{"id":9986,"date":"2020-11-17T13:41:14","date_gmt":"2020-11-17T21:41:14","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=9986"},"modified":"2020-11-17T13:41:14","modified_gmt":"2020-11-17T21:41:14","slug":"arti-sebuah-kepercayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=9986","title":{"rendered":"Arti Sebuah Kepercayaan"},"content":{"rendered":"\n<p>Rabu pada Pekan Biasa ke-33<\/p>\n\n\n\n<p>18 November 2020<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 19:11-28<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini kita mendengarkan perumpamaan tentang seorang tuan yang membagikan uang mina. Uang mina merupakan jenis uang yang digunakan oleh orang-orang Yunani. Satu misa sama dengan 100 drakma dan satu drakma sama dengan upah satu hari kerja. Perumpamaan ini merupakan versi Lukas dari perumpamaan talenta di Matius [Mat 25:14-30].<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita lihat lebih mendalam perumpamaan ini, sebenarnya ada sesuatu yang lebih mendasar daripada besaran uang yang diberikan. Hal ini adalah relasi antara sang tuan dan para hambanya. Perumpamaan kita hari ini berbicara tentang relasi yang berlandaskan pada sebuah kepercayaan. Tuan rumah berani memberi hartanya kepada hamba-hamba-Nya karena ia tahu karakter dan kemampuan mereka, dan memiliki kepercayaan kepada mereka. Di sisi lain, dua hamba bekerja keras untuk melipatgandakan uang karena mereka menaruh kepercayaan kepada tuan mereka bahwa kerja keras mereka akan dihargai dengan adil. Pelipatgandaan mina sebenarnya adalah tanda lahiriah relasi manusia yang berdasarkan kepercayaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepercayaan membangun setiap relasi antar manusia yang otentik. Dari persahabatan sederhana antara dua teman hingga demokrasi kompleks yang melibatkan jutaan warga, semuanya dimulai dengan kepercayaan dan hanya bisa bertahan karena kepercayaan yang sama. Sebuah pernikahan yang sejati dimulai dengan cinta kasih dan kepercayaan antara suami dan istri. Tanpa kepercayaan, tidak mungkin seorang pria akan memberikan seluruh dirinya kepada istrinya dan begitu juga sang wanita terhadap suaminya. Ini sebabnya Gereja hanya melihat pernikahan sebagai sah dan tak terceraikan ketika kedua mempelai memasuki relasi pernikahan mereka dalam kebebasan, cinta kasih dan kepercayaan. Niat-niat lain yang melandasi pernikahan seperti kepentingan pribadi, pencarian kesenangan atau paksaan membuat pernikahan otomatis tidak sah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya, tidak semua hubungan yang dibangun di atas kepercayaan. Kepalsuan dan dusta bersumber pada kepentingan pribadi dan egosentrisme memotivasi beberapa orang untuk masuk ke dalam relasi. Lalu, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka meninggalkan begitu saja pihak lain dalam kehancuran. Hal ini terjadi ketika seorang gadis membuka rahasia teman dekatnya; ketika seorang suami meninggalkan istrinya karena ia tidak lagi cantik dan kaya; atau, saat politisi berjanji palsu hanya untuk memenangkan pemilu. Karena itu, kepercayaan selalu melibatkan risiko. Kita tidak bisa membaca niat orang lain dan meramalkan peristiwa yang akan terjadi. Kita menjadi tidak berdaya dan rentan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa sang tuan percaya kepada hamba-hambanya meskipun ia menghadapi ketidakpastian akan masa depan? Perumpamaan hari ini sungguh mengajarkan kita bahwa selalu ada risiko, ketidakpastian dan bahaya, namun intinya adalah bahwa tuan rumah tidak menyerah pada rasa takutnya. Ia mengerti bahwa hanya sebuah kepercayaan yang bisa melahirkan kepercayaan dalam diri orang lain. Mempercayai seseorang adalah hal yang sangat berisiko, tetapi tanpa memberikan kepercayaan kita, \u2018mina\u2019 yang kita miliki tidak akan tumbuh dan mempengaruhi kehidupan orang lain. Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin mengajarkan kita cara untuk membangun sebuah komunitas manusia yang sejati. Ini dimulai dengan kepercayaan yang kecil dan kemudian tumbuh dan berlipat-ganda karena kita berani untuk memberikan kepercayaan kita kepada sesama.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu pada Pekan Biasa ke-33<br \/>\n18 November 2020<br \/>\nLukas 19:11-28<\/p>\n<p>Hari ini kita mendengarkan perumpamaan tentang seorang tuan yang membagikan uang mina. Uang mina merupakan jenis uang yang digunakan oleh orang-orang Yunani. Satu misa sama dengan 100 drakma dan satu drakma sama dengan upah satu hari kerja. Perumpamaan ini merupakan versi Lukas dari perumpamaan talenta di Matius [Mat 25:14-30].<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[67],"class_list":["post-9986","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan","tag-valentinus-bayuhadi-ruseno"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9986","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9986"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9986\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9987,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9986\/revisions\/9987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9986"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9986"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9986"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}