{"id":9919,"date":"2020-10-19T13:44:03","date_gmt":"2020-10-19T20:44:03","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9919"},"modified":"2020-10-18T20:44:54","modified_gmt":"2020-10-19T03:44:54","slug":"siap-siaga-sebagai-sikap-dasar-murid-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9919","title":{"rendered":"SIAP SIAGA SEBAGAI SIKAP DASAR MURID YESUS"},"content":{"rendered":"\n<p>Selasa, 20 Oktober 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 12: 35-38<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Pinggang terikat menandakan kesiapan untuk kerja keras, berjuang mengatasi tantangan, memulai perjalanan jauh, siap menyelesaikan tanggungjawab dan semacamnya. Pelita hanya bermakna di malam hari. Pelita menyala agar tak tersandung, tidak salah lihat, tidak tersesat, bisa kenali baik buruk, mampu membedakan bisikan Roh Kudus dari roh jahat. Pelita itu ialah Roh Kudus yang dianugerahkan dalam diri kita. \u2026 Pelita kita mesti menyala dengan minyak yang cukup \u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Pada jaman Yesus kedua istilah itu sudah sangat umum dipahami sebagai lambang siap siaga selalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Di jaman kita pun ciri kemuridan pada Yesus ialah siap siaga. Lantas bagaimana kesiapsiagaan itu mesti dimaknai dan dihayati di jaman ini?. Di tengah dunia yang penuh dengan keculasan, kebohongan, hoax, kemunafikan \u2026 apakah aku masih memiliki kemampuan dan siap sedia untuk hidup jujur, berusaha tumbuh sebagai pribadi otentik dan tidak terus menambah koleksi topeng-topeng kepalsuan? Di tengah masyarakat dengan corong medsos yang banyak menebarkan kebencian, rasis, intoleran, kecurigaan \u2026 apakah aku masih memiliki kerinduan untuk bersaudara dengan tulus, kemampuan dan siap untuk menebarkan toleransi yang benar, menghormati martabat orang lain dalam pluralitas yang sehat, keinginan untuk terlibat dalam membangun solidaritas lintas batas? Dalam masyarakat yang sangat narsis, instant, hedonis, superfisial \u2026 apakah aku masih memiliki stamina dan kemampuan untuk melayani dengan tulus, mampu memperjuangkan kebenaran dalam kesunyian, tetap setia dalam karya meski tidak mendapat tepuk tangan \u2026 Dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi murid Yesus di jaman ini mungkin perlu pelita lebih terang dan tahan lama, karena tantangan yang kita hadapi semakin kompleks dan masif. Kita juga memerlukan ikat pinggang yang kuat dan ketat agar tidak terlena dan tertidur.<\/p>\n\n\n\n<p>Musuh utama pertumbuhan kualitas manusiawi dan rohani ialah kemapanan dan kenyamanan: merasa sudah tahu dan tak perlu belajar, merasa sudah cukup beriman dan tak perlu bertobat, merasa sudah cukup berbuat baik dan tak perlu lagi belajar dari orang lain \u2026 dan seterusnya. Kemapanan dan kenyamanan memang bikin kita ngantuk dan tertidur. Tidak siap siaga. Juga dalam hidup rohani.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi siapapun yang mau mengikuti Tuhan dan memuliakanNya, tidak ada istilah cukup, apalagi minimalis dan ala kadarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa dikatakan bahwa tanda kesiapsiagaan spiritual ialah kalau kita masih memiliki kemauan dan kemampuan untuk penyangkalan diri dan pendisiplinan diri (apapun bentuknya). Kalau self-denial ini sudah tidak ada, ini salah satu tanda kalau jiwa kita sedang tertidur dan tidak siap siaga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 20 Oktober 2020 Lukas 12: 35-38 Pinggang terikat menandakan kesiapan untuk kerja keras, berjuang mengatasi tantangan, memulai perjalanan jauh, siap menyelesaikan tanggungjawab dan semacamnya. Pelita hanya bermakna di malam hari. Pelita menyala agar tak tersandung, tidak salah lihat, tidak tersesat, bisa kenali baik buruk, mampu membedakan bisikan Roh Kudus dari roh jahat. Pelita itu ialah Roh Kudus yang dianugerahkan dalam diri kita. \u2026 Pelita kita mesti menyala dengan minyak yang cukup \u2026 Pada jaman Yesus kedua istilah itu sudah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9919\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-9919","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9919"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9919\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9920,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9919\/revisions\/9920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}