{"id":9885,"date":"2020-10-06T13:44:04","date_gmt":"2020-10-06T20:44:04","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9885"},"modified":"2020-10-06T12:44:55","modified_gmt":"2020-10-06T19:44:55","slug":"yesus-mengajar-bagaimana-kita-berdoa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9885","title":{"rendered":"Yesus mengajar bagaimana kita berdoa"},"content":{"rendered":"\n<p>HARI RABU DALAM MINGGU KE 27<\/p>\n\n\n\n<p>7 Oktober, 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Galatia 2:1-2, 7-14<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 11:1-4<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudari terkasih,<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&#8220;Doa Bapak kami&#8221; sudah menjadi doa resmi dalam perayaan liturgi untuk setiap umat Kristen; dimana versi doa Bapak kami ini dapat kita jumpai baik di injil Lukas maupun Matius.<\/p>\n\n\n\n<p>Didalam doa Bapak kami, pertama-tama dialamatkan kepada Allah Bapak kita, memuliakan nama Allah sebagaimana kita dengar dalam bacaan injil hari ini dan yang dilanjutkan dengan permohonan: &#8220;datanglah kerajaanMu.&#8221; Di bagian ini menunjukkan harapan kita bahwa Kristus akan datang kembali, dan memohon agar Bapak berkenan memberkati usaha kita membangun KerajaanNya di bumi ini. Dalam pelajaran katekismus kita ingat akan adanya tatanan permohonan itu, dimana berdoa untuk kerajaanNya, kedatanganNya dan kerjasama kita dengan kerajaan itu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Bentuk kerjasama apa yang kita perlu untuk membangun kerajaan Allah yang kita mohon? Pertama, adalah Roti sehari-hari, mengajarkan kita untuk mengakui ketergantungan kita kepada Allah baik &nbsp;untuk pemenuhan rohani maupun jasmani. Kitapun mengungkapkan kerinduan kita akan Yesus, yang adalah Roti kehidupan. Tubuh dan Darah Yesus sudah menjadi kekuatan untuk kedatangan Kerajaan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Berikut, kita berdoa untuk pengampunan. Untuk mengampuni sesama, kita membutuhkan pengampunan dan belaskasih Allah. Kristus adalah Raja Damai. Kalau kita mau hidup dalam kerajaanNya, kita harus berusaha hidup dalam damai, memiliki kedamaian dalam hati kita sendiri dan hidup damai dengan sesama.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Akhirnya, kita berdoa untuk pelepasan\/pembebasan dari segala macam bahaya, dari segala yang jahat. Kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan menghadapi penghakiman di akhir zaman. Kita berdoa bahwa kita akan siap selalu kapan saja dan dimana saja waktunya akan tiba.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Oleh karens itu saudara-saudari terkasih. Doa Bapak kami dapat membantu kita untuk berbicara dengan Allah sebagai bapak kita, maka doa Rosary pun dapat membantu kita untuk mohon kepada Bunda Maria untuk bantuannya dan ikut bersama kita dalam berdoa. Hari ini, Bunda Gereja merayakan peringatan &#8220;Maria Ratu Rosary.&#8221; Ini adalah satu ungkapan rasa syukur kita akan kesinambungan dan kosistensi Bunda Maria berdoa bersama dan untuk kita. Hari ini juga kita semua perlu ingat akan perayaan Ratu Rosary yang sudah dimulai sejak akhir abad ke 15. Dimana pada tahun 1571 perayaan hari ini sudah ditegaskan lagi oleh Paus Pius V, kemudian dirayakan lagi secara khusus dalam gereja oleh Paus Clemens X. Semoga dengan berdoa Rosary iman kita dipupuki, dipelihara, dan menghasilkan buah-buah iman lewat mistery-misterynya. Selanjutnya perayaan hari ini diingatkan kembali oleh Paus Pius XI. Semoga refleksi hari ini berguna\/bermanfaat bagi kita, meningkatkan semangat doa-doa kita. Amin.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HARI RABU DALAM MINGGU KE 27 7 Oktober, 2020 Galatia 2:1-2, 7-14 Lukas 11:1-4 Saudara-saudari terkasih, &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&#8220;Doa Bapak kami&#8221; sudah menjadi doa resmi dalam perayaan liturgi untuk setiap umat Kristen; dimana versi doa Bapak kami ini dapat kita jumpai baik di injil Lukas maupun Matius. Didalam doa Bapak kami, pertama-tama dialamatkan kepada Allah Bapak kita, memuliakan nama Allah sebagaimana kita dengar dalam bacaan injil hari ini dan yang dilanjutkan dengan permohonan: &#8220;datanglah kerajaanMu.&#8221; Di bagian ini menunjukkan harapan kita bahwa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9885\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9885","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9885"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9885\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9886,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9885\/revisions\/9886"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}