{"id":9640,"date":"2020-06-25T15:47:14","date_gmt":"2020-06-25T22:47:14","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9640"},"modified":"2020-06-25T15:47:14","modified_gmt":"2020-06-25T22:47:14","slug":"yesus-menyembuhkan-orang-kusta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9640","title":{"rendered":"Yesus Menyembuhkan Orang Kusta"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Matius 8:1-4<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus setelah selesai mengajar di bukit turun dan diikuti oleh orang banyak. Di saat itulah Yesus didatangi orang yang sakit kusta yang meminta untuk disembuhkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar kisah ini saya teringat sewaktu masih kecil. Saat itu salah seorang penduduk tetangga kampung kami yang dicurigai menderita kusta. Ia memang tidak diperlakukan seperti pada zaman Yesus, yakni dianggap najis dan tidak diizinkan menjadi bagian dari masyarakat. Mereka harus tinggal di pinggiran kota, dan harus membuat kehadiran mereka diketahui setiap kali mereka memasuki kota, sehingga orang lain dapat menghindari segala jenis kontak dengan mereka sehingga tidak terkontaminasi. Tetapi ada perlakukan yang mirip, yakni setiap kali si penderita kusta tetangga kampung saya ini berpapasan dengan orang, orang yang ditemuinya selalu menghindar. Orang lain tidak berjalan ditempat yang bekas dilalui orang kusta tersebut. Bahkan kami sebagai anak-anak suka mengikuti dari jauh, tentu ditempat lain bukan bekas yang dilalui, karena rasa penasaran orang seperti apakah dia itu dan apa yang akan terjadi padanya kalau berpapasan dengan penduduk lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudari-saudaraku terkasih, dalam mukjizat ini, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang kusta, tetapi juga menjangkau dan menjamahnya. Ini mungkin berarti bahwa Yesus tidak dapat dibuat najis oleh apa pun dari luar. Ini juga dapat menunjukkan keinginan Yesus untuk menjangkau penderita kusta secara pribadi dan memperlakukannya sebagai manusia penuh. Di sisi lain doa penderita kusta adalah pelajaran bagi kita tentang makna doa. Dalam doanya, penderita kusta mengakui ketergantungannya pada Yesus secara total dan memiliki iman pada kemauan serta kemampuan Yesus untuk menyembuhkan, \u201cTuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.&#8221;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan untuk kita renungan bersama: Apakah ada orang-orang di sekitar kita yang mengalami perlakukan sebagai penderita kusta? Apakah kita memiliki keberanian untuk menjangkau dan menyentuh mereka hari ini? Dalam doa-doa kita, apakah kita mengungkapkan keyakinan sebagaimana penderita kusta dalam kisah Injil hari ini? Jika Tidak, mengapa tidak?<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan memberkati!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 8:1-4 Dalam injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus setelah selesai mengajar di bukit turun dan diikuti oleh orang banyak. Di saat itulah Yesus didatangi orang yang sakit kusta yang meminta untuk disembuhkan.&nbsp; Mendengar kisah ini saya teringat sewaktu masih kecil. Saat itu salah seorang penduduk tetangga kampung kami yang dicurigai menderita kusta. Ia memang tidak diperlakukan seperti pada zaman Yesus, yakni dianggap najis dan tidak diizinkan menjadi bagian dari masyarakat. Mereka harus tinggal di pinggiran kota, dan harus membuat&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9640\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9640","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9641,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9640\/revisions\/9641"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}