{"id":8524,"date":"2019-05-20T14:37:11","date_gmt":"2019-05-20T21:37:11","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8524"},"modified":"2019-05-20T14:37:11","modified_gmt":"2019-05-20T21:37:11","slug":"damai-sejahtera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8524","title":{"rendered":"Damai Sejahtera"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Selasa dalam Pekan Paskah kelima<\/p>\n\n\n\n<p>21 Mei 2019<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes 14:27-31<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam Kitab Suci, kata Shalom berarti damai. Tetapi Yesus\nmenekankan bahwa shalomnya berbeda dengan damai yang diberikan dunia. Shalom\ntidaknya hanya ketenangan yang terlahir dari hilangnya permasalahan, konflik\natau permusuhan. Shalom adalah semua hal yang membuat hidup kita lebih baik.\nJadi sering kali kata Shalom diterjemahkan dengan kata \u201cdamai sejahtera\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Damai yang tawarkan dunia adalah damai yang semua karena ini\nadalah damai pelarian. Saat terjadi masalah, kita sekedar tutup mata\nseolah-olah tidak pernah ada, atau kita lari dari tanggung jawab. Kadang-kadang\nkita sebagai orang tua mengajarkan anak-anak kita untuk lari dari tantangan\nhidup. Saat ada pekejaan rumah dari sekolah yang sulit, kita yang mengerjakan dan\nmenyelesaikan tugas tersebut. Sang anak merasa \u201cdamai\u201d, tetapi ia tidak belajar\ndan berkembang. Saat ada masalah, kita bisa saja mencari \u201cdamai\u201d yang\nditawarkan dunia seperti dugem, narkotika, dan bergaulan bebas. Ada juga yang\nmembuat Gereja dan pelayanan sebagai tempat mencari \u201cdamai\u201d. Saat ada masalah\ndi rumah, kita lebih menghabiskan waktu di Gereja. <\/p>\n\n\n\n<p>Kedamaian yang ditawarkan dunia ini semu dan tidak\nmenyelesaikan masalah, bahkan menambah masalah. Shalom yang diberikan Yesus\nadalah sesuatu yang berbeda: bukan damai pelarian, tetapi damai keberanian.\nYesus sendiri menjadi bukti hidup tentangan shalom ini. Setelah perjamuan\nterakhir, Dia akan menghadapi dikhianati, disiksa dan disalib, tetapi Dia tidak\nlari. Dia menyerahkan semuanya kepada Bapa dan menghadapi semua dengan\nkeberanian. Karena Dia setia sampai akhir, keselamatan kita menjadi sebuah\nkenyataan. Ini adalah damai yang terlahir bukan karena Yesus menyangkal tetapi\nmenerima realitas kehidupan. <\/p>\n\n\n\n<p>Ada perbedaan antara orang baik dan orang benar. Orang baik\ningin \u201cdamai\u201d dalam hidupnya dan menghindari konflik sehingga terkadang menutup\nmata atas permasalahan dan kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Semantara\norang benar adalah orang yang berani menyatakan benar pada hal yang benar, dan\nsalah pada hal yang salah walaupun pernyataannya bisa menimbulkan konflik.\nOrang benar membawa damai sejati. Yesus adalah orang yang benar karena Dia\nadalah kebenaran itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Deakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa dalam Pekan Paskah kelima 21 Mei 2019 Yohanes 14:27-31 Di dalam Kitab Suci, kata Shalom berarti damai. Tetapi Yesus menekankan bahwa shalomnya berbeda dengan damai yang diberikan dunia. Shalom tidaknya hanya ketenangan yang terlahir dari hilangnya permasalahan, konflik atau permusuhan. Shalom adalah semua hal yang membuat hidup kita lebih baik. Jadi sering kali kata Shalom diterjemahkan dengan kata \u201cdamai sejahtera\u201d. Damai yang tawarkan dunia adalah damai yang semua karena ini adalah damai pelarian. Saat terjadi masalah, kita sekedar tutup&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8524\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8524","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8524"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8524\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8525,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8524\/revisions\/8525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}