{"id":9021,"date":"2019-12-05T11:36:01","date_gmt":"2019-12-05T19:36:01","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9021"},"modified":"2019-12-03T15:37:02","modified_gmt":"2019-12-03T23:37:02","slug":"jumat-pekan-adven-i-2019","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9021","title":{"rendered":"Jumat Pekan Adven I 2019"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan: Yesaya 29:17-24; Matius 9:27-31<\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan injil hari ini sangat menarik untuk kita renungkan. Dua orang\nbuta yang memohon kesembuhan, mendapatkan jawaban positif dari Tuhan. Apa kira-kira\nkunci utama yang dapat membuat orang buta itu melihat kembali? Jawabannya ada\npada ungkapan mereka: \u201cYa Tuhan, kami percaya!\u201d Kepercayaan\/iman inilah yang\nmengubah segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Iman atau\nkepercayaan yang dimiliki 2 orang buta ini tidak hanya berhenti pada ungkapan\nverbal saja. Mereka berdua telah membuktikan dan memperjuangkan imannya melalui\ntindakan: Mencari tahu \/ informasi tentang siapa Yesus dan bagaimana kuasanya\n(bertanya). Membuka telinga lebar-lebar terhadap Yesus. Dan berteriak \/ ngomong\n\/ minta tolong kepada Yesus. Di sini, ditampakkan bahwa iman menuntut\nperwujudan konkret dari orang yang bersangkutan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman 2 orang buta tersebut menjelaskan kepada kita bahwa\niman\/kepercayaan memegang peranan yang besar dalam menghadapi persoalan-persoalan\nhidup. Dengan iman, segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak\nada yang mustahil di hadapan iman. Trus, kadang-kadang ada umat yang bertanya:\n\u201cRomo, saya sudah menyerahkan segala persoalan hidup saya kepada Tuhan dengan\npenuh iman, tetapi kok nggak pernah membawa kelegaan atau ketenangan ya?\u201d\nBerserah kepada Tuhan tidak sama dengan melemparkan masalah kepada Tuhan,\nsehingga kita menjadi lega karena terbebas. Tidak! Berserah kepada Tuhan dengan\npenuh iman artinya: kita berani menghadapi persoalan \/ permasalahan hidup kita\nitu bersama Yesus. Persoalan hidup itu ada untuk dihadapi dan bukan untuk\nhindari. Seperti 2 orang buta tadi, mereka percaya, namun mereka mau menghadapi\npersoalan hidupnya dengan cara: BERTANYA, MEMBUKA TELINGA TERHADAP YESUS DAN\nMEMINTA TOLONG KEPADA YESUS. <\/p>\n\n\n\n<p>Melalui perikop hari ini, kita diajak untuk semakin percaya dan beriman\nkepada Allah dalam menyongsong kelahiran Yesus Kristus sang Juru selamat.\nMarilah kita bersyukur kepada Allah, sebab Yesus masih mempunyai banyak tangan\nyang siap menggandeng kita menghadapi persoalan-persoalan hidup ini.\nSerahkankanlah perjuangan dan persoalan hidup kita kepada Allah dan hadapilah\nbersama dengan Dia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan: Yesaya 29:17-24; Matius 9:27-31 Bacaan injil hari ini sangat menarik untuk kita renungkan. Dua orang buta yang memohon kesembuhan, mendapatkan jawaban positif dari Tuhan. Apa kira-kira kunci utama yang dapat membuat orang buta itu melihat kembali? Jawabannya ada pada ungkapan mereka: \u201cYa Tuhan, kami percaya!\u201d Kepercayaan\/iman inilah yang mengubah segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Iman atau kepercayaan yang dimiliki 2 orang buta ini tidak hanya berhenti pada ungkapan verbal saja. Mereka berdua telah membuktikan dan memperjuangkan imannya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9021\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9021","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9021"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9021\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9022,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9021\/revisions\/9022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}