Browsed by
Author: admin

Sabtu Pekan Biasa XXIII

Sabtu Pekan Biasa XXIII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
12 September 2026
1Kor 10: 14-22 + Mzm 116 + Luk 6: 43-49

Lectio
Suatu hari Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Lectio
‘Yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya’. Secara psikologis benar apa yang dikatakan Yesus. Namun lebih dari itu, Yesus tentunya lebih tahu apa yang dipikirkan dan hendak dilakukan seseorang (Mzm 139). Adakah orang bangga karena sakit, malah tertawa ria? Itulah realitas hidup. Yang lahiriah, inderawi seringkali mengungkapkan kedalaman diri seseorang.
Karena itu Yesus menegur keras orang-orang bersikap munafik ‘Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?’. Yesus yang tahu isi hati umatNya menegur mereka. Karena memang yang dilafalkan mulutnya itu, tidak mengungkapkan dan jauh dari isi hatinya. Mereka berseru-seru Tuhan, Tuhan, sepertinya hanya sebatas kata penghiburan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Yesus amat mengharapkan setiap orang menjadi pendengar dan pelakasana sabda, sebagaimana ditegaskan santo Yakibus. ‘Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya, isama dengan seorang yang mendirikan rumah dengan menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan’, tegas Yesus sendiri. Sabda Yesus adalah kebenaran dan hidup. Melaksanakan sabdaNya membuat hidup semakin hidup. Dia pun akan menjadi saudara dan saudariNya, yang kelak aakan menikmati KerajaanNya yang mulia.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau mengetahui isi hati dan budi setiap orang. Engkau tidak mengehndak orang berkata-kata mansis hanya untuk menutup diri atau penghiburan bagi sesamanya, bia memang mereka tidak melakukan sabda dan kehendakMu yang memberi kehidupan. Bantulah kami selalu untuk mengamni sabda dan kehdndakMu dalam perilaku kami sehari-hari. Amin.

Contemplatio
‘Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?’.

Dipanggil Menjadi Bahagia

Dipanggil Menjadi Bahagia

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 6:20-26

Rabu 9 September 2026

              Ketika seseorang ulang tahun, biasanya diberi ucapan, “selamat dan sukses”. Ada tetapi sangat jarang yang memberi ucapan “selamat dan bahagia”. Jika kita refleksikan dengan tenang “sukses” biasanya dimengerti, dipahami sebagai puncak. Artinya orang yang telah mencapai puncak dikatakan sukses. Sebaliknya jika belum sampai dipuncak, dia belum sukses. Sementara bahagia tidak perlu menunggu puncak. Dalam perjalanan menujun puncak, orang bisa menemukan, merasakan kebahagiaan. Karenanya panggilan hidup kita adalah bahagia, bukan sukses. Itulah yang diserukan Yesus, “berbahagialah” dan bukan “sukseslah”.

Dengan sabda yang mengejutkan, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa kebahagiaan itu terletak dalam diri kita masing-masing, di sini, dan bukan di sana. Artinya ketika seseorang merasakan kasih dan kedekatan Allah, saat itulah kebahagiaan ada bersamanya. Ketika kita merasa bahwa Allah sungguh hadir dalam hidup dan kehidupan kita, saat itulah kebahagiaan ada bersama kita. Kekurangan tidak identik dengan penderitaan ketika kita merasa dipenuhi oleh kasih Allah. Situasi sulit, dibenci, dan dikucilkan tidak identik dengan keadaan absennya kebahagiaan ketika kita  masih memiliki kasih Allah yang lebih besar dibandingkan semua persoalan itu. Kebenaran ini tampak jelas dalam firman-Nya, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:33]

Mari kita pertama-tama berusaha menjadi bahagia, dan sukses akan mengikuti. Cara mengupayakan kebahagiaan antara lain dengan menyelaraskan kehendak, pikiran, dan rencana kita dengan kehendak, pikiran, dan rencana Tuhan. Sebab segala yang dikehendaki, dipikirkan, dan direncanakan Tuhan pasti baik dan benar. Karenanya, mari kita mensyukuri dan menerima kehidupan yang kita jalani saat ini. Mari kita berupaya memiliki kasih Tuhan sebagai sesuatu yang paling berharga dan bermakna dalam kehidupan ini. Kasih Tuhan adalah sumber kebahagiaan.

Translate »