{"id":9780,"date":"2020-08-26T10:07:48","date_gmt":"2020-08-26T17:07:48","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9780"},"modified":"2020-08-26T10:07:48","modified_gmt":"2020-08-26T17:07:48","slug":"hidup-dalam-ketulusan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9780","title":{"rendered":"HIDUP DALAM KETULUSAN"},"content":{"rendered":"\n<p>Rabu, 26 Agustus 2020<br><br>Matius 23;27-32<br>Tuhan Yesus menyatakan dengan keras tentang kemunafikan kepada para<br>ahli Taurat dan Farisi. Mereka dipandang sebagai orang yang berpendidikan dan<br>ketat dalam beragama. Bagi Tuhan Yesus, yang penting soal bagaimana cara hidup<br>seseorang; apakah ia memiliki ketulusan, kejujuran, dan kasih? Dibalik penampilan;<br>yang lembut, santun, dan bijaksana, apakah ia memiliki kejujuran? \u201cDemikian<br>jugalah kamu, di sebelah tampak benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu<br>penuh kemunafikan dan kedurjanaan.\u201d(Mat 23:28).<br>Mengapa Yesus menolak kemunafikan? Karena sikap tersebut melawan<br>kebenaran dan merusak relasi antar manusia, dan manusia dengan Tuhan. Orang<br>yang munafik pada dasarnya orang yang tidak jujur dengan diri sendiri, dengan<br>sesamanya dan dengan Tuhan. Dengan demikian sikap tersebut seseorang tidak<br>menyukai kebenaran dan akan memutarbalikan apa yang ada ; yang benar menjadi<br>salah dan yang salah menjadi benar. Sikap munafik menghalangi seseorang untuk<br>bertemu dengan Tuhan. Sebab dihadapan Tuhan yang Maha Tahu, semuanya<br>tampak jelas, sehingga seseorang tidak bisa menyembunyikan kejahatannya. \u201cDan<br>tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala<br>sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus<br>memberikan pertanggungan jawab.\u201d(Ibrani 4:13).<br>Dengan menyadari akan kebaikan dan kasih Tuhan, seseorang akan sekuat<br>tenaga menjaga kemurnian, kekudusan dan ketulusannya. Kemunafikan bisa<br>dilawan dengan kejujuran. Ketika seseorang bersikap jujur maka tidak ada yang<br>menghalagi kebenaran yang ada. Untuk bisa melakukannya maka diperlukan<br>kepercayaan pada Allah yang Maha Tahu dan kepadanya Allah berkenan. \u201cKetulusan<br>dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.\u201d(Mzm<br>25:21).<br>Ketika seseorang mampu mengalahkan kemunafikan dalam dirinya, maka ia<br>akan beroleh kedamaian dan sukacita. \u201cJiwaku bersukaria kalau bibirmu<br>mengatakan yang jujur.\u201d(Amsal 23:16). Perjuangan seorang beriman adalah terus<br>menerus menyerupai Kristus. Perjuangan tersebut membutuhkan keberanian untuk<br>setia berusaha tulus hati dan jujur. Sebab dengan sikap tulus dan jujur seseorang<br>akan bisa menerima kebenaran dan dengan demikian ia bersatu dengan Allah.<br>Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm Aloysius Didik Setiyawan, CM<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 26 Agustus 2020 Matius 23;27-32Tuhan Yesus menyatakan dengan keras tentang kemunafikan kepada paraahli Taurat dan Farisi. Mereka dipandang sebagai orang yang berpendidikan danketat dalam beragama. Bagi Tuhan Yesus, yang penting soal bagaimana cara hidupseseorang; apakah ia memiliki ketulusan, kejujuran, dan kasih? Dibalik penampilan;yang lembut, santun, dan bijaksana, apakah ia memiliki kejujuran? \u201cDemikianjugalah kamu, di sebelah tampak benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamupenuh kemunafikan dan kedurjanaan.\u201d(Mat 23:28).Mengapa Yesus menolak kemunafikan? Karena sikap tersebut melawankebenaran dan merusak relasi&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9780\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9780","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9781,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9780\/revisions\/9781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}