{"id":9092,"date":"2019-12-31T21:31:20","date_gmt":"2020-01-01T05:31:20","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9092"},"modified":"2019-12-31T21:31:20","modified_gmt":"2020-01-01T05:31:20","slug":"selamat-hari-ibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9092","title":{"rendered":"Selamat Hari Ibu!"},"content":{"rendered":"\n<p>Perayaan Santa\nPerawan Maria, Bunda Allah<\/p>\n\n\n\n<p>1 Januari 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 2: 16-21<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja menempatkan\nperayaan Hari Raya Maria, Bunda Allah pada tanggal 1 Januari, atau pada Tahun\nBaru? Orang mungkin menduga bahwa Gereja ingin kita menghadiri misa pada hari\npertama tahun ini. Bagi mereka yang ingin berlibur panjang, mungkin mengecewakan,\ntapi bagi sebagian dari kita yang ingin diberkati selama setahun yang baru ini,\npergi ke Gereja adalah pemikiran yang bagus. Namun, pasti ada sesuatu yang\nlebih dalam dari hal-hal ini<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu\nalasannya adalah bahwa Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan tahun\nlalu dengan rasa syukur ketika kita menghitung berkat-berkat kita, dan dengan\ndemikian, kita dapat melihat ke depan dengan iman dan harapan. Dalam Injil,\nMaria digambarkan sebagai seseorang yang selalu menyimpan hal-hal di hati dan merenungkannya\n(lihat Luk 2:19). Seperti Maria, kita diminta untuk berhenti sebentar pada hari\npenting tahun ini dan merenungkan karya Tuhan dalam hidup kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan lain yang\nsaya pikir lebih mendasar adalah bahwa sudah sepantasnya untuk mengakhiri oktaf\nNatal dengan Bunda Allah. &#8220;Oktaf&#8221; berarti delapan, dan dalam liturgi\nGereja, itu berarti delapan hari perayaan berturut-turut memperingati peristiwa\nliturgi besar di Gereja seperti Paskah dan Natal. Seperti oktaf Natal\nberlangsung dari 25 Desember hingga 1 Januari. Jika pada hari Natal, kita\nmerayakan kelahiran Yesus, pada akhir oktaf Natal, kita merayakan wanita yang\nmelahirkan Yesus. Tanpa seorang ibu yang menerima bayi di dalam rahimnya, mengandung\nbayinya selama sembilan bulan, dan mempertaruhkan hidupnya dalam proses\nkelahiran, seorang bayi tidak akan dilahirkan. Singkatnya, tanpa Maria, tidak\nakan ada Yesus, sang Firman yang menjadi daging.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi seorang\nibu adalah bagian alami dari menjadi seorang wanita, namun meskipun alami,\ntetap merupakan proses yang sangat sulit bagi seorang wanita. Saya bukan\nseorang wanita, tetapi saya dapat mengatakan bahwa menjadi seorang ibu adalah kehidupan yang penuh pengorbanan karena untuk menjaga Rm. Bayu saja dapat menyebabkan banyak tekanan darah tinggi!\nMemang benar bahwa tidak semua ibu sempurna. Beberapa memiliki kelemahan dan\nkesalahan, tetapi fakta bahwa seorang ibu telah memutuskan untuk melahirkan\nanaknya, ia telah mempertaruhkan nyawanya dalam proses\nkelahiran.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang jika\nmenjadi ibu dari manusia adalah memberani dan\ntangguh, bagaimana dengan\nmenjadi ibu Tuhan? Kita belajar dari Maria sendiri. Dia hamil di tanpa jelas siapa bapaknya, dan ini dapat menyebabkan orang\nmelempari dia dengan batu sampai mati. Dia melahirkan Yesus di kandang kotor\ntanpa bantuan tenaga\nmedis professional. Ini sangat berbahaya, dan dapat menrenggut hidupnya. Dia membesarkan Yesus yang sering melampaui pemahamannya. Pada\nakhirnya, dia akan menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana putra\nsatu-satunya dihina, disiksa, dan disalibkan. Betapa pengalaman yang\nmenyakitkan untuk menguburkan anak Anda sendiri! Nubuat Simeon bahwa pedang akan menembus jiwa Maria berubah menjadi kenyataan\n(lihat Luk 2:35).<\/p>\n\n\n\n<p>Memang, Maria\npaling diberkati di antara wanita, bahkan di antara semua manusia, tetapi\nkeberkatannya tidak berarti hidup yang mudah. Padahal, justru sebaliknya! St\nTeresa dari Avila pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia memberikan begitu\nbanyak penderitaan kepada orang-orang kudus-Nya. Tuhan menjawab bahwa itu\nadalah cara Dia memperlakukan teman-temannya. Kemudian, St Teresa menjawab,\n\u201cItulah sebabnya Anda tidak memiliki banyak teman!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi seorang\nibu adalah berkat, tetapi berkat Tuhan tidak berarti hidup yang mudah. Berkat Tuhan berarti kesempatan dan\nkemampuan untuk mengasihi. Berkat adalah saat kita mengasihi &nbsp;ditengah-tengah tantangan\ndan cobaan hidup, memberi\nsesuatu yang berharga, dan berkorban\nsampai akhir. Pada Tahun Baru ini, kita merayakan\nkeibuan Maria, juga keibuan setiap wanita. Itu adalah Hari\nIbu di Gereja. Kita berdoa untuk setiap ibu agar mereka diberkati dengan\nkarunia kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus\nBayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perayaan Santa Perawan Maria, Bunda Allah<br \/>\n1 Januari 2020<br \/>\nLukas 2: 16-21<\/p>\n<p>Beberapa dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja menempatkan perayaan Hari Raya Maria, Bunda Allah pada tanggal 1 Januari, atau pada Tahun Baru? Orang mungkin menduga bahwa Gereja ingin kita menghadiri misa pada hari pertama tahun ini. Bagi mereka yang ingin berlibur panjang, mungkin mengecewakan, tapi bagi sebagian dari kita yang ingin diberkati selama setahun yang baru ini, pergi ke Gereja adalah pemikiran yang bagus. Namun, pasti ada sesuatu yang lebih dalam dari hal-hal ini<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9092","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9092"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9092\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9093,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9092\/revisions\/9093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}