{"id":9473,"date":"2020-04-30T21:46:02","date_gmt":"2020-05-01T04:46:02","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9473"},"modified":"2020-04-30T21:46:02","modified_gmt":"2020-05-01T04:46:02","slug":"yesus-dan-yusuf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9473","title":{"rendered":"Yesus dan Yusuf"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1 Mei 2020<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peringatan St. Yusuf Pekerja<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini kita memasuki bulan Mei yang\nsecara tradisi adalah bulan Maria. Hal yang unik adalah bulan ini dimulai\ndengan peringatan St. Yusuf sebagai pekerja. Peristiwa terakhir dalam Alkitab\nyang menghadirkan Keluarga Kudus adalah ketika Yesus ditemukan di Bait Allah.\nSetelah peristiwa ini, Yusuf tidak lagi muncul dalam Alkitab, dan menurut\ntradisi, ia meninggal bahkan sebelum ia dapat melihat Yesus mewartakan Injil.\nKarena ini adalah episode terakhir di mana Yusuf terlibat dalam narasi, kita\nakan merenungkan Injil hari ini dan belajar dari St. Yusuf.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Injil hari ini, kita menemukan\nkesalahan fatal dari Yusuf dan Maria. Mereka membiarkan Yesus hilang! Sebuah\nkecerobohan! Namun, apakah Yusuf dan Maria benar-benar ceroboh? Melihat lebih\ndalam konteks mereka, kecerobohan bukanlah jawabannya. Ketika Yusuf dan Maria\npergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, mereka tidak pergi sendiri, tetapi\nbersama sanak saudara dari Nazareth. Bepergian bersama mungkin memperlambat\nmereka, tetapi memberi perlindungan dari perampok dan menjaga ketersediaan\nmakanan. Tanggung jawab merawat anak-anak juga dibagi di antara orang-orang\ndewasa. Lagi pula, Yesus berusia dua belas tahun dan cukup besar untuk merawat\nanggota kelompok yang lebih muda. Tentunya, ini bukan kecerobohan, tetapi\nkepercayaan yang diberikan kepada Yesus yang memungkinkan Yesus untuk tetap\ntinggal di Yerusalem. Sebagai orang tua yang berdedikasi, Yusuf dan Maria\nkembali ke Yerusalem dan mencari Yesus dengan cemas. Mencari seorang anak\nlaki-laki di ibu kota Yerusalem yang besar sama halnya seperti menemukan jarum\ndi gunung jerami, tetapi, akhirnya, mereka berhasil menemukan-Nya: Yesus ada di\ntengah-tengah para guru Hukum Taurat di Bait Allah, berdiskusi dan memberi\njawaban yang sangat cerdas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Maria bertanya kepada Yesus mengapa\nDia tidak pulang bersama mereka, jawaban Yesus sangat membingungkan, \u201cTidakkah\nkamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?\u201d (Lk. 2:49) Maria\ntidak mengerti dengan jawaban-Nya, dan sang Bunda merenungkan semua hal ini di\ndalam hatinya. Tetapi, bagaimana dengan Yusuf, ayah angkat Yesus? Apa yang akan\nmenjadi reaksi dan perasaannya ketika dia mendengar, &#8220;&#8230; Aku harus berada\ndi dalam rumah Bapa-Ku?&#8221; Apakah Yusuf akan menghukum Yesus karena Dia\ntidak menghormati orang tua-Nya? Apakah dia akan marah setelah Yesus pergi\ntanpa izin? Akankah Yusuf memungkiri Yesus setelah Yesus tampaknya menolak\nmemanggilnya sebagai seorang ayah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun, sulit untuk menentukan karena\nYusuf adalah pria yang pendiam, saya yakin Yusuf tidak akan melakukan hal-hal\nyang kejam ini karena dia adalah orang yang cinta damai. Ketika Yusuf tahu Maria\nhamil di luar nikah, ia bisa saja melempar batu pertama. Namun, ia memilih\nbelas kasihan dan menyelamatkan Maria dari dendam pembalasan. Karena dia\nberbelas kasih kepada Maria, maka dia akan berbelas kasih kepada Yesus. Namun,\nberanjak dari reaksi awal ini, saya percaya bahwa Yusuf bersyukur dan bangga\ndengan Yesus. Namun, mengapa dia harus bersyukur dan bangga? Kita ingat bahwa\nYusuf digambarkan sebagai orang \u201ctulus hati\u201d atau dalam bahasa Yunani,\n&#8220;diatheke&#8221;. Dia adalah orang benar bukan hanya karena dia tahu dengan\nbaik Hukum Allah, dan menaatinya, tetapi karena dia sangat mencintai Allah.\nSalah satu tugas dasar seorang ayah Yahudi adalah mengajar anak-anaknya untuk\nbelajar dan mencintai Hukum Allah. Jadi, Jika Yesus mampu menjawab para guru,\nsalah satu alasan mendasar adalah karena Yusuf telah mengajar-Nya dengan baik.\nSelain itu, Yesus lebih memilih untuk terlibat dengan urusan Bapa-Nya. Ini berarti\nYusuf tidak hanya mengajarkan kepada Yesus teknis dari Hukum Taurat, tetapi\npada dasarnya, untuk mengasihi Allah di atas segalanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">St. Yusuf menjadi contoh bagi setiap pria,\nterutama bagaimana membesarkan anak-anak. Tugas pertama dan terpenting dari\nsetiap ayah adalah membawa anak-anak mereka kepada Tuhan dan mengajar mereka\nuntuk mencintai Tuhan, dan untuk mengasihi sesama demi Tuhan. Dan bagaimana\ncara melakukannya? Seperti St. Yusuf, kita perlu mengajar anak-anak kita dengan\nmemberi contoh dan kesaksian hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 Mei 2020<br \/>\n\tPeringatan St. Yusuf Pekerja<\/p>\n<p>Hari ini kita memasuki bulan Mei yang secara tradisi adalah bulan Maria. Hal yang unik adalah bulan ini dimulai dengan peringatan St. Yusuf sebagai pekerja. Peristiwa terakhir dalam Alkitab yang menghadirkan Keluarga Kudus adalah ketika Yesus ditemukan di Bait Allah. Setelah peristiwa ini, Yusuf tidak lagi muncul dalam Alkitab, dan menurut tradisi, ia meninggal bahkan sebelum ia dapat melihat Yesus mewartakan Injil. Karena ini adalah episode terakhir di mana Yusuf terlibat dalam narasi, kita akan merenungkan Injil hari ini dan belajar dari St. Yusuf.<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9473","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9473"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9473\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9474,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9473\/revisions\/9474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}