{"id":8810,"date":"2019-09-09T14:40:12","date_gmt":"2019-09-09T21:40:12","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=8810"},"modified":"2019-09-09T14:40:12","modified_gmt":"2019-09-09T21:40:12","slug":"doa-di-dalam-tradisi-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8810","title":{"rendered":"Doa di dalam Tradisi Yesus"},"content":{"rendered":"\n<p><br>Selasa pada\nPekan Biasa ke-23<\/p>\n\n\n\n<p>10\nSeptember 2019<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas\n6:12-19<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah kamu pernah berdoa?\nTentu saja! Kita mungkin berdoa dengan cara yang agak berbeda,\ntetapi pastinya kita berdoa. Beberapa dari kita berdoa rosari suci atau novena\nkudus setiap hari. Beberapa mungkin memulai dan mengakhiri hari dengan doa sederhana. Kita\njuga terbiasa mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan. Setelah beberapa\nwaktu tinggal di Filipina,\nsaya menyadari bahwa orang-orang Katolik di Filipina membuat tanda salib setiap kali mereka melewati sebuah gereja sebagai tanda devosi mereka. Banyak dari kita mengunjungi dan\nberadorasi di hadapan Sakramen Mahakudus; belum lagi devosi kita\nterhadap Santa Perawan Maria\ndan orang-orang kudus di surga. Tidak lupa juga bahwa berpartisipasi dalam Misa Kudus adalah bentuk\ntertinggi dari doa kita sebagai seorang\nkatolik .<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, tenggelam dalam berbagai\nbentuk doa setiap harinya, apakah kita pernah bertanya dan mencoba memahami, apakah arti sebuah doa? Tanpa kita sadari, kita sejatinya berdoa dalam sebuah tradisi, dan tradisi ini\nberbicara banyak tentang keunikan doa kita. Tradisi\nKatolik agak berbeda dari saudara-saudara kita Protestan. Misalnya, mereka\ntidak berdoa rosario seperti kita.\nJalan umat Kristiani berbeda dari\nsaudara-saudara kita Muslim. Misalnya, hari Jumat adalah hari suci mereka, sementara\nkita adalah hari Minggu.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, apakah tradisi yang kita ikuti? Saya berani mengatakan\nbahwa tradisi kita adalah tradisi Yesus. Kita berdoa sebagai mana Yesus berdoa, dan setidaknya\nada tiga karakteristik dasar\ntradisi Yesus ini. Pertama, doa kita pada\ndasarnya <em>interpersonal<\/em>.\nIni berarti doa kita menghubungkan dua orang atau dua pihak. Kedua, doa kita tidak hanya menghubungkan\ndua pribadi tapi juga doa kita adalah\nsesuatu yang personal. \u2018Personal\u2019\ndisini berarti kita dapat membuka hati kita, berbagi\nkeinginan dan impian kita dan mengekspresikan semua cerita kita kepada Tuhan. Karena doa kita pada\ndasarnya interpersonal, sangat masuk\nakal\nbagi kita untuk berdoa bagi orang lain. Akhirnya, Injil\nhari ini mengungkapkan bahwa kita\nberdoa tanpa henti. Yesus berdoa\ndi pagi\nhari sebelum menjalankan misi-Nya, namun dalam ayat\nlain, Yesus masuk ke tempat sunyi setelah pelayanan-Nya. Ia berdoa sebelum\nIa memilih murid-Nya dan\nDia berlutut di taman, sebelum Ia memasuki penderitaan-Nya. Doa Yesus\nadalah realitas yang\nsangat esensial dalam kehidupan Yesus.\nKemudian, St.Paul sendiri akan mengingatkan\numat di Tesalonika untuk berdoa\ntanpa henti, karena ini adalah cara Kristus berdoa (1 Tes 5:17).<\/p>\n\n\n\n<p>Kita berdoa tidak hanya karena\nkewajiban yang dibebankan oleh orang tua\nkita atau datang ke Gereja karena pastor\nparoki mengatakan demikian. Kita\nberdoa karena ini adalah tradisi\nkita, ini adalah\nidentitas kita, dan ini adalah siapa kita. Kita berdoa karena Yesus juga berdoa.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus Bayuhadi Ruseno,\nOP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa pada Pekan Biasa ke-23 10 September 2019 Lukas 6:12-19 Apakah kamu pernah berdoa? Tentu saja! Kita mungkin berdoa dengan cara yang agak berbeda, tetapi pastinya kita berdoa. Beberapa dari kita berdoa rosari suci atau novena kudus setiap hari. Beberapa mungkin memulai dan mengakhiri hari dengan doa sederhana. Kita juga terbiasa mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan. Setelah beberapa waktu tinggal di Filipina, saya menyadari bahwa orang-orang Katolik di Filipina membuat tanda salib setiap kali mereka melewati sebuah gereja sebagai&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=8810\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-8810","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8810","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8810"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8810\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8811,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8810\/revisions\/8811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}