Browsed by
Author: admin

Minggu Biasa XXX C

Minggu Biasa XXX C


(Sir. 35:12-14.16-18; 2Tim. 4:6-8.16-18; Luk. 18:9-14)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita diajak untuk berdoa tanpa henti dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan yang selalu memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Hari ini, Yesus melanjutkan pengajaran itu dengan menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa doa yang berkenan di hadapan Allah lahir bukan dari kata-kata indah, melainkan dari hati yang rendah dan tulus.
Dalam perumpamaan-Nya, Yesus menghadirkan dua pribadi yang datang berdoa ke Bait Allah: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Si Farisi berdoa dengan penuh kebanggaan diri. Ia menyebutkan perbuatan-perbuatan baiknya, ia tidak seperti pencuri, pezinah, atau pemungut cukai; ia berpuasa dua kali seminggu dan membayar persepuluhan. Kata-katanya tampak benar, tetapi hatinya jauh dari kerendahan. Ia berdoa bukan untuk memuji Allah, melainkan untuk meninggikan dirinya.
Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh di belakang. Ia menundukkan kepala dan dengan penuh penyesalan hanya berbisik lirih, “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa.” Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan, hanya kerendahan hati yang jujur di hadapan Allah. Dalam pandangan manusia, ia hina; tetapi dalam pandangan Tuhan, dialah yang dibenarkan.
Saudara-saudariku, di sini Yesus ingin mengubah cara kita memandang doa dan iman. Allah tidak terpesona oleh kesalehan yang tampak di luar, tetapi oleh hati yang tulus mengakui kerapuhannya. Ia tidak mencari orang sempurna, tetapi mereka yang mau datang kepada-Nya dengan hati terbuka, memohon belas kasih dan kekuatan untuk berubah.
Kita semua punya sisi seperti si Farisi, mudah merasa lebih baik dari orang lain, menilai, bahkan mungkin tanpa sadar meninggikan diri dalam doa kita. Namun Yesus mengundang kita belajar dari pemungut cukai: datang dengan kesadaran bahwa tanpa kasih Tuhan, kita bukan apa-apa. Kerendahan hati inilah pintu bagi rahmat Allah bekerja dalam hidup kita.
Doa sejati, saudara-saudariku, bukan sekadar mengucap syukur dengan bibir, melainkan sikap hati yang selalu tahu bersyukur dan tidak menghina sesama. Doa sejati adalah perjumpaan penuh kasih dengan Allah, di mana kita menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah, dan karena itu kita pun terdorong untuk menjadi berkat bagi sesama.
Semoga dalam setiap doa kita, tersirat kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, Engkaulah kekuatanku.” Semoga kita selalu hidup dalam kesadaran akan belas kasih-Nya, dan dalam kerendahan hati itu, Tuhan pun memandang kita dengan penuh kasih sebagai orang yang dibenarkan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

“HARAPAN RADIKAL”

“HARAPAN RADIKAL”

Kamis, 23 Oktober 2025

Lukas 12:49-53

          “Bersama Yesus hatiku tenang … Di dalam Yesus aku aman sentosa … Hanya pada Tuhan Yesus ada kelegaan … Yesuslah Sang Pembelaku … Yesus satu-satunya tempatku untuk berlindung dan berkeluh kesah … Yesus Tuhan yang menaungi hidupku …” dan masih banyak lagi ungkapan yang dapat saya dan Anda katakan untuk memberikan makna akan Yesus yang kita imani. Apakah salah? Tentunya bukan perkara salah dan benar, bukan juga soal baik atau buruk, apalagi soal keren atau captionable (caption instragam yang menarik). Ada satu hal yang tidak terpisahkan dari perjalanan dan peziarahan hidup beriman kita dalam mengenal dan memhami amanat Yesus dalam rutinitas keseharian kita.

          Hari ini Yesus memberikan pernyataan tegas dalam Injil Lukas yang bisa saja mengejutkan dan mengguncang ekspektasi kita pada Yesus sendiri. …”Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!” … “Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan!” … Perkataan Yesus kepada para murid yang memancing pertanyaan juga bagi saya dan Anda, apa maksud perkataan Yesus ini? Yesus “melemparkan api” ke bumi sebagai lambang Firman-Nya yang terus menerus akan menjadi sarana pemurnian diri setiap orang. Api yang memurnikan pertimbangan pikiran kita, motivasi kita untuk melakukan aksi, hati yang tetap terarah pada kebaikan dan kebenaran, dan setiap pilihan tindakan manusiawi yang kita setiap waktu dalam berbagai situasi dan persoalan. Api yang diharapkan terus menyala agar kualitas iman pun senantiasa terjaga. Mengapa demikian?

          Jawabannya bukan terletak pada narasi ide dan refleksi semata. Jawaban dari Sabda Tuhan ini ada dalam pergumulan dan perjuangan hidup kita setiap harinya. Ada banyak godaan yang membawa kita larut pada hiruk pikuk dunia, ada banyak tawaran dunia yang lebih menarik perhatian dan keinginan sesaat kita, ada banyak hiburan manusiawi yang mengabaikan sisi rohani yang perlu kita rawat, ada banyak penolakan dari orang-orang di sekitar kita ketika berupaya menyampaikan apa yang sejalan dengan kehendak dan Sabda-Nya, ada berbagai kelemahan manusiawi kita yang akhirnya membuat kita enggan untuk terus bertahan hidup baik dan benar di hadapan-Nya. Bahkan, tak jarang pikiran, pertimbangan, dan pilihan hidup kita membawa kita semakin jauh dari Allah sendiri. Kekuatan dunia dengan segala tawarannya terasa dan terlihat jauh lebih indah dan menyenangkan. Lantas, sekali lagi kita diingatkan dan disadarkan, apakah api iman itu masih menyala dan mampu memurnikan diri ini?

          Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus, hidup dalam damai akan selalu menjadi kerinduan hati setiap orang. Namun, damai yang sesungguhnya butuh upaya pemurnian yang terus menerus tanpa mengenal kata selesai selama dan selagi kita berada di dunia ini. Kiranya Sabda Tuhan hari ini menjadi pegangan bahwa langkah peziarahan hidup kita hari ini adalah upaya pemurnian iman yang tanpa henti.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »