{"id":8554,"date":"2019-05-24T16:20:13","date_gmt":"2019-05-24T23:20:13","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8554"},"modified":"2019-05-24T16:20:13","modified_gmt":"2019-05-24T23:20:13","slug":"be-heroic%ef%bb%bf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8554","title":{"rendered":"Be Heroic!\ufeff"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><br><\/strong>Sabtu pada Pekan Paskah kelima<\/p>\n\n\n\n<p>25 Mei 2019<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes 15:18-21<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Santo\nIgnatius Loyola memulihkan cedera\nlututnya yang ia\ndapatkan di pertempuran Pamplona, \u200b\u200bia luang waktu untuk membaca kehidupan Yesus, serta orang-orang kudus yang berani,\nseperti Santo Fransiskus dan Dominikus. Saat ia merenungkan perbuatan dan\nkata-kata mereka, ia menemukan tahap awal spiritualitasnya. Dari saat itu, kasih\nkarunia Allah mulai merevolusi hidupnya, dan dia secara radikal bergeser dari usahanya untuk mengapai\nkemuliaannya\nsendiri, menjadi bagi\nkemuliaan Allah. Tak lama kemudian, bersama-sama dengan teman-temannya pertama,\nia membentuk Serikat Yesus, dikenal sebagai Yesuit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah St.\nIgnatius dan banyak orang kudus menjadi inspirasi bagi kita semua. Para pria\ndan wanita kudus ini menanggapi\najakan Yesus\nuntuk meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya di jalan yang radikal. Banyak\nyang menjadi martir\nkarena kasih mereka\nuntuk Yesus. Yang lainnya benar-benar meninggalkan semua yang mereka\nmiliki, dan berkomitmen untuk melayani\nsesama.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, mengapa\nmereka cukup gila\nuntuk mengindahkan panggilan yang sulit\nini? Ini kembali pada\nparadox pencarian kita untuk kebahagiaan sejati. Untuk mencapai\nkebahagiaan ini, kita perlu untuk meninggalkan pencarian untuk kemuliaan kita\nsendiri, dan membuat perubahan hati yang mendalam kepada Allah dan untuk\nkemuliaan-Nya. Tentunya, hal ini tidak mudah. Dunia memberikan kenyamanan yang akan memenuhi\nkebutuhan dasar manusia\ndengan segera:\nkenikmatan jasmaniah, kepuasan emosional dan kebanggaan diri. Tapi,\nkebahagiaan sejati tidak tinggal di sini, dan kita dipanggil untuk melampaui hal-hal ini,\nmemilih Yesus dan mengikuti-Nya. Dalam kata-kata Joseph Ratzinger, yang\nkemudian menjadi Paus Benediktus XVI, dunia memberikan kita banyak kenyamanan,\ntapi kita tidak diciptakan untuk\nkenyamanan ini, kita\ndiciptakan untuk sebuah kemuliaan. Kita\ngagal untuk hidup saat\nkita hanya memilih hal-hal duniawi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Paradoks terus berlanjut, bahwa kita perlu\n\u2013 dalam kata-kata\nMeister Eckhart, seorang\nmistik Dominikan dari Jerman \u2013 membiarkan Allah menjadi Allah di dalam kita, dan kita menemukan\nbahwa kita menjadi benar-benar hidup. Saat kita memilih opsi heroik di dalam\nhidup, kita pasti bertemu jalan berbatu, dan bahkan menemukan diri kita hilang,\ngagal dan frustrasi,\ndan bahkan dibenci dunia. Namun, kita tidak boleh mudah menyerah, karena\nsaat-saat kegelapan ini adalah bagian dari perjalanan pulang kita. Father\nTimothy Radcliffe, OP berpendapat bahwa kadang-kadang, kita harus tersesat dan hilang, agar\nkita dapat ditemukan lagi, penuh kesegaran dan\nhidup. Saat kita berjalan\ndi jalan salib, kita secara bertahap menemukan makna hidup yang\nbaru, menemukan kemungkinan segar untuk mencintai, dan membuka kepenuhan hidup.\nKetika kita sepenuhnya menjalani hidup kita, kita benar-benar mampu untuk\nmemuliakan Tuhan. Sebagai St. Irenaeus dari Lyon menulis, <em>\u201cKemuliaan Allah adalah manusia yang benar-benar hidup!\u201d<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Diakon Valentinus\nBayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu pada Pekan Paskah kelima 25 Mei 2019 Yohanes 15:18-21 Ketika Santo Ignatius Loyola memulihkan cedera lututnya yang ia dapatkan di pertempuran Pamplona, \u200b\u200bia luang waktu untuk membaca kehidupan Yesus, serta orang-orang kudus yang berani, seperti Santo Fransiskus dan Dominikus. Saat ia merenungkan perbuatan dan kata-kata mereka, ia menemukan tahap awal spiritualitasnya. Dari saat itu, kasih karunia Allah mulai merevolusi hidupnya, dan dia secara radikal bergeser dari usahanya untuk mengapai kemuliaannya sendiri, menjadi bagi kemuliaan Allah. Tak lama kemudian, bersama-sama&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8554\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8554","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8554","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8554"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8554\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8555,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8554\/revisions\/8555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8554"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8554"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8554"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}