{"id":8613,"date":"2019-06-18T17:53:44","date_gmt":"2019-06-19T00:53:44","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8613"},"modified":"2019-06-18T17:53:44","modified_gmt":"2019-06-19T00:53:44","slug":"memberi-dengan-sembunyi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8613","title":{"rendered":"Memberi dengan Sembunyi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Matius 6:\n1-6.16-18<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Rabu, 19\nJuni 2019<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Biasa\nPekan XI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Oleh: Rm.\nDjoko S Prakosa, Pr, Rektor Seminari Tinggi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kentungan, Yogyakarta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Bersandiwara\ndemi suatu tontonan dan pujian.<\/strong> Dalam bacaan Injil hari ini, Kristus menghadirkan\ntantangan yang sulit dan sekaligus penghiburan besar: \u201cIngatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orangsupaya\ndilihat mereka,karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu\nyang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau\nmencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah\nibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu:\nSesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah,\njanganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah\nsedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang\ntersembunyi akan membalasnya kepadamu.\u201d Ajaran-Nya dapat disimpulkan dengan ungkapan sederhana: <em>\u201cLakukanlah segala sesuatu bukan untuk\nditonton dan dipuji orang.\u201d<\/em> Kebutuhan diri untuk dilihat dan dipuji orang\nlain adalah godaan yang merongrong tindakan kasih dan merusak ketulusan hati\nserta menghancurkan relasi kita dengan Allah.<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">Tantangannya jelas: <em>\u201ckita diajak untuk bertindak di hadapan Allah dengan niat yang murni.\u201d<\/em> Penghiburannya juga jelas, \u201cBapa surgawi kita \u201cmelihat secara tersembunyi.\u201d <\/pre>\n\n\n\n<p>Suatu saat ada penyiar teve yang tampil meyakinkan. Ia\nber-stelan dasi dan jas, ia menyampaikan berita dengan mantap. Siapa sangka\nbahwa sebenarnya ia memakai baju, dasi, dan jas pinjaman dan hanya bercelana\npendek. Ia ternyata salah seorang teknisi teve yang terpaksa menggantikan\npenyiar yang jatuh sakit. <\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan Yesus memberi peringatan keras terhadap \u201ctampilan\nkesalehan\u201d yang seakan-akan kelihatan \u201cbaik\u201d mirip seperti kisah tadi. Ia tidak\ningin tindakan dan perilaku para murid-Nya hanya untuk menimbulkan kesan\npositif orang banyak,&nbsp; padahal keadaan\nhidup sebenarnya lain (baca: munafik) dan tidak sungguh terarah ke Tuhan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Antara\nAnda dan Tuhan.<\/strong> Bunda Teresa\nmenggemakan ajaran Injil dalam sebuah puisi singkat berjudul <\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8220;Antara\nAnda dan Tuhan.&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda berjumpa orang yang pikirannya\ntidak masuk akal, tidak logis, dan egois.<\/p>\n\n\n\n<p>Maafkan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda baik, orang mungkin\nmenuduh Anda mementingkan diri sendiri, dan mempunyai motif tersembunyi,<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah bersikap baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda berhasil, <\/p>\n\n\n\n<p>Anda akan memenangkan beberapa teman\npalsu <\/p>\n\n\n\n<p>dan beberapa musuh sejati<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah berhasil.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda jujur dan terus terang,\norang mungkin menipu Anda.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah Jujur dan berterus terang.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang Anda habiskan\nbertahun-tahun untuk membangun, seseorang mungkin menghancurkannya dalam\nsemalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah membangun.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda menemukan ketenangan dan\nkebahagiaan, <\/p>\n\n\n\n<p>mungkin orang lain akan iri.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebaikan yang Anda lakukan hari ini,\norang akan sering lupa pada besok harinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetaplah berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikan dunia yang terbaik yang Anda\nmiliki, dan itu mungkin tidak pernah cukup.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikanlah yang terbaik yang Anda\nmiliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena dalam analisia terakhir, <\/p>\n\n\n\n<p>semua ini adalah antara Anda dan\nTuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini sama sekali tak ada kaitannya antara\nkamu dan mereka.<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">Bunda Teresa mengajak kita untuk terus berjuang mengibarkan bendera kebaikan kepada orang lain, apa pun tanggapan mereka. Yang penting adalah bahwa segala sesuatu dilakukan atas dasar Allah yang mencintai kita dan kita ingin memuliakan nama-Nya serta berbagi cinta-Nya tanpa pamrih. Hari ini Tuhan mengingatkan kita akan arti pentingnya \u201cketulusan dan kemurnian hati\u201d dalam bertindak dan berperilaku. Ketulusan dan kemurnian hati akan menjauhkan kita dari pencarian kemuliaan yang mementingkan diri sendiri - keasyikan dengan berpenampilan baik dan mencari pujian dari orang lain. <\/pre>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">Kesalehan sejati adalah sesuatu yang lebih dari sekadar merasa baik atau terlihat suci. Kesalehan sejati adalah pengabdian yang penuh dengan ketulusan kepada Tuhan. Kesalehan sejati adalah sikap kagum, hormat, dan menyembah hanya untuk Allah. Kesalehan sejati adalah karunia dan karya Roh Kudus yang memungkinkan kita untuk mengabdikan hidup kita kepada Allah dengan keinginan suci untuk menyenangkan Dia dalam segala hal (Yesaya 11: 1-2). Ini semua adalah masalah relasi kita dengan Allah yang kita muliakan dan memuliakan kita.<\/pre>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 6: 1-6.16-18 Rabu, 19 Juni 2019 Hari Biasa Pekan XI Oleh: Rm. Djoko S Prakosa, Pr, Rektor Seminari Tinggi &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kentungan, Yogyakarta 1. Bersandiwara demi suatu tontonan dan pujian. Dalam bacaan Injil hari ini, Kristus menghadirkan tantangan yang sulit dan sekaligus penghiburan besar: \u201cIngatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orangsupaya dilihat mereka,karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8613\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8613","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8613","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8613"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8613\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8614,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8613\/revisions\/8614"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8613"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8613"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8613"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}