{"id":8615,"date":"2019-06-19T20:32:15","date_gmt":"2019-06-20T03:32:15","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8615"},"modified":"2019-06-19T20:32:15","modified_gmt":"2019-06-20T03:32:15","slug":"berdoa-sederhana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8615","title":{"rendered":"Berdoa Sederhana"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Matius 6:\n7-15<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kamis, 20\nJuni 2019<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Biasa\nPekan XI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Oleh Rm. Djoko\nS. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kentungan,\nYogyakarta <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Doa\nadalah ibadah jiwa, bukan ibadah mulut.<\/strong> Dalam kotbah di bukit Yesus\nmengajar tentang doa dan bagaimana berdoa : \u201cLagipula dalam doamu itu janganlah kamu\nbertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka\nmenyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi\njanganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,\nsebelum kamu minta kepada-Nya.\u201d Ia menegaskan bahwa kekuatan doa tidak terletak pada banyaknya\nkata-kata. Lantunan doa yang panjang dan yang bertele-tele bisa menjadi\ndoa yang membosankan dan kering dan akibatnya kehilangan maknanya. Yesus\nmengkritik praktek doa yang mejadi ajang pamer aneka perasaan dan permintaan. Yesus\nmengkritik praktek doa ini karena mereka menyangka bahwa Allah sama dengan diri\nmereka, sehingga membutuhkan banyak kata agar bisa memahami apa yang\ndisampaikan kepada-Nya atau supaya dapat membuat-Nya menuruti permintaan\nmereka. Ia tidak melarang doa yang panjang. Ia mengkritik praktek doa yang\nmenjadi ibadah mulut ketimbang ibadah jiwa. Doa bukan kerja mulut.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain Yesus memberi peneguhan\ndan mendorong kita, para murid-Nya, untuk terus-menerus mengarahkan diri kepada\nBapa. Bapa\nadalah sosok Pribadi yang mengetahui persoalan dan keperluan kita, lebih baik\ndaripada diri kita sendiri. Dia\nmengetahui apa yang kita perlukan.Tetapi mengapa jika Bapa kita sudah\nmengetahui kebutuhan kita, kita harus menyampaikannya dalam doa? Karena ketika\nkita berdoa, Bapa sedang membentuk hati dan jiwa kita sehingga kita akan siap\nuntuk menerima hal-hal baik yang Dia berikan dan kita perlukan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. \u201cJanganlah\nmasukkan kami ke dalam pencobaan\u201d atau \u201cjanganlah membiarkan kami jatuh ke\ndalam pencobaan&#8221;.<\/strong> Belum lama\nini bahwa Paus Fransiskus telah menyetujui perubahan pada beberapa kata dalam\nDoa Bapa Kami. Menurut beliau ada \u201cterjemahan yang cacat\u201d, yang tidak sesuai\ndengan teks aslinya yang berbahasa Yunani. Dua tahun yang lalu beliau menyatakan\nsikap tidak setuju terhadap frasa &#8216;Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan&#8217;.\nRumusan ini menyiratkan bahwa Allah, dan bukan Setan, yang menuntun orang ke\ndalam pencobaan. Perubahan pun terjadi dan frasa itu sekarang ini berubah\nmenjadi &#8220;janganlah membiarkan kami jatuh ke dalam pencobaan&#8221;. Sampai\nsaat ini doa yang sudah diperbaharui ini berlaku di Italia. Kita belum tahu\nkapan doa ini akan diberlakukan secara universal.<\/p>\n\n\n\n<p>Paus Fransiskus mengajak kita untuk\nmenyadari bahwa <em>Allah tidak pernah menuntun\nkita ke dalam pencobaan<\/em>. <em>Allah tidak\nmenggoda dan menjerumuskan kita<\/em>. Gagasan ini sesuai dengan Surat Yakobus yang\nsecara jelas menegaskan bahwa, \u201cApabila seorang dicobai, janganlah ia berkata:\n\u201cPencobaan ini datang dari Allah!\u201d Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang\njahat, dan Ia sendiri tidak akan mencobai siapa pun.\u201d (Yak 1: 13). Yang dilakukan\ndan diinginkan Allah adalah menguatkan kita ketika kita dicobai oleh kejahatan.\nPemahaman tentang Allah ini terungkap dalam doa Yesus bagi para murid-Nya: \u201cAku\ntidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau\nmelindungi mereka dari pada yang jahat\u201d (Yoh 17: 15). <\/p>\n\n\n\n<p>Kita sangat membutuhkan Tuhan untuk\nmelindungi kita dari si jahat, dan untuk menguatkan kita ketika kesetiaan kita\npada jalan-Nya diuji. Bagaimana sikap kita terhadap perubahan frasa atau\nrumusan itu?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUngkapan &#8220;Bapa Kami&#8221; <\/p>\n\n\n\n<p>tidak memiliki jejak rutinitas atau\npengulangan belaka. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya, ungkapan ini mengandung\nperasaan yang hidup, pengalaman, dan keaslian. Dengan dua kata, \u201cBapa Kami\u201d, Ia\ntahu bagaimana caranya menghidupi doa dan bagaimana berdoa yang hidup. Yesus\nmengundang kita untuk melakukan hal yang sama. &#8220;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8211; Paus Fransiskus-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 6: 7-15 Kamis, 20 Juni 2019 Hari Biasa Pekan XI Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta 1. Doa adalah ibadah jiwa, bukan ibadah mulut. Dalam kotbah di bukit Yesus mengajar tentang doa dan bagaimana berdoa : \u201cLagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8615\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8615","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8615","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8615"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8616,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8615\/revisions\/8616"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}