebelumnya, saya udah pernah denger pesan macam itu dari guru SD saya, bruder kepala sekolah saya, motivator UN SMA, dan Romo pamong saya di Seminari Mertoyudan. Saking seringnya denger, saya jadi bosen, menyepelekan dan gak mau merenungkan makna dibalik kata-kata itu. Apakah saudara-saudari juga pernah merasa demikian?<\/p>\n<p>Tetapi, sepertinya hari ini, saya diundang Tuhan untuk bertobat. Mengapa? karena ketika saya renungkan, bacaan-bacaan hari ini mengundang saya dan saudara untuk merenungkan pesan \u201chidup itu butuh perjuangan.\u201d Manusia berjuang dalam hidupnya karena setiap manusia memiliki keinginan untuk meraih sesuatu\/mimpi di dalam hidupnya. Tentu tidak mudah dalam berjuang meraih mimpi. Kita berjuang jatuh-bangun dalam suka dan duka serta dalam untung dan malang. Namun Tuhan melalui bacaan pertama, meneguhkan kita, sabda-Nya, \u201cJangan gelisah pada waktu malang. Berpautlah kepada Tuhan, jangan berpaling dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu.\u201d (Sir. 2:2-3). Kita disadarkan bahwa ketika kita berjuang di dalam kemalangan, kita harus berpaut, mendekatkan diri kita kepada Tuhan; memohon penyertaan Tuhan. Tuhan tidak akan meninggalkan kita, Ia selalu memperhatikan suara kita yang memohon kepada-Nya, Ia menyelamatkan kita di waktu kemalangan (bdk. Sir. 2:11).<\/p>\n<p>Bacaan Injil memperlihatkan kepada kita bahwa berada dekat dengan Yesus saja tidak cukup, karena, seperti para murid, seringkali kita dekat dengan Yesus tetapi tidak menghiraukan-Nya, tidak mendengarkan sabda-Nya. Kita justru sibuk dengan agenda pribadi kita. Contoh, ketika ada masalah, terkadang kita terburu-buru ingin segera menyelesaikannya dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Kita ingin masalah ini cepat selesai, segera berbuat sesuatu, lupa berdoa. Kita lupa untuk mendahulukan Tuhan dalam setiap tindakan atau keputusan kita. Akibatnya, kita tidak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita (Mrk. 9:32). Maka, marilah kita juga berjuang untuk mendahulukan Tuhan di dalam setiap tindakan kita agar apa yang kita perjuangkan selaras dengan kehendak Tuhan.<\/p>\n<p>Memang benar bahwa hidup itu butuh perjuangan. Namun, perjuangan kita tidak akan sia-sia ketika kita mau berpaut kepada Tuhan dan mendahulukan Tuhan dalam segala perjuangan kita. Semoga Tuhan memberkati.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 26 Februari 2019 Bac. I : Sir. 2:1-11 Bac. Injil : Mrk. 9:30-37 Hidup Itu Butuh Perjuangan oleh Dn Rheza Pramudita \u201cHidup itu butuh perjuangan, Le. Kowe kudu tenanan yo\u201d, itu pesan yang diucapkan ibu saya kepada saya, sewaktu saya masuk ke Seminari Tahun Orientasi Rohani Jangli Semarang. Dalam hati saya berkata, \u201cemang sih ada benernya, tapi basi ah\u201d. Saya bisa bilang gitu karena saya sudah sering banget denger kata-kata macam itu. Sebelumnya, saya udah pernah denger pesan macam&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8296\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8296","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8296","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8296"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8296\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8301,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8296\/revisions\/8301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}