{"id":9334,"date":"2020-03-24T08:51:24","date_gmt":"2020-03-24T15:51:24","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9334"},"modified":"2020-03-24T08:51:24","modified_gmt":"2020-03-24T15:51:24","slug":"hari-biasa-pekan-iv-prapaskah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9334","title":{"rendered":"Hari Biasa pekan IV Prapaskah"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Yohanes 5: 1-16<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Selasa, 24 Maret 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Membangun solidaritas. <\/strong>Injil hari ini menggambarkan Yesus yang menyembuhkan\norang lumpuh yang telah menunggu 38 tahun agar seseorang membantunya sampai ke\nair kolam sehingga dapat disembuhkan! Tiga puluh delapan tahun! Rupanya ia\nmenjadi bagian dari orang-orang yang &nbsp;tertarik pada harapan tak menentu akan \u201cKolam\nBetesda\u201d yang menjanjikan bahwa \u201csewaktu-waktu akan turun malaikat Tuhan ke kolam\nitu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya\nsesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.\u201d Hanya satu orang yang sembuh, itu pun yang terdahulu. Kesembuhan\ndianggap sebagai lotere yang diperebutkan. Banyak orang yang karena\nketerbatasannya hanya tinggal di dalam pengharapan, seperti yang dialami oleh\norang yang lumpuh itu. Yesus melihat orang itu\nberbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu,\nberkatalah Ia kepadanya: &#8220;Maukah engkau sembuh?&#8221; <strong>Orang\nlumpuh ini dihadapkan dengan absennya solidaritas<\/strong>. Ia berkata: &nbsp;&#8220;Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku\nke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke\nkolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.&#8221; Apa yang Yesus lakukan? Dia yang melampaui hukum hari\nSabat menyembuhkan orang lumpuh itu: &#8220;Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.&#8221; Ia\nmembangun solidaritas dengan orang yang sakit lumpuh itu. Tetapi Ia tidak\nmembangun solidaritas yang berbau tahyul itu. Ia tidak meminta orang itu pergi\nke kolam Betesda. Hidup-Nya sendiri selalu menjadi simbol solidaritas di tengah\nkenestapaan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Solidaritas adalah rasa kesatuan kepentingan,\nperasaan sehati dan sepenangunggan demi kepentingan orang lain dan bersama.&nbsp; Solidaritas itu tidak mudah. Beberapa orang,\nseperti dialami oleh orang yang lumpuh selama 38 tahun itu, masih saja hidup\ndalam pengabaian total, tanpa kesadaran bahwa solidaritas adalah pilihan yang\nmenyelamatkan. Di sisi lain, kita bersyukur karena banyak dari antara kita yang\nsadar akan perlunya solidaritas di era Covid-19 ini. Solidaritas akan membuat\nbanyak orang yang sedang sakit dan mengalami kelumpuhan dalam berbagai sisi\nkehidupan ini bangun dan berjalan kembali: \u201cBangunlah dan berjalanlah.\u201d Hari-hari\nini kita diingatkan akan panggilan kita sebagai <strong>Homo homini socius: Manusia adalah sahabat bagi manusia\nlain. <\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Mengangkat tilam.<\/strong> Orang yang lumpuh selama tiga puluh delapan tahun itu hanya berbaring di atas tilamnya. Dan pada saat menyembuhkan dia, Yesus berkata: &#8220;Bangunlah, <strong>angkatlah tilammu<\/strong> dan berjalanlah.&#8221; Tilam adalah tempat ia berbaring tidak berdaya. Tilam adalah simbol masa lalu yang penuh ketidakbedayaan. <strong>Ia tidak meminta meninggalkan tilam itu, tetapi mengangkatnya.<\/strong> Masa lalu mesti diangkat dan bukan ditinggalkan. Jika ditinggalkan, orang akan kembali mencarinya. Dengan meminta orang itu mengangkat&nbsp; tilamnya, Yesus berharap orang itu menjalani hidup baru dan berani berjalan menatap ke depan, serta tidak kembali ke masa lalu yang pernah membuat hidupnya. Hidup mesti ditandai dengan kerelaan untuk bangun dan berjalan ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang yang mengalami kesembuhan, penghiburan dan peneguhan setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Namun ketika aneka persoalan kembali melumpuhkan hidup kita dan membuat hidup ini terasa membosankan, kita kadangkala membiarkan masa lalu (baca: tilam) kita kembali lagi, dan&nbsp; menemukan diri kita kembali ke tempat semula. Kita harus mengangkat dan menyingkirkan \u201ckanker tilam\u201d yang menggerogoti hidup kita, dan bukan sekedar&nbsp; meninggalkan atau membiarkan tetap ada. Hari-hari ini ketika kita berhadapan dengan aneka kebosanan karena \u201cberada di dalam rumah\u201d, kita diajak tetap semangat menjalaninya (baca: bangun dan berjalanlah) karena dengan cara ini kita akan melewati krisis yang melumpuhkan ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yohanes 5: 1-16 Selasa, 24 Maret 2020 1. Membangun solidaritas. Injil hari ini menggambarkan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh yang telah menunggu 38 tahun agar seseorang membantunya sampai ke air kolam sehingga dapat disembuhkan! Tiga puluh delapan tahun! Rupanya ia menjadi bagian dari orang-orang yang &nbsp;tertarik pada harapan tak menentu akan \u201cKolam Betesda\u201d yang menjanjikan bahwa \u201csewaktu-waktu akan turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9334\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9334","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9334"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9334\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9335,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9334\/revisions\/9335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}