{"id":9838,"date":"2020-09-24T13:26:30","date_gmt":"2020-09-24T20:26:30","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9838"},"modified":"2020-09-24T08:27:23","modified_gmt":"2020-09-24T15:27:23","slug":"sudahkah-kita-mengenal-yesus-lebih-dekat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9838","title":{"rendered":"Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?"},"content":{"rendered":"\n<p>Jumat , 25 September 2020<br>Pekan Minggu Biasa XXV<br>Bacaan Injil Lukas 9:19-22<br>Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?<br>Seseorang dikatakan baik atau tidak seringkali tergantung dari kesaksian orang lain yang<br>ada disekitarnya. Orang dikatakan baik atau tidak tergantung cara hidup orang tersebut<br>dalam tindakan dan perkataannya. Semakin lama kita hidup bersama orang lain, semakin<br>kita mengenal dan memahami orang lain. Tentu pandangan kita bisa berbeda-beda satu<br>dengan yang lain sesuai dengan pengalaman kita bersama orang lain.<br>Hal yang sama juga kita dengar dalam bacaan injil hari ini. Setelah sekian lama hidup<br>dengan para muridNya, Yesus rupanya penasaran untuk mengetahui sejauh mana mereka<br>mengenal Dia. Pertanyaan pertama yang ditujukan kepada mereka sesungguhnya sangat<br>umum. Kata orang siapa Yesus itu? Para muridNya tentu mendengar banyak hal tentang<br>gurunya. Apa yang mereka dengarkan mereka dengan bangga mengatakan kepada<br>Yesus. Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, ada yang<br>mengatakan bahwa Yesus adalah Elia, ada pula yang mengatakan bahwa Yesus adalah<br>salah satu dari nabi-nabi dahulu yang telah bangkit. Bagi Yesus, kata orang ini adalah<br>expresi pengalaman mereka bagaimana mereka lihat dan alami apa yang dilakukanNya.<br>Rupanya apa yang mereka alami hampir pasti sama dengan apa yang dengar dan alami<br>sendir dari Yohanes Pembaptis, Elia dan nabi-nabi terdahulu.<br>Pertanyaan Yesus kepada para murid tidak hanya sampaI disitu. Yesus justru mau<br>mengetahui lebih jauh apa pengalaman para murid secara pribadi dengan diriNya. Yesus<br>tentu secara personal mau mendengarkan para muridNya, sejauh mana mereka<br>mengenal Dia. Tentu para murid sendiri mempunyai pengalaman secara personal dengan<br>Yesus. Perjumpaan pribadi dan selalu bersama dengan Yesus tentu berbeda dengan<br>orang-orang lain. Maka jawaban Petrus dari pertanyaan Yesus, Siapakah Aku ini menurut<br>kalian? Menunjukkan bahwa mereka sungguh mempunyai pengalam bereda dengan<br>orang lain. Jawaban Petrus, \u201cMesias dari Allah\u201d menunjukkan bahwa para murid yang<br>diwakili Petrus sungguh mengerti betul siapa itu Yesus. Dengan jawaban tersebut, Yesus<br>sungguh tahu bahwa murid-muridNa sudah siap untuk mengalami pengalaman yang<br>baru. Yesus sungguh mau mempersiapkan mereka untuk menghadapi konsekuensi yang<br>bakal terjadi. Hal ini bisa kita lihat dalam kalimat berikut setelah mendengarkan jawaban<br>Petrus. Yesus berkata: &#8220;Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan<br>ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan<br>dibangkitkan pada hari ketiga.\u201d<br>Ada konsekuensi yang harus mereka siap hadapi. Bahwa mengikuti Yesus tidak hanya<br>mengalami hal-hal yang menyenangkan saja. Akan tetapi harus siap juga untuk masuk<br>dan mengalami pengalaman penderitaan dan penolakan. Lebih lanjut Yesus juga<br>memberikan harapan dan kekuatan bahwa setelah mengalami semua pengalaman<br>tersebut mereka akan mengalami pengalaman yang lebih exclusive lagi yakni<br>kebangkitan (pembebasan).<br>Bagi kita pengikut Kristus, Yesus bertanya kepada kita secara pribadi juga pertanyaan<br>yang sama. Menurutmu, siapakah Aku ini? Tentu masing-masing kita mempunyai<br>jawaban yang berbeda. Apapun jawaban kita, ada konsekuensi yang harus kita terima.<br>Menjadi pengikut Yesus, kita tidak hanya mengalaman pengalaman yang menyenangkan<br>saja. Pengalaman penderitaan dan kekecewaan selalu menjadi bagian dari hidup kita.<br>Pengalaman ditolak karena menjadi pengikut Kristus, dicaci maki, dibenci dsb bukan<br>suatu hal yang aneh. Akan tetapi pengalaman-pengalaman pahit seperti itu tidak akan<br>sebanding dengan apa yang Yesus janjikan kepada kita kelak. Kebangkitan\/Pembebasan<br>kekal akan menjadi jaminan pasti dalam mengikuti Yesus.<br>Mari kita menyadari bahwa pengalaman perjumpaan kita dengan Yesus sungguh menjadi<br>kekuatan kita yang memampukan kita untuk meraih kebahagiaan yang dijanjikan Yesus<br>kepada kita. Apapun kesibukan kita mari kita tetap tingkatkan relasi kita dengan Yesus<br>sehingga kita semakin lebih dekat denganNya. Dengan demikian, kita diharakan<br>mempunyai perkataan dan perbuatan sama seperti yang dilakukan oleh Yesus juga. Mari<br>kita terus bertekun. Amin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat , 25 September 2020Pekan Minggu Biasa XXVBacaan Injil Lukas 9:19-22Sudahkah kita mengenal Yesus lebih dekat?Seseorang dikatakan baik atau tidak seringkali tergantung dari kesaksian orang lain yangada disekitarnya. Orang dikatakan baik atau tidak tergantung cara hidup orang tersebutdalam tindakan dan perkataannya. Semakin lama kita hidup bersama orang lain, semakinkita mengenal dan memahami orang lain. Tentu pandangan kita bisa berbeda-beda satudengan yang lain sesuai dengan pengalaman kita bersama orang lain.Hal yang sama juga kita dengar dalam bacaan injil hari ini. Setelah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9838\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9838","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9838"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9839,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838\/revisions\/9839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}