{"id":8360,"date":"2019-03-25T16:48:57","date_gmt":"2019-03-25T23:48:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8360"},"modified":"2019-03-25T16:48:57","modified_gmt":"2019-03-25T23:48:57","slug":"diampuni-untuk-mengampuni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8360","title":{"rendered":"DIAMPUNI UNTUK MENGAMPUNI"},"content":{"rendered":"<p>Selasa Pekan Biasa ke III Prapaskah<br \/>\n<em>26 Maret 2019<\/em><\/p>\n<p>Reinhold Niebuhr pernah berkata, \u201cMemaafkan adalah bentuk akhir dari cinta.&#8221;  Karl Paul Reinhold Niebuhr (21 Juni 1892 \u2013 11 Juni 1971) adalah seorang teolog Protestan asal Amerika Serikat yang terkenal karena penelitiannya mengenai tugas dalam menghubungkan iman Kristen dengan realitas politik modern dan diplomasi. Dia beranggapan bahwa sebenarnya orang yang memiliki cinta kasih tulus akan mampu memaafkan atas kesalahan yang dibuat orang lain terhadapnya. Meskipun hal ini tidak mudah dilakukan, tapi menurutnya jika kita memiliki rasa cinta di hati, memaafkan bisa dilakukan dengan ikhlas.<\/p>\n<p>Saudari-saudaraku terkasih, saya berpendapat bahwa semangat yang dimiliki oleh Reinhold Niebuhr sejalan dengan kisah injil yang kita dengar hari ini. Injil mengisahkan seorang hamba yang dihadapkan kepada seorang raja dikarenakan ia memiliki hutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya sebagai pembayar hutangnya. Tetapi sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya, &#8220;Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.&#8221; Maka tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.<\/p>\n<p>Belas kasihan dan kebaikan raja yang didapatkan hamba tersebut ternyata tidak menyadarkan dan menumbuhkan kasih dalam dirinya. Hal itu terbukti ketika ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Sebagai informasi dan ilustrasi bahwa 1 talenta = 6000 dinar. Hutang hamba terhadap raja = 10.000 talenta = 10.000 x 6.000 dinar = 60.000.000 dinar. Sedangkan orang yang berhutang pada hamba itu hanya 100 dinar. <\/p>\n<p>Pengampunan bukanlah tindakan sesekali dan sekali saja, pengampunan adalah sikap yang konstan yang terus menerus. Demikian maksud Yesus dengan mengatakan &#8220;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.&#8221; Tentu ini bukan perkara yang gampang. Namun, itulah yang dilakukan Tuhan kepada kita. Dia terus mengampuni kita meski kita sering berbuat salah. <\/p>\n<p>Oleh karena itu saudari-saudaraku terkasih, jika hari ini ada seseorang yang membutuhkan pengampunan kita, ampunilah dia. Jika kita tidak sanggup, berdoalah dan mintalah Roh Kudus untuk memampukan kita. Sebab saat kita mengampuni orang lain, sesungguhnya kita pun dipulihkan oleh Tuhan.  Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, &#8220;Adakah orang yang masih belum saya ampuni?&#8221; <\/p>\n<p>Tuhan memberkati!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa Pekan Biasa ke III Prapaskah 26 Maret 2019 Reinhold Niebuhr pernah berkata, \u201cMemaafkan adalah bentuk akhir dari cinta.&#8221; Karl Paul Reinhold Niebuhr (21 Juni 1892 \u2013 11 Juni 1971) adalah seorang teolog Protestan asal Amerika Serikat yang terkenal karena penelitiannya mengenai tugas dalam menghubungkan iman Kristen dengan realitas politik modern dan diplomasi. Dia beranggapan bahwa sebenarnya orang yang memiliki cinta kasih tulus akan mampu memaafkan atas kesalahan yang dibuat orang lain terhadapnya. Meskipun hal ini tidak mudah dilakukan, tapi&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8360\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8360","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8360"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8361,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8360\/revisions\/8361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}