{"id":8717,"date":"2019-07-29T13:00:46","date_gmt":"2019-07-29T20:00:46","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8717"},"modified":"2019-07-28T07:53:36","modified_gmt":"2019-07-28T14:53:36","slug":"selasa-30-juli-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8717","title":{"rendered":"Selasa, 30 Juli 2019"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Para murid, di rumah, berbicara dan meminta penjelasan tentang perumpamaan tentang gandum dan ilalang. Telah dikatakan berulang kali bahwa Yesus, di rumah, terus mengajar murid-murid-Nya. Pada saat itu, tidak ada televisi, dan orang-orang menghabiskan malam musim dingin yang panjang bersama-sama, berbicara tentang fakta dan peristiwa kehidupan. Pada kesempatan ini Yesus menyelesaikan pengajaran dan menyiapkan murid-murid-Nya. Yesus merespons dengan mengambil kembali masing-masing unsur dari perumpamaan ini dan memberi mereka arti penting: ladang adalah dunia; benih yang baik adalah anggota Kerajaan; ilalang adalah anggota musuh (si jahat); musuh adalah iblis; panen adalah akhir zaman; malaikat maut adalah malaikat. Dan sekarang baca kembali perumpamaan yang diberikan kepada masing-masing dari keenam unsur ini: ladang, benih yang baik, ilalang, musuh, panen dan mesin pemanen, dan makna perumpamaan inui. Dengan cara ini cerita mengasumsikan pengertian yang sama sekali baru dan adalah mungkin untuk mencapai tujuan yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia menceritakan perumpamaan tentang darnel dan benih yang baik. Dengan informasi yang diberikan oleh Yesus, kita akan lebih memahami penerapannya: Sama seperti ilalang yang dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman, Anak Manusia akan mengirim malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan dari kerajaan-Nya semua penyebab kegagalan dan semua yang berbuat jahat, dan melemparkan mereka ke dalam tungku yang menyala-nyala di mana akan ada tangisan dan kertakan gigi. Maka orang-orang benar akan bersinar seperti matahari di Kerajaan Bapa mereka. \u201d Nasib ilalang adalah berakhir di tungku. Nasib gandum adalah untuk bersinar seperti matahari di Kerajaan Bapa. Dengan menyampaikan perumpamaan ini Yesus tentunya berharap bahwa para murid dan mungkin orang-orang yang medengarkan Dia akan mengaalami perertobatan. Jika mereka terus hidup seperti sebelumnya, mereka akan menjadi seperti ilalang ; dibakar di dalam tungku, artinya hidup tanpa makna. Maka mari kita mohon kepada Tuhan agar Ia memberi kita keberanian untuk berubah ke arah yang lebih baik. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para murid, di rumah, berbicara dan meminta penjelasan tentang perumpamaan tentang gandum dan ilalang. Telah dikatakan berulang kali bahwa Yesus, di rumah, terus mengajar murid-murid-Nya. Pada saat itu, tidak ada televisi, dan orang-orang menghabiskan malam musim dingin yang panjang bersama-sama, berbicara tentang fakta dan peristiwa kehidupan. Pada kesempatan ini Yesus menyelesaikan pengajaran dan menyiapkan murid-murid-Nya. Yesus merespons dengan mengambil kembali masing-masing unsur dari perumpamaan ini dan memberi mereka arti penting: ladang adalah dunia; benih yang baik adalah anggota Kerajaan; ilalang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8717\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8717","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8717"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8717\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8718,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8717\/revisions\/8718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}