{"id":8618,"date":"2019-06-20T22:34:26","date_gmt":"2019-06-21T05:34:26","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8618"},"modified":"2019-06-20T22:34:26","modified_gmt":"2019-06-21T05:34:26","slug":"pw-st-aloisius-gonzaga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8618","title":{"rendered":"PW. St. Aloisius Gonzaga."},"content":{"rendered":"\n<p>Matius 6: 19-23<\/p>\n\n\n\n<p>Jumat, 21 Juni 2019<\/p>\n\n\n\n<p> <br>Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi <\/p>\n\n\n\n<p>1. Investasi Harta Surgawi. Harta karun seringkali membuat hati manusia terpikat karena janji dan bayangan kebahagiaan dan keamanan saat memilikinya. Persoalannya adalah harta karun macam apakah yang semestinya digenggam dalam kehidupan ini? Yesus membandingkan dua jenis harta yang sangat berbeda &#8211; harta duniawi dan harta surgawi. Ia mendesak murid-murid-Nya untuk berinvestasi pada harta surgawi yang abadi. Harta surgawi itu bebas dari masalah turun naiknya nilai tukar mata uang, bebas dari kekhawatiran hilang dan pencurian. Harta itu bebas dari korupsi. Yesus mengingatkan kita bahwa kedua harta karun itu ada di hadapan kita dan kita diajak untuk menentukan pilihan. Ia memberikan nasihat yang baik dan menarik: \u201cJanganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.\u201d Ia mendesak para pengikut-Nya untuk membuat pilihan hidup. Ia menyarakan agar para murid memilih harta surgawi-harta yang kekal, dan bukan harta duniawi-harta yang bersifat sementara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita diajak untuk mengisi dan menghargai hidup kita berdasarkan kasih dan perhatian-Nya, bukan berdasarkan apa yang kita makan, kita pakai, dan kita miliki Harta dunia harus ditempatkan sebagai sarana dan alat. Jika tidak, ia akan &#8220;melonjak&#8221; menjadi tuan, dan kedudukan kita sebagai anak Allah akan di-&#8220;kudeta&#8221;nya menjadi budak harta kekayaan. Makanan, pakaian, tempat tinggal, dan harta adalah penunjang kehidupan. Ada pepatah Spanyol: &#8220;Tidak ada kantong di kain kafan.&#8221; Tidak ada yang kita bawa pada saat kematian.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Mungkinkah Harta Surgawi tanpa Kristus? Harta surgawi yang ditawarkan Yesus tidak akan pernah mengkhianati kita. Harta itu setia menemani kita melalui kubur dan melintasi ambang menuju kehidupan kekal. Harta apa itu? Itu adalah Pribadi Kristus sendiri dan semua tindakan baik yang kita lakukan untuk kepentingan-Nya. Ia adalah sumber dan pemberi setiap karunia dan berkat yang baik dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, hidup mesti terarah untuk Kristus, mencintai Dia di atas segalanya. Ia menawarkan harta sukacita dan persahabatan yang tak berkesudahan dengan diri-Nya sendiri dan dengan semua orang yang bersatu dengan-Nya di kerajaan surgawi-Nya. Harta ini akan membenamkan kita dalam sukacita yang selalu baru. &#8220;Karena di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada.&#8221; Yesus Kristus adalah harta terbesar dan terbaik bagi para murid. Charles Spurgeon pernah menulis: \u201cOh, bagaimana mungkin memikirkan surga tanpa Kristus! Itu sama dengan memikirkan neraka. Surga tanpa Kristus! Ini adalah hari tanpa matahari, ada tanpa kehidupan, berpesta tanpa makanan, melihat tanpa cahaya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>3. &#8220;Mata adalah pelita tubuh&#8221;. Kristus mengajarkan tentang mata sebagai pelita tubuh: \u201cMata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.\u201d Apa kaitannya dengan nasihat-Nya untuk memilih harta surgawi? Mata menjadi gambaran niat yang ada di balik tindakan kita. Kristus menasihati kita untuk membangun sikap hidup seperti anak kecil, bahkan dalam cara kita melihat peristiwa dan orang lain. Jika kita melihat Kristus dalam diri orang lain, maka teranglah seluruh tubuh kita. Jika kita dapat merasakan tangan Tuhan yang penuh kasih di balik segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, maka teranglah seluruh tubuh kita. Jika semua yang kita lakukan dilakukan karena<\/p>\n\n\n\n<p>kasih kepada Kristus, Sang Harta Surgawi, maka seluruh tubuh kita akan dibanjiri oleh terang-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu Teresa pernah menulis: \u201cSaya melihat Yesus di dalam setiap manusia. Saya berkata pada diri saya sendiri, ini adalah Yesus yang lapar, saya harus memberinya makan. Ini adalah Yesus yang sakit. Yang ini kusta atau gangren (cat: luka infeksi kronis); Saya harus mencuci dia dan merawatnya. Saya melayani karena saya mencintai Yesus.&#8221; Yesus adalah terang dunia yang memampukan kita beraksi dan melihat melihat wajah-Nya dalam diri orang lain. Dia adalah satu-satunya sumber terang yang dapat mengatasi kegelapan dosa dan tipu daya Setan.<\/p>\n\n\n\n<p>Prasangka, kesombongan, dan dosa kecemburuan dapat membutakan kita terhadap jalan kebenaran dan cinta. Prasangka dan kesombongan diri menghancurkan dan membutakan kita terhadap sesuatu yang baik yang ada dalam diri orang lain. Kecemburuan membuat kita tidak percaya pada orang lain dan menjadikan mereka sebagai musuh daripada teman. Apakah Anda menjalani hidup Anda dalam terang kebenaran Allah?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 6: 19-23 Jumat, 21 Juni 2019 Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi 1. Investasi Harta Surgawi. Harta karun seringkali membuat hati manusia terpikat karena janji dan bayangan kebahagiaan dan keamanan saat memilikinya. Persoalannya adalah harta karun macam apakah yang semestinya digenggam dalam kehidupan ini? Yesus membandingkan dua jenis harta yang sangat berbeda &#8211; harta duniawi dan harta surgawi. Ia mendesak murid-murid-Nya untuk berinvestasi pada harta surgawi yang abadi. Harta surgawi itu bebas dari masalah turun naiknya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8618\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8618","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8618"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8618\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8620,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8618\/revisions\/8620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}