{"id":8747,"date":"2019-08-14T22:08:42","date_gmt":"2019-08-15T05:08:42","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8747"},"modified":"2019-08-14T22:08:42","modified_gmt":"2019-08-15T05:08:42","slug":"kamis-15-agustus-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8747","title":{"rendered":"Kamis, 15 Agustus 2019"},"content":{"rendered":"\n<p>Matius 18: 21-19:1<\/p>\n\n\n\n<p>\n\nRenungan Rm Joko Setyo Pr<br>Rektor seminari Kentungan Yogya\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>Hari Biasa Pekan XIX<\/p>\n\n\n\n<p>Injil hari ini berbicara tentang perlunya pengampunan. Memaafkan atau mengampuni adalah tindakan yang tidak mudah, mengapa? Karena kesedihan dan rasa sakit mudah membakar hati seseorang. Ada orang yang mengatakan, &#8220;Saya memaafkan, tetapi saya tidak akan pernah melupakannya!&#8221; Dendam, kemarahan, perasaan dihina, pengalaman dikhianati, provokasi, semuanya membuat pengampunan dan rekonsiliasi menjadi sulit. Mari kita coba merenungkan kata-kata Yesus yang berbicara tentang rekonsiliasi (Mat 18: 21-22) dan yang berbicara kepada kita tentang perumpamaan pengampunan tanpa batas (Mat 18: 23-35).<\/p>\n\n\n\n<p>01. Mengampuni sampai tujuh puluh tujuh kali! Kemarin Yesus memberi gambaran tentang empat langkah dalam mensikapi saudari-saudara yang \u201cberbuat dosa\u201d dan bagaimana menerima saudara-saudari itu dan membantu mereka berdamai dengan komunitas (Mat 18: 15-20). Pada awal Injil hari ini Petrus bertanya kepada Yesus: &#8220;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8221; Jawaban Yesus jauh melampaui pemikiran Petrus. Yesus menghilangkan segala kemungkinan pembatasan untuk pengampunan: &#8220;&#8221;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, pengampunan itu tanpa batas.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkataan Yesus di atas ingin membalikkan lingkaran kekerasan dan balas dendam yang memasuki dunia. Ketika kekerasan dan balas dendam yang tidak terkendali menyerbu kehidupan, maka semuanya menjadi salah dan kehidupan akan hancur.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus mengajak kita untuk tidak membuat batasan dan perhitungan terkait dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh saudara kita terhadap kita. Sisi negatif jika kita membatasi dan menghitung-hitung kesalahan seseorang yang telah kita ampuni adalah bahwa seolah-olah kita membiarkan dan membenarkan diri kita untuk membalas dendam bila jumlahnya sudah mencapai batasnya. Pembatasan pengampunan hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Allah. Mari kita belajar dari pesan santa Faustina yang ditulis dalam Buku Harian Santa Faustina, no. 390: \u201cDia yang tahu memberi ampun menyediakan bagi dirinya sendiri banyak rahmat dari Allah. Seberapa sering aku memandang salib, sesering itulah aku akan memberi ampun dengan segenap hatiku\u201d (BHSF 390).<\/p>\n\n\n\n<p>2. Perumpamaan tentang pengampunan tanpa batas. Yesus menegaskan arti pentingnya pengampunan melalui perumpaan ini: \u201cHal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Dinar adalah mata uang yang sehari-harinya digunakan pada saat itu. Satu talenta sama dengan 6.000 dinar. Jadi, hutang sepuluh ribu talenta adalah sekitar 60.000.000 dinar! Jumlah nilai uang yang tak terhingga! Bahkan jika si hamba yang berhutang itu bersama dengan istri dan anak-anaknya bekerja seumur hidup mereka, mereka tidak akan pernah mampu menghasilkan uang sebanyak ini. Hutang itu sudah dihapus oleh sang Raja.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah selalu memberikan pengampunan atas dosa yang paling keji sekalipun, jika manusia bersedia untuk bertobat. Walaupun utang hamba tersebut sangat besar, Ia membebaskan semuanya. Walaupun dosa kita sangat banyak dan berat, seluruh utang kita telah dihapuskan. Walaupun sangat banyak dan sangat hina, namun dosa\u2014dosa kita diampuni.<\/p>\n\n\n\n<p>Satu-satunya yang menganggu pemberian pengampunan Tuhan adalah ketidakmampuan kita untuk mengampuni saudara kita! Itulah yang terjadi dalam diri si hamba yang mendapat pengampunan dari Allah. Hal ini nampak dalam kisah selanjutnya: \u201cTetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.&#8221; Seorang hamba lain itu hanya berhutang padanya seratus dinar. Betapa kecilnya hutang kawannya itu dibandingkan dengan hutangnya pada sang raja yang berjumlah sepuluh ribu talenta. Betapa kejamnya tindakan hamba yang jahat tersebut, Ia menangkap dan mencekik kawannya itu. Sang Raja akhirnya mengingatkan hamba itu mengenai belas kasihan yang telah ia terima: \u201cseluruh utangmu telah kuhapuskan.\u201d Sang Raja menegur dan mengecam si hamba yang jahat itu karena ia menyalahgunakan kasih dan pengampunannya. Si hamba yang jahat itu tidak mampu menunjukkan kasih yang ia alami. Ia tidak mampu mencintai kawannya yang hanya sedikit hutangnya itu, padahal Raja telah mencintainya meski ia berhutang banyak. Ia menarik kasih pengampunan yang ia berikan dan menjebloskan si hamba yang jahat ke dalam penjara sampai hutangnya dipenuhi. Artinya, si hamba yang jahat itu dipenjara seumur hidup karena ia pasti tidak mampu membayar hutang-hutangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Semakin besar pengampunan atas dosa-dosa kita, seharusnya semakin banyak pula pengampunan dan kasih yang kita berikan kepada sesama. Dat ille veniam facile, cui venia est opus &#8211; mereka yang ingin diampuni harus dengan murah hati memberikan pengampunan. Pengalaman akan Allah yang maharahim dan maha pegampun semestinya melahirkan keinginan untuk mencintai dan mengampuni sesama. Bunda Teresa berkata: \u201cJika kita benar-benar ingin mencintai, kita harus belajar cara mengampuni.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 18: 21-19:1 Renungan Rm Joko Setyo PrRektor seminari Kentungan Yogya Hari Biasa Pekan XIX Injil hari ini berbicara tentang perlunya pengampunan. Memaafkan atau mengampuni adalah tindakan yang tidak mudah, mengapa? Karena kesedihan dan rasa sakit mudah membakar hati seseorang. Ada orang yang mengatakan, &#8220;Saya memaafkan, tetapi saya tidak akan pernah melupakannya!&#8221; Dendam, kemarahan, perasaan dihina, pengalaman dikhianati, provokasi, semuanya membuat pengampunan dan rekonsiliasi menjadi sulit. Mari kita coba merenungkan kata-kata Yesus yang berbicara tentang rekonsiliasi (Mat 18: 21-22) dan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8747\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8747","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8747"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8748,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8747\/revisions\/8748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}