{"id":9917,"date":"2020-10-18T20:43:50","date_gmt":"2020-10-19T03:43:50","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9917"},"modified":"2020-10-18T20:43:50","modified_gmt":"2020-10-19T03:43:50","slug":"manusia-tidak-hanya-hidup-dari-roti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9917","title":{"rendered":"MANUSIA TIDAK HANYA HIDUP DARI ROTI"},"content":{"rendered":"\n<p>Senin, 19 Oktober 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 12: 13-21<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah bagaimana Yesus diminta memberi solusi soal warisan, terasa ironis. Tetapi itulah yang sering (atau selalu) dilakukan banyak orang, mungkin termasuk kita. Doa dan harapan kita penuh permintaan agar Tuhan intervensi dalam perkara yang mestinya urusan kita. Kita mohon Tuhan ikut intervensi soal warung dan dapur kita. Urusan sekolah dan pernikahan anak kita pun kita lemparkan pada Tuhan. Banyak yang mohon Tuhan membela kampanye politik dan memenangkan pilkada atau agar sukses dalam demo \u2026dst. Tentu tidak seluruhnya salah. Tapi seringkali secara tidak sadar kita meminta Tuhan memberkati keserakahan kita, selera dan nafsu kelekatan kita akan yang duniawi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebenarnya semua urusan dunia ini mestinya menjadi tanggungjawab manusia, bukan dilempar lagi menjadi \u201curusan\u201d Tuhan. Kalaupun ada permohonan, kita mohon sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh dunia. Mungkin kita bisa mohon agar lebih bertanggungjawab, lebih beriman, lebih bisa mengasihi atau mengampuni, lebih murah hati, berani jujur dan seterusnya. Inipun perlu ditindaklanjuti lewat latihan dan tindakan konkret. Tanpa itu, doa menjadi tak serius dan bahkan sembrono, sehingga ada bahaya dalam hidup kita mengikuti diri sendiri meski kita sering berdoa.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa berbagai doa, perayaan Ekaristi, Ziarah dan bahkan puasa yang selama ini kita lakukan, tidak mengubah kualitas hidup sebagaimana mestinya? Banyak yang ragu menjawab, karena jawabannya atas pertnyaan ini terasa pedih. Antara lain kita terlalu sering minta Tuhan intervensi dalam hidup, sementara kita belum melakukan yang terbaik. Itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa ada fenomena pendangkalan hidup manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tahu dan sadar bahwa identitas kita ini ilahi, karena kita adalah citra Allah. Itulah sebabnya manusia tidak hanya hidup dari roti. Tetapi pengalaman selama ini, kita sibuk dengan urusan roti dan minta Tuhan menyetujui dan dan membantu kesibukan dan keserakahan kita itu. Dimanakah sifat spiritual, transendental dan ilahi kita? Sifat ilahi itu rahmat yang hanya akan tumbuh kalau dibagikan pada sesama. Kalau anugerah tidak mengalir keluar dari diri sendiri, maka rahmat bisa berubah menjadi racun yang membuat pohon ara itu mandul atau pohon anggur berbuah masam.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap manusia diberi anugerah cukup untuk membuat hidupnya bermakna dan mendalam. Kuncinya tentu kedekatan dan kesatuan kita dengan Tuhan. Selain doa, ada cara lain mendekatkan diri padaNya, seperti pendisiplinan diri, penyangkalan diri demi pelayanan atau apapun namanya. Salah satu tanda kedekatan kita pada Tuhan adalah adanya kegembiraan dan kebahagiaan batin karena berbagi, meski itu berarti mendisiplinkan kecenderungan egois kita agar tidak menjadi duniawi. Ini tidak mudah, karena kita setiap saat dibombardir oleh pesan duniawi lewat medsos dengan segala nilai dan mentalitasnya. Hanya kalau Tuhan diberi ruang dalam batin kita, maka kita bisa menjadi orang yang cerdas secara rohani; dan tidak tumbuh menjadi orang bodoh seperti dalam perumpamaan ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 19 Oktober 2020 Lukas 12: 13-21 Kisah bagaimana Yesus diminta memberi solusi soal warisan, terasa ironis. Tetapi itulah yang sering (atau selalu) dilakukan banyak orang, mungkin termasuk kita. Doa dan harapan kita penuh permintaan agar Tuhan intervensi dalam perkara yang mestinya urusan kita. Kita mohon Tuhan ikut intervensi soal warung dan dapur kita. Urusan sekolah dan pernikahan anak kita pun kita lemparkan pada Tuhan. Banyak yang mohon Tuhan membela kampanye politik dan memenangkan pilkada atau agar sukses dalam demo&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9917\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9917","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9917"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9917\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9918,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9917\/revisions\/9918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}