{"id":9897,"date":"2020-10-12T07:55:51","date_gmt":"2020-10-12T14:55:51","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9897"},"modified":"2020-10-12T07:55:51","modified_gmt":"2020-10-12T14:55:51","slug":"beriman-dan-terus-belajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9897","title":{"rendered":"BERIMAN DAN TERUS BELAJAR"},"content":{"rendered":"\n<p>Senin, 12 Oktober 2020<br><br>Lukas 11:29-32<br>Para tua-tua bangsa Yahudi meminta tanda atau bukti kepada Yesus. Mereka<br>tidak akan bisa melihat tanda, jika mereka belum membuka hati dan percaya kepada<br>Yesus Kristus. Oleh karena itu suatu yang menyedihkan dan jahat karena mereka telah<br>menerima banyak namun tetap menolak. Karena hati mereka masih belum terbuka,<br>maka tidak ada tanda yang cukup yang bisa membuat mereka percaya. \u201cAngkatan ini<br>adalah angkatan yang jahat. Mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi<br>Yunus.\u201d(Luk 11:29).<br>Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan<br>hidupnya. Oleh karena itu, jika seseorang menjawab panggilan Tuhan, ia pertama-tama<br>memiliki landasan, yaitu percaya kepada-Nya. Ketika seseorang percaya maka rahmat<br>keselamatan berkarya dalam hidup seseorang, sehingga setiap peristiwa yang terjadi<br>menjadi tanda kehadiraan Tuhan yang sedang menyapa. Sebaliknya jika seseorang ragu<br>atau bahkan tidak percaya, maka apapun yang telah dilakukan Tuhan, tidak akan ada<br>artinya. \u201c Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah berilah dirimu<br>dibaptis, dan dosa-dosamu disucikan, sambil berseru kepada nama Tuhan.\u201d(Kis 22:16).<br>Orang yang sungguh percaya tidak sama dengan orang yang beragama. Lamanya<br>seseorang menjadi Katolik belum menjamin seseorang bisa sungguh percaya kepada<br>Kristus. Mengapa bisa demikian? Karena bisa saja seseorang mengaku sebagai Katolik<br>atau murid Kristus, namun cara hidupnya tidak menyerupai Kristus. Sebaliknya<br>seseorang dikatakan sungguh percaya, ketika ia berani meninggalkan cara hidup yang<br>jahat, dan memilih hidup secara benar, jujur, adil, rendah hati dan penuh kemurahan.<br>Orang-orang yang demikian, bisa jadi sebagai orang-orang muda atau belum lama<br>dibaptis yang memiliki semangat melayani Tuhan dalam diri sesama dan yang kreatif<br>mengembangkan dan mewartakan iman di kalangan orang-orang di jaman melenial ini.<br>\u201cTetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir<br>akan menjadi yang terdahulu.\u201d(Mat 19:30).<br>Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang yang telah<br>dibaptis, mau mengembangkan imannya. Jika seseorang malas dan tidak tekun<br>menghanyati dan mengembangkan imannya, ia seperti mengubur iman tersebut,<br>sehingga imannya tidak berdampak dalam kata dan tingkah-lakuknya. Sebaliknya<br>seseorang yang mau terus belajar, walaupun jatuh-bangun dan tidak putus asa untuk<br>belajar berbenah diri, maka ia akan melipatgandakan imannya dalam karya-karya yang<br>nyata. \u201cSebab itu ambilah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang<br>mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan<br>diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga<br>yang ada padanya akan diambil dari padanya.\u201d(Mat 25:28-29).<br>Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. Aloysius Didik Setiyawan, CM<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 12 Oktober 2020 Lukas 11:29-32Para tua-tua bangsa Yahudi meminta tanda atau bukti kepada Yesus. Merekatidak akan bisa melihat tanda, jika mereka belum membuka hati dan percaya kepadaYesus Kristus. Oleh karena itu suatu yang menyedihkan dan jahat karena mereka telahmenerima banyak namun tetap menolak. Karena hati mereka masih belum terbuka,maka tidak ada tanda yang cukup yang bisa membuat mereka percaya. \u201cAngkatan iniadalah angkatan yang jahat. Mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabiYunus.\u201d(Luk 11:29).Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9897\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9897","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9897"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9897\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9898,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9897\/revisions\/9898"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}