{"id":9160,"date":"2020-01-29T07:17:29","date_gmt":"2020-01-29T15:17:29","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9160"},"modified":"2020-01-29T07:17:29","modified_gmt":"2020-01-29T15:17:29","slug":"rabu-29-januari-2020","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9160","title":{"rendered":"Rabu, 29 Januari 2020"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Markus 4:\n1-20<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari\nBiasa Pekan III<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1.\nMendengarkan Firman dengan seksama<\/strong>. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak orang banyak dan para\nmurid untuk mendengar: &#8220;<strong>Dengarlah<\/strong>&#8221;\n(ayat 3). Menarik bahwa dalam Markus 4 ini tidak kurang dari tujuh kali kata \u201cdengar\u201d\ndiucapkan oleh Yesus (Mrk 4:3, 9,12,15,16,18,20). Mengapa demikian? Sebab Yesus\nmenghendaki orang <strong>mendengar dengan\nsaksama<\/strong>, <strong>bukan asal mendengar<\/strong>.\nMendengar dengan seksama adalah tindakan penting dalam sebuah proses belajar\nmenyerap dan memahami. Arti pentingnya \u201cmendengar\u201d ini nampak dalam perumpamaan tentang\npenabur dan benih. Yesus mengajarkan bahwa sebagian benih jatuh di jalan\nsetapak dan burung-burung menukik ke bawah dan memakan bijinya. Benih lainnya\njatuh di tanah berbatu. Dan meskipun benih ini tumbuh dengan cepat, segera\ntanaman layu karena akarnya tidak dipelihara oleh tanah. Lalu ada benih yang\njatuh di tanah yang baik. Benih-benih ini tumbuh dan akhirnya menghasilkan\npanen berlimpah: Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di\npinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar\nfirman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam\nmereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah\norang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,\ntetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang\npenindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang\nlain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman\nitu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan\nakan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan\nakhirnya yang ditaburkan di <strong>tanah yang\nbaik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah<\/strong>, ada\nyang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang\nseratus kali lipat.&#8221; <\/p>\n\n\n\n<p>Tanah\nyang baik adalah gambaran tentang pendengar firman yang menyimak dan menyambut\ndengan baik. Mereka memahami dan menaati dalam iman. Selanjutnya firman\nmenjadikan iman matang dan mendatangkan hasil. Ini akan terlihat dalam disiplin\ndan kesetiaan mendengar firman terus menerus dan melakukan kebajikan bagi\nsesama. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Tantangan dan Buah Mendengarkan\nFirman.<\/strong> Perumpamaan itu dapat menimbulkan banyak pertanyaan di dalam diri kita.\nBagaimana kita menerima firman Yesus? Apakah tanah hati kita memungkinkan\nfirman Yesus meresap ke dalam hidup kita, atau apakah kita hanya mendengarkan\nkata-kata Yesus dan tetap pada tingkat yang dangkal? Apakah tanah hati kita \u201cberbatu-batu\u201d: mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi\nmereka tidak berakar dan tahan sebentar saja? Apakah hidup kita\nseperti \u201csemak duri\u201d:\nmendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini\ndan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah\nmenghimpit firman itu sehingga tidak berbuah? Apakah kita sabar dan bertekun\ndan dengan seksama: <strong>mendengar dan menyambut\nfirman itu lalu berbuah?<\/strong>&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Sangat mudah untuk membaca firman Allah. Namun, <strong>untuk mendengarkan Firman-Nya kita\nmembutuhkan waktu, perhatian, dan hati yang terbuka<\/strong>. Hari ini apakah kita\nsekedar \u201cmembaca\u201d Firman atau kita mendengarkan dengan seksama Firman Yesus dan\nmerenungkannya dan mau diubah oleh Firman-Nya? Itu pilihan kita! Ada orang yang\nmembiarkan dirinya diubahkan oleh firman Tuhan. Misalnya, dari tidak bertanggung\njawab ia sekarang menjadi bertanggung jawab, dan dari kikir ia menjadi suka\nberbagi. Mengapa? Karena <strong>orang ini\nmengizinkan Firman Allah untuk melakukan keajaiban dalam hidup mereka!<\/strong>&nbsp; Maukah kita membiarkan&nbsp; firman Yesus tumbuh\ndi hati kita sehingga Tuhan dapat memberkati orang lain melalui kita?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Markus 4: 1-20 Hari Biasa Pekan III 1. Mendengarkan Firman dengan seksama. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak orang banyak dan para murid untuk mendengar: &#8220;Dengarlah&#8221; (ayat 3). Menarik bahwa dalam Markus 4 ini tidak kurang dari tujuh kali kata \u201cdengar\u201d diucapkan oleh Yesus (Mrk 4:3, 9,12,15,16,18,20). Mengapa demikian? Sebab Yesus menghendaki orang mendengar dengan saksama, bukan asal mendengar. Mendengar dengan seksama adalah tindakan penting dalam sebuah proses belajar menyerap dan memahami. Arti pentingnya \u201cmendengar\u201d ini nampak dalam perumpamaan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9160\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9160","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9160"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9160\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9161,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9160\/revisions\/9161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}