{"id":9840,"date":"2020-09-25T13:37:01","date_gmt":"2020-09-25T20:37:01","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9840"},"modified":"2020-09-25T12:37:40","modified_gmt":"2020-09-25T19:37:40","slug":"tuhan-menjadi-prioritas-utama-dalam-hidupmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9840","title":{"rendered":"Tuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?"},"content":{"rendered":"\n<p>Sabtu , 26 September 2020<br>Pekan Minggu Biasa XXV<br>Bacaan I Pkh 11:9-12:8; Injil Luk 9:43b-45<br>PF S. Kosmas dan S. Damianus, Martir<br>Tuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?<br>Pandemic covid 19 membuka mata kita semua bahwa hidup kita secara material<br>tampaknya tidak bisa dibanggakan. Segala kehebatan akal budi yang tampak lewat<br>kemajuan teknologi untuk sementara belum bisa mengatasi virus yang telah mematikan<br>ribuan jiwa manusia. Semakin hebat penemuan manusia dengan teknologi yang canggih<br>rupanya tidak membuat manusia serta-merta hidup dalam kebahagiaan. Banyak orang<br>yang mengandalkan kehebatan manusiawinya ternyata harus menyadari bahwa<br>kehebatanya tidak mampu menjinakan virus ini. Lalu pertanyaan yang muncul dalam<br>benak kita, kepada siapa kita harus bersandar? Bagi kita yang mengimani Tuhan, kita<br>bisa menjawab hanya Tuhan yang memampukan kita untuk menenmukan cara yang baik<br>dalam mengatasi virus ini; bagi mereka yang tidak percaya Tuhan mungkin mereka tetap<br>mengandalkan logika berpikir mereka untuk terus mencari berbagai macam cara untuk<br>mengatasinya tanpa mengandalkan Tuhan.<br>Hari ini dalam bacaan pertama kita diingatkan oleh kitab pengkhotbah untuk tetap<br>waspada. Jangan mengandalkan kemampuan manusiawi kita sampai melupakan Tuhan<br>yang telah memberikan segala sesuatu kepada kita secara gratis.<br>Kita yang selalu mengandalkan kemampuan dan kehebatan kita hendaklah mulai sadar<br>bahwa segala yang kita miliki bukan berasal dari diri kita. Segala kehebatan kita<br>sesungguhnya telah dianugerahkan kepada kita sejak semula, kita hanya<br>mengembangkan dan memaksimalkannya.<br>Kita bisa saja mengandalkan diri kita selama kita merasa masih kuat. Akan tetapi ingat<br>bahwa sekuat-kuatnya diri kita, satu saat kita harus menerima kenyataan bahwa kita<br>tidak bisa mengandalkan kehebatan diri kita.<br>Kitab pengkotbah mengajak kita untuk terus menerus menyadari akan singkatnya<br>hidup kita di dunia ini. Pengkotbah mengingatkan kita, janganlah berbangga dengan halhal lahiria yang menyenangkan sesaat. Hendaklah kita juga memikirkan hal-hal yang<br>membuat kita bahagia di akhirat. Jangan mengumpulkan materi yang menyesatkan kita<br>untuk tidak lagi mengakui dan mengandalkan Tuhan yang telah mempercayai hidup ini<br>kepada kita. Jangan selalu mengikuti keinginan hati dan pikiran kita semata seolah-olah<br>kita tidak mempunyai Tuhan.<br>Sangat membahagiakan bagi kita karena kita diingatkan untuk tidak pernah melupakan<br>Tuhan disaat kita kuat dan merasa bisa melakukan segala sesuatu. Hendaknya dalam<br>situasi apapun kita terus mengandalkan Tuhan.<br>Pertanyaan buat permenungan kita: apakah kita selalu mengandalkan Tuhan dalam<br>hidup kita? Apakah Tuhan menjadi prioritas dalam hidup kita? Apakah kita hanya datang<br>kepada Tuhan ketika kita dalam keadaan kepepet, sulit dan menederita? Apakah kita juga<br>bersyukur ketika kita mengalami kebahagiaan dan sukacita?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu , 26 September 2020Pekan Minggu Biasa XXVBacaan I Pkh 11:9-12:8; Injil Luk 9:43b-45PF S. Kosmas dan S. Damianus, MartirTuhan menjadi Prioritas utama dalam hidupmu?Pandemic covid 19 membuka mata kita semua bahwa hidup kita secara materialtampaknya tidak bisa dibanggakan. Segala kehebatan akal budi yang tampak lewatkemajuan teknologi untuk sementara belum bisa mengatasi virus yang telah mematikanribuan jiwa manusia. Semakin hebat penemuan manusia dengan teknologi yang canggihrupanya tidak membuat manusia serta-merta hidup dalam kebahagiaan. Banyak orangyang mengandalkan kehebatan manusiawinya ternyata harus&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9840\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9840","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9840"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9841,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9840\/revisions\/9841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}