{"id":9807,"date":"2020-09-09T13:34:11","date_gmt":"2020-09-09T20:34:11","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9807"},"modified":"2020-09-08T08:34:58","modified_gmt":"2020-09-08T15:34:58","slug":"ajaran-cinta-kasih-yang-radikal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9807","title":{"rendered":"Ajaran cinta kasih yang radikal"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><u>Kamis, 10 September 2020<\/u><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Ajaran cinta kasih yang radikal (Luk 6:27-38)<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Radikalisme tak jarang dimaknai sesuatu yang negatif karena mengarah kepada fanatisme terhadap suatu ajaran tertentu. Radikal (berasal dari kata <em>radix<\/em> yang berarti akar) juga berarti suatu sikap yang mengakar dan menjadi pribadi berkarakter tangguh dan kuat. Dalam arti inilah cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus bersifat radikal. Dikatakan suatu ajaran yang radikal karena para murid Kristus membuang jauh tindakan balas dendam terhadap orang yang memusuhi dan sebaliknya melakukan kebaikan bagi orang yang membenci diri kita.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita mengenai mencintai musuh. Sebanyak dua kali Yesus mengajarkan tentang mencintai musuh : berbuatlah baik kepada orang yang mengutuk kalian dan berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bagaimana hal itu mungkin untuk dilakukan? Bagaimana kita bisa mencinta orang yang bersalah kepada kita? Mencintai musuh bukanlah hanya usaha manusia tetapi hanya mungkin karena rahmat Allah. Yesus mengajarkan bagaimana kita memperlakukan setiap orang, bahkan orang yang membenci kita dengan penuh cinta, kemurahan hati dan belas kasih. Allah memberikan berkatNya bagi semua orang tanpa pengecualian. Cinta dan belas kasihNya merangkul semua orang, baik orang berdosa maupun yang saleh hidupnya. Biasanya naluri kita, melakukan kebaikan kepada mereka yang telah melakukan kebaikan bagi kita. Suatu hal yang mudah dan seolah sudah semestinya kita melakukan kebaikan bagi orang yang pernah berbuat baik kepada kita, namun bagaimana sulitnya ketika kita melakukan suatu kebaikan kepada orang yang besalah kepada kita serta melakukan kebaikan tanpa pamrih.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Memberi dan mengampuni (<em>give-forgive<\/em>) seolah menjadi hal yang penting dalam doa, seperti yang dikatakan St. Agustinus. Dengan mengampuni orang lain, kita akan diampuni. Dengan memberi, kita akan menerima. Menurut St. Agustinus memberi dan mengampuni sebagai dua sayap dalam berdoa. Bagaimana hal tersebut dapat kita praktekkan dalam hidup (mengampuni dan memberi)? Bersama Allah, kedua hal tersebut dapat kita lakukan&nbsp; karena Roh Kudus membantu kita. Kasih Allah dan belas kasihNya mengalahkan kejahatan dan dosa.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTuhan Yesus Kristus, cintaMu sungguh memberikan pengampunan. Penuhilah kami dengan Roh KudusMu dan membuat hati kami mampu mencintai dengan hati yang tulus dan memberi dengan kemurahan hati\u201d<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 10 September 2020 Ajaran cinta kasih yang radikal (Luk 6:27-38) &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Radikalisme tak jarang dimaknai sesuatu yang negatif karena mengarah kepada fanatisme terhadap suatu ajaran tertentu. Radikal (berasal dari kata radix yang berarti akar) juga berarti suatu sikap yang mengakar dan menjadi pribadi berkarakter tangguh dan kuat. Dalam arti inilah cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus bersifat radikal. Dikatakan suatu ajaran yang radikal karena para murid Kristus membuang jauh tindakan balas dendam terhadap orang yang memusuhi dan sebaliknya melakukan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9807\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9807","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9807"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9808,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9807\/revisions\/9808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}