{"id":9590,"date":"2020-06-05T14:15:41","date_gmt":"2020-06-05T21:15:41","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9590"},"modified":"2020-06-03T08:16:45","modified_gmt":"2020-06-03T15:16:45","slug":"cara-hidup-beragama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9590","title":{"rendered":"CARA HIDUP BERAGAMA"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><u>Sabtu, 06 Juni 2020<\/u><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><em>Mark 12:38-44&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak terpikirkan sebelumnya, tata kehidupan di kebanyakan negara mengalami perubahan karena pandemi <em>covid-19, <\/em>termasuk juga cara hidup keagamaan mengalami perubahan. Perayaan peribadatan dalam setiap agama tak luput juga dari perubahan itu. Salah satunya seperti yang kita alami saat ini, yaitu mengikuti perayaan ekaristi melalui <em>live-streaming<\/em> dari rumah kita masing-masing. Kegiatan peribadatan tidak lagi dilakukan hadir secara fisik di suatu Gereja atau tempat ibadah. Situasi ini seolah mengundang kita untuk merefleksi lebih dalam mengenai tiga eleman suatu agama : isi ajaran, tata peribadatan dan pengamalan nilai-nilai iman. Dalam Injil hari ini, Yesus kembali memperingatkan para murid-Nya agar bersikap waspada terhadap cara hidup para ahli Taurat. Mereka lebih suka menjadi pusat perhatian, <em>gila<\/em> hormat, bersikap tidak adil terhadap kaum miskin, dan memanipulasi hukum demi kepentingan dirinya sendiri. Di saat situasi pandemi seperti ini, hidup keagamaan kita juga diuji. Kedalaman hidup iman seseorang tidak hanya dilihat secara lahiriah saja. Kedalaman hidup iman juga berkenaan dengan kualitas hati kita dalam mencintai Allah dan sesama.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pertanyaan yang perlu kita renungkan : masihkah kita tetap setia ikut perayaan ekaristi <em>live-streaming<\/em> sekurang-kurangnya pada hari Minggu? Sungguhkah kita mengimani kehadiran Kristus dalam komuni batin yang hadir melalui SabdaNya? Bagaimana aku mempraktekkan cinta kasih dan membantu saudara-saudari yang mengalami penderitaan? Allah menganugerahkan Roh KudusNya sehingga kita pun mampu mengalami sukacita dan kegembiraan karena kehadiranNya dalam sakramen-sakramen yang kita rayakan dan kegembiraan dalam melayani orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yesus lebih lanjut memberi contoh mengenai sikap iman seorang janda miskin. Ia menghayati arti pemberian diri yang total kepada Allah. Yesus memuji sikap seorang janda miskin karena ia&nbsp; mencintai Allah dengan keseluruhan hatinya. Memang, ia tidak memberikan persembahan yang <em>banyak<\/em> (kuantitas) tetapi ia memberikan <em>seluruh<\/em> (kualitas) dirinya. Yesus menegaskan kembali bahwa persembahan hati yang penuh cinta lebih berharga daripada persembahan emas. Persembahan diri yang sejati mengalir dari hati yang penuh syukur.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTuhan Yesus Kristus, bantulah kami dengan Roh KudusMu agar kami mampu mempersembahkan diri kami demi kemuliaan namaMu\u201d<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 06 Juni 2020 Mark 12:38-44&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak terpikirkan sebelumnya, tata kehidupan di kebanyakan negara mengalami perubahan karena pandemi covid-19, termasuk juga cara hidup keagamaan mengalami perubahan. Perayaan peribadatan dalam setiap agama tak luput juga dari perubahan itu. Salah satunya seperti yang kita alami saat ini, yaitu mengikuti perayaan ekaristi melalui live-streaming dari rumah kita masing-masing. Kegiatan peribadatan tidak lagi dilakukan hadir secara fisik di suatu Gereja atau tempat ibadah. Situasi ini seolah mengundang kita untuk merefleksi lebih dalam mengenai&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9590\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9590","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9590"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9591,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9590\/revisions\/9591"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}