{"id":9466,"date":"2020-04-27T18:59:54","date_gmt":"2020-04-28T01:59:54","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9466"},"modified":"2020-04-27T18:59:54","modified_gmt":"2020-04-28T01:59:54","slug":"roti-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9466","title":{"rendered":"Roti Kehidupan"},"content":{"rendered":"\n<p>Selasa pada Pekan ke-3 Paskah<\/p>\n\n\n\n<p>28 April 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes 6:3-35<\/p>\n\n\n\n<p>Injil Yohanes cukup berbeda dengan Injil lainnya. Salah satunya adalah Injil Yohanes tidak memiliki perumpamaan\natau \u201cparables\u201d. Walaupun tidak memiliki perumpamaan, Injil Yohanes memiliki\napa yang disebut sebagai \u201cI AM sayings\u201d atau pernyataan \u201cAkulah\u201d. Sebagai\ncontoh \u201cAkulah gembala yang baik\u201d [lih. Yoh 10:11]. Setidaknya ada tujuh\npernyataan \u201cAkulah,\u201d dan yang menarik adalah jika kita melihat Perjanjian Lama,\npernyataan \u201cAkulah\u201d ini dipakai oleh Tuhan sendiri. &nbsp;Sebagai contoh dalam Mazmur 23 menyatakan\nbahwa \u201cTuhan adalah gembalaku.\u201d Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pernyataan\n\u201cAkulah\u201d menunjuk pada identitas Yesus yang adalah Ilahi.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Pada hari ini kita mendengar salahnya\nyang paling penting yakni \u201cAkulah Roti Kehidupan.\u201d Jika kita melihat konteks\nyang lebih besar dari Yohanes bab 6, kita akan melihat Yesus yang melipatgandakan\nroti bagi banyak orang. Kisah ini sangat familiar bagi kita semua, dan memang\nkisah pelipatgandaan ini ditulis oleh keempat pengarang Injil.\nTetapi, ada sedikit perbedaan antara Yohanes dengan dengan Injil yang lain. Jika Injil lain hanya memberikan kita rincian ceritanya,\nInjil Yohanes menceritakan bahwa Yesus menjadikan momen ini untuk mengajar\nmereka tentang roti sejati yang tidak akan membuat lapar lagi, dan membawa\nkehidupan kepada dunia. Dan saat orang-orang bertanya kepada Yesus untuk\nmemberikan roti sejati ini, Yesus dengan lugas mengatakan bahwa \u201cAkulah Roti\nkehidupan.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Bagi kita umat Katolik, kita dengan mudah melihat bahwa Yesus sebenarnya\nberbicara tentang roti kehidupan yang Dia berikan pada Ekaristi. Setiap kali\nkita merayakan Ekaristi, kita menerima roti kehidupan yang adalah Tubuh Kristus\nsendiri. Ini adalah sumber kekuatan rohani kita, ini adalah puncak persatuan\nkita dengan Yesus di dunia ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya, kita sekarang sedang berhadapan dengan pandemi yang disebabkan\noleh virus Covid19. Sebagai akibat Gereja-gereja ditutup sementara, dan kita\ntidak bisa merayakan Ekaristi bersama. Kita sudah mencoba untuk mencari solusi dengan\nmengadakan misa online atau livestreaming, dan juga bahkan adorasi online.\nSebuah kegiatan yang mungkin belum terdengar sebelumnya. Namun, kita tetap\nmerasa ada yang kurang: komuni kudus, menerima Tubuh Kristus yang adalah roti\nkehidupan. Walaupun Gereja telah menyatakan bahwa dengan komuni rohani, kita\nsudah menerima rahmat Ekaristi, tetapi bagi kita yang memang sudah mengikuti Misa\nkudus secara rutin, apalagi ikut Misa setiap hari, akan ada selalu perasaan\nyang mengatakan bahwa hidup rohani kita kurang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah kerinduan-kerinduan kita di masa pandemi ini. Walaupun dari sisi\nini kita bersedih karena kita tidak dapat menerima komuni kudus, sang Roti Kehidupan,\ntetapi di sisi lain kita juga bersyukur karena kita Tuhan telah menumbuhkan kerinduan\nakan roti hidup ini di dalam diri kita, bahwa sungguh benar bahwa Yesus adalah roti\nkehidupan dan tanpa Dia kita tidak akan menemukan kepenuhan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa pada Pekan ke-3 Paskah<br \/>\n28 April 2020<br \/>\nYohanes 6:3-35<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9466","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9466"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9466\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9467,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9466\/revisions\/9467"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}