{"id":9122,"date":"2020-01-13T14:50:02","date_gmt":"2020-01-13T22:50:02","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9122"},"modified":"2020-01-13T14:50:02","modified_gmt":"2020-01-13T22:50:02","slug":"selasa-14-januari-2020","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9122","title":{"rendered":"Selasa, 14 Januari 2020"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Markus 1: 21b-28<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\n\nDari Rm Djoko Prakosa Pr Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta\n\n<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Biasa Pekan I<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Tidak cukup\nhanya sekedar takjub. <\/strong>Sudah merupakan kebiasaan Yesus, seperti orang\nYahudi lainnya, untuk beribadat di sinagoge atau rumah ibadat. Di rumah ibadat ada suatu tradisi yang\ndikembangkan, yaitu siapa saja yang hadir dalam ibadah saat itu, boleh\nberkhotbah. Kesempatan ini dimanfaatkan Yesus untuk mengajar. Mengenai apa yang\ndiajarkan-Nya, tidak dicatat oleh Markus. Markus mencatat dua pengaruh yang\ndirasakan langsung dari khotbah Yesus. <strong>Pertama<\/strong>,\norang banyak takjub mendengar khotbah-Nya: \u201cMereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka\nsebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.\u201d Takjub karena khotbah Yesus berbeda\ndengan khotbah para pemimpin agama Yahudi yang selama ini mereka dengar. Meski\nfakta ini nyata, namun <em>tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa orang banyak yang\ntakjub itu menjadi percaya pada Yesus<\/em>. Mereka hanya sekadar takjub,\ntidak lebih. <\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, roh jahat yang biasanya dengan tenang\nturut beribadah di sinagoga, menjadi terganggu dan terancam: &#8220;Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau\ndatang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari\nAllah.&#8221; Menarik untuk\ndiperhatikan bahwa roh jahat juga beribadah dengan tenang di rumah ibadat. Namun,\nkehadiran Yesus menguak kehadiran roh jahat tersebut. Roh jahat tidak dapat\nbertahan di depan mata Yesus karena tidak tahan melihat kesucian Yesus. <em>Ketika orang banyak\nmelihat bahwa roh-roh jahat taat kepada Yesus, mereka semua menjadi takjub.<\/em>\nTakjub saja tidak cukup, imanlah yang penting. Semua orang yang hadir dalam\nrumah ibadat saat itu tentu takjub, tetapi tidak semua orang menjadi percaya. <\/p>\n\n\n\n<p>Tragis sekali saat memperhatikan orang-orang dalam rumah ibadat itu. Firman telah mereka dengar, mukjizat telah mereka saksikan, tetapi semua itu tidak mengubah hati mereka untuk berbalik pada Yesus. Pertanyaan permenungan bagi kita: Apakah kita benar-benar mengenali Yesus sebagai Kristus? Apakah kita mengenal Yesus secara pribadi? Apakah kita memiliki hubungan dengan-Nya atau apakah Dia hanyalah sosok dalam Injil? Yesus sedang bekerja dalam kehidupan kita, meskipun kemungkinan besar tidak dalam cara yang dramatis seperti yang digambarkan dalam perikop ini. Yesus menyembuhkan kita bahkan jika kita tidak melihatnya. Yesus memberkahi kita dengan semua yang kita butuhkan. Hari ini semoga kita mencari Yesus ketika kita menjalani hari kita. Yesus ada bersama kita.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Kuasa Yesus atas roh jahat.<\/strong> Menarik untuk memperhatikan secara khusus tentang kejadian di rumah ibadat: \u201cPada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat.\u201d Markus dengan sangat jelas memperlihatkan sosok Yesus yang mampu mengalahkan roh jahat. Dengan otoritas-Nya Yesus mengusir roh jahat yang merasuki orang itu. Yang mengejutkan adalah bahwa roh jahat itu tahu jati diri Yesus: \u201cAku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.&#8221; Ini berarti bahwa Yesus diangap sebagai musuh nomor satu dari roh jahat karena hanya Dia yang dapat mengalahkan mereka secara permanen: \u201cRoh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.&#8221;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Yesus masih sama hari ini dan kemarin dan nanti di masa mendatang. Roh jahat masih bergetar di hadapan-Nya. Dia adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menangkal dan membebaskan cengkraman kuat roh jahat. Karena itu, marilah kita mendengar suara-Nya dan tidak mengeraskan hati kita untuk-Nya. Sebaliknya, marilah kita membuka hati kita kepada-Nya.&nbsp; Apakah kita sudah berusaha mendengarkan suara Yesus atau akankah kita membuka hati kita kepada-Nya? <\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">&nbsp;<\/pre>\n\n\n\n<p>\u201cIman itu seperti sinar matahari yang terang. Iman\nmemungkinkan kita untuk melihat Allah dalam segala hal dan juga segala sesuatu\ndi dalam Allah. \u201d<\/p>\n\n\n\n<p>St. Francis de Sales<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Markus 1: 21b-28 Dari Rm Djoko Prakosa Pr Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta Hari Biasa Pekan I 1. Tidak cukup hanya sekedar takjub. Sudah merupakan kebiasaan Yesus, seperti orang Yahudi lainnya, untuk beribadat di sinagoge atau rumah ibadat. Di rumah ibadat ada suatu tradisi yang dikembangkan, yaitu siapa saja yang hadir dalam ibadah saat itu, boleh berkhotbah. Kesempatan ini dimanfaatkan Yesus untuk mengajar. Mengenai apa yang diajarkan-Nya, tidak dicatat oleh Markus. Markus mencatat dua pengaruh yang dirasakan langsung dari khotbah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9122\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9122","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9122"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9122\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9123,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9122\/revisions\/9123"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}