{"id":8713,"date":"2019-07-26T12:50:19","date_gmt":"2019-07-26T19:50:19","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8713"},"modified":"2019-07-24T15:51:35","modified_gmt":"2019-07-24T22:51:35","slug":"allah-menyelamatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8713","title":{"rendered":"ALLAH MENYELAMATKAN"},"content":{"rendered":"\n<p> HARI SABTU DALAM PEKAN KE 16<\/p>\n\n\n\n<p>MASA BIASA &#8211; 27 July 2019<br>Keluaran 24:3-8Matius 13:24-30<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudariku terkasih,<br>Pada hakekatnya kita bisa mengidentifikasikan diri dengan bangsa Israel dalam bacaan pertama hari ini. Pasti mereka sanggup mengikuti\/mendengarkan perintah Allah dan sanggup melakukan segala perintah Allah. Bagaimanapun juga, itu adalah perjanjian yang dibuat dengan dan dalam darah Tuhan. Sekalipun kita tidak setia, Allah tetap setia.<br>Bacaan Injil hari inipun menegaskan kelemahan kita sebagai manusia. Beberapa ayat dari bacaan Injil hari inipun, Yesus menginterpretasi rumput liar sebagai anak-anak si jahat (Matius 13:38-39). Di dalam buku Katekismus pun menjelaskan bahwa: &#8220;Semua anggota Gereja, termasuk para pelayanNya, harus menyadari bahwa kita semua adalah orang berdosa. Setiap orang tanpa kecuali adalah benih lalang diantara gandum yang terus bertumbuh sampai akhir zaman.<br>Saudara-saudari terkasih,<br>Kita suka atau tidak, setuju atau tidak dengan interpretasi itu, kita perlu sadar dan menerima kenyataan bahwa yang baik dan yang jahat, kebajikan dan perbuatan jahat masih sering tercampur baur; dengan kata lain masih terus membauri hidup kita. Selama kita masih berjalan bersama sebagai murid-murid Yesus, dengan bantuan rahmat Allah, kita boleh dibilang mempunyai hari-hari baik terlebih ketika kita masih bisa sabar kepada keluarga, teman-teman dan rekan kerja, dan juga bermurah hati kepada orang lain baik dalam waktu maupun dalam kebutuhan finansial. Tetapi bukan tidak mungkin kita juga mempunyai hari-hari yang tidak baik, baik disadari atau tidak bisa saja menelusupi hidup keseharian kita, dimana kita bisa saja menjadi tidak sabar, cemburu, dendam dan marah &#8211; dengan demikian kejahatan bisa saja akan selalu membayangi hidup kita.<br>Tetapi perlu juga kita ketahui, bahwa dalam keadaan seperti ini masih ada harapan oleh adanya Kabar Gembira. Kita bisa aman kalau kita selalu bisa tak henti-hentinya menimba kesabaran Allah dan secara rational mampu mengatasinya. Meskipun kegagalan bangsa Israel, Alah tetap menyelamatkan. Demikian pula, meskipun kita gagal mentaati perintah Allah, Allah tetap setia dan menyelamatkan. Dan Allah tetap menghargai benih kebaikan dalam diri kita yang telah terpelihara, karena Allah telah menyatakan betapa besar kesabaranNya dan yang selalu memberi kita kesempatan untuk bertobat dan melakukan transformasi sampai akhir kehidupan kita.<br>Dengan demikian saudara-saudariku terkasih, selama kita masih bisa memelihara benih-benih yang baik dalam kehidupan ini, kita berdoa semoga kita terus menerus menaruh kepercayaan &nbsp;kepada Kristus, tuan kebun yang baik, dan ambil kesempatan untuk menimba rahmat Allah melalui pertobatan, doa dan perayaan Ekaristi. Serahkan semua benih-benih kita yang baik kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan memelihara dan menolong kita sampai saat panen, ketika ia kembali mengumpulkan kita untuk hidup berbahagia bersamaNya. Amin.\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HARI SABTU DALAM PEKAN KE 16 MASA BIASA &#8211; 27 July 2019Keluaran 24:3-8Matius 13:24-30 Saudara-saudariku terkasih,Pada hakekatnya kita bisa mengidentifikasikan diri dengan bangsa Israel dalam bacaan pertama hari ini. Pasti mereka sanggup mengikuti\/mendengarkan perintah Allah dan sanggup melakukan segala perintah Allah. Bagaimanapun juga, itu adalah perjanjian yang dibuat dengan dan dalam darah Tuhan. Sekalipun kita tidak setia, Allah tetap setia.Bacaan Injil hari inipun menegaskan kelemahan kita sebagai manusia. Beberapa ayat dari bacaan Injil hari inipun, Yesus menginterpretasi rumput liar sebagai&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8713\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8713","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8713"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8713\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8714,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8713\/revisions\/8714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}