{"id":9019,"date":"2019-12-04T11:34:03","date_gmt":"2019-12-04T19:34:03","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9019"},"modified":"2019-12-03T15:35:35","modified_gmt":"2019-12-03T23:35:35","slug":"kamis-pekan-adven-i-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9019","title":{"rendered":"Kamis Pekan Adven I 2019"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan: Yesaya 26:1-6; Matius 7:21.\n24-27<\/p>\n\n\n\n<p>Terkadang kita menjumpai ada saudara\/saudari kita yang hidup doanya\nkenceng banget (Rosario setiap hari, misa harian rajin, doa lingkungan tidak\npernah absen dst) tetapi ketika kesulitan atau penderitaan datang\nmenghampirinya, ia mudah sekali lari meninggalkan Tuhan. Ada apa ini? Adakah\nyang salah dengan caranya berdoa mereka? Apakah ia punya dosa warisan? Ataukah\nia kurang rajin lagi dalam berdoa? Semua pengandaian itu salah!<\/p>\n\n\n\n<p>Seringkali kita merasa puas dan tenang ketika telah melaksanakan\nkewajiban-kewajiban keagamaan kita atau bahkan berbangga diri, pada saat mampu\nmelampaui kewajiban-kewajiban tersebut. Perasaan itu sah-sah saja. Sebab kita\nmanusia memang boleh berbangga dengan pencapaian yang dapat kita buat. Namun\ndemikian, Injil hari ini mengajak kita untuk lebih masuk lagi ke kedalaman iman\nkita. \u201c<em>Bukan setiap orang yang berseru\nkepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang\nmelakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga\u201d<\/em> ay 21. Maksudnya, hidup doa dan\nkewajiban-kewajiban keagamaan kita memang penting untuk membangun relasi yang\nlebih erat dengan Allah. Namun yang tak kalah pentingnya adalah perwujudan dari\ntindakan kultis tersebut. Kalau kita mau jujur, setiap kali kita berdoa dan\nmemohon, Tuhan selalu mengajak kita untuk melakukan tindakan konkrit dalam\nhidup kita. Entah itu memaafkan teman sekerja kita, entah itu ajakan untuk\nlebih murah hati terhadap sesama, ajakan untuk setia kepada pasangan, tidak\nmenaruh dendam pada orang lain yang berbuat salah dst. Nah\u2026 kalau ajakan-ajakan\nTuhan ini belum kita laksanakan, artinya kita belum: \u201cMendengar perkataan Tuhan\ndan melakukannya.\u201d Oleh karena itu, jangan heran apabila iman orang yang\ndemikian mudah \u201croboh\u201d karena tidak mendasarkan imannya dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini kita diajak untuk berlaku bijak, dengan melandaskan hidup\nberiman kita pada, \u201cMendengarkan dan melaksanakan sabda Allah.\u201d Semoga kita\ntidak mudah diombang-ambingkan kesulitan dan penderitaan hidup ini, karena kita\ntelah meletakkan fondasi iman kita dengan benar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan: Yesaya 26:1-6; Matius 7:21. 24-27 Terkadang kita menjumpai ada saudara\/saudari kita yang hidup doanya kenceng banget (Rosario setiap hari, misa harian rajin, doa lingkungan tidak pernah absen dst) tetapi ketika kesulitan atau penderitaan datang menghampirinya, ia mudah sekali lari meninggalkan Tuhan. Ada apa ini? Adakah yang salah dengan caranya berdoa mereka? Apakah ia punya dosa warisan? Ataukah ia kurang rajin lagi dalam berdoa? Semua pengandaian itu salah! Seringkali kita merasa puas dan tenang ketika telah melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan kita&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9019\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9019","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9019"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9019\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9020,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9019\/revisions\/9020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}