Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XIIIA

Minggu Biasa XIIIA


(2Raj. 4:8-11.14-16a; Rom. 6:3-4.8-11; Mat. 10: 37-42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, ada sebuah cerita yang mungkin membuat kita tersenyum. Suatu hari seorang tamu datang ke sebuah rumah dan mengetuk pintu sambil berkata, “Permisi…” Dari dalam rumah terdengar suara, “Siapa?” Tamu itu menjawab, “Saya.” Lalu terdengar lagi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Padahal suara yang menjawab itu terdengar sangat jelas. Rupanya orang itu sebenarnya ada di rumah, hanya saja ia sedang malas menerima tamu. Kadang-kadang kita juga bersikap seperti itu kepada Tuhan. Bukan karena Tuhan tidak mengetuk pintu hati kita, melainkan karena kita sedang sibuk dengan urusan sendiri. Kita berkata, “Nanti dulu, Tuhan. Saya sedang sibuk mengejar pekerjaan, mengejar uang, mengejar kenyamanan.” Akibatnya, pintu hati perlahan-lahan tertutup. Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita membuka kembali pintu hati itu.
Bacaan pertama menghadirkan sosok seorang perempuan Sunem. Ia bukan nabi, bukan imam, bukan tokoh besar. Ia hanyalah seorang perempuan sederhana yang memiliki satu kelebihan: hatinya terbuka. Ketika melihat Nabi Elisa sering melewati daerahnya, ia tidak berpikir panjang. Ia menyediakan makanan, tempat beristirahat, bahkan membangun sebuah kamar kecil agar sang nabi merasa nyaman. Yang menarik, perempuan itu tidak pernah berkata, “Kalau saya menolong Nabi Elisa, nanti saya dapat apa?” Ia hanya memberi. Dan justru karena ketulusannya itu, Allah menghadiahkan sesuatu yang selama ini mustahil baginya, yaitu seorang anak. Berkat Allah datang bukan karena ia menghitung-hitung jasa, melainkan karena ia lebih dahulu membuka pintu kasih.
Saudara-saudariku terkasih, Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang hal yang sama. Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” Kalimat ini luar biasa indah. Artinya, Kristus sering datang kepada kita dengan wajah yang tidak kita duga. Kadang Ia datang melalui seorang imam yang mengunjungi umat. Kadang melalui tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Kadang melalui seorang anak yang membutuhkan perhatian. Kadang melalui orang tua yang membutuhkan waktu kita. Bahkan bisa jadi Tuhan datang melalui seseorang yang selama ini justru paling sulit kita terima. Persoalannya bukan apakah Tuhan datang, melainkan apakah hati kita masih terbuka.
Karena itu Yesus melanjutkan sabda-Nya yang sering kali membuat kita terkejut, “Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Yesus sama sekali tidak mengajarkan kita untuk mengurangi kasih kepada keluarga. Yang ingin Dia ajarkan adalah bahwa Tuhan harus menjadi pusat dari segala kasih. Kalau Tuhan berada di tempat pertama, seorang bapak akan menjadi suami yang lebih baik, seorang istri akan menjadi lebih sabar, orang tua akan lebih bijaksana, anak akan
lebih hormat, dan menjadintetangga yang lebih peduli. Tetapi kalau Tuhan disingkirkan dari pusat kehidupan, kasih kita perlahan berubah menjadi kasih yang penuh syarat: aku mengasihi kalau dihargai, aku membantu kalau diuntungkan, aku memberi kalau ada balasannya. Itulah sebabnya Yesus mengajak kita mengikuti-Nya dengan sepenuh hati, bukan setengah-setengah.
Lalu, bagaimana kita mampu hidup seperti itu? Jawabannya diberikan Santo Paulus dalam bacaan kedua. Dia berkata bahwa kita telah dibaptis dalam kematian Kristus supaya kita hidup sebagai manusia baru. Artinya, sejak dibaptis kita tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri. Bayangkan sebuah telepon genggam. Kalau baterainya habis, secanggih apa pun telepon itu tetap tidak bisa digunakan. Kameranya bagus, memorinya besar, aplikasinya lengkap, tetapi tetap mati karena tidak ada daya. Begitu pula hidup kita. Kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri, lama-kelamaan kita akan kehabisan “baterai”. Kita mudah marah, mudah kecewa, mudah putus asa, bahkan mudah kehilangan sukacita. Tetapi baptisan membuat kita tersambung dengan sumber kehidupan, yaitu Kristus sendiri. Kristuslah yang mengisi kembali “daya rohani” kita sehingga kita mampu mengampuni ketika disakiti, tetap setia ketika lelah, tetap tersenyum ketika menghadapi kesulitan, dan tetap mau berbagi ketika orang lain memilih menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.
Saudara-saudariku terkasih, sebagai orang yang telah dibaptis, kita menerima tiga tugas Kristus. Sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk menguduskan hidup melalui doa, Ekaristi, dan hidup yang dekat dengan Tuhan. Sebagai nabi, kita mewartakan Injil bukan pertama-tama dengan mulut, tetapi melalui hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Sebagai raja, kita belajar mengalahkan raja yang paling sulit dikalahkan, yaitu ego kita sendiri. Kalau ego sudah dikalahkan, barulah Kristus benar-benar menjadi Raja dalam hati kita.
Di akhir Injil, Yesus memberikan kalimat yang sangat sederhana, “Barangsiapa memberi secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Mengapa Yesus hanya berbicara tentang secangkir air? Karena Yesus ingin mengajarkan bahwa kasih tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang yang banyak, melainkan perhatian. Bukan hadiah yang mahal, melainkan waktu. Bukan nasihat yang panjang, melainkan kesediaan untuk mendengarkan. Ada orang yang setiap hari makan enak, tetapi tidak pernah mendengar seorang pun berkata, “Apa kabar? Semoga hari ini Tuhan menguatkanmu.” Kalimat sederhana itu kadang lebih menyegarkan daripada segelas air dingin.
Saudara-saudariku terkasih, dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia justru sedang kekurangan orang yang mau membuka pintu hatinya. Perempuan Sunem membuka pintu rumahnya bagi Nabi Elisa. Yesus mengajak kita membuka pintu hati bagi Kristus. Dan Santo Paulus mengingatkan bahwa semua itu mungkin terjadi karena kita telah menjadi manusia baru melalui baptisan. Maka sepulang dari gereja hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: siapa yang minggu ini perlu saya sambut? Mungkin anggota keluarga yang selama ini saya abaikan. Mungkin
tetangga yang sedang sakit. Mungkin orang tua yang merindukan perhatian. Mungkin seseorang yang sedang menunggu pengampunan saya. Atau mungkin Tuhan sendiri yang sudah lama mengetuk pintu hati saya.
Semoga ketika Kristus datang melalui sesama, Ia tidak mendengar jawaban seperti dalam cerita tadi, “Maaf, orang rumah sedang tidak ada.” Sebaliknya, semoga Ia mendengar jawaban yang penuh iman, “Masuklah, Tuhan. Hatiku terbuka bagi-Mu. Tinggallah bersama aku, dan ajarlah aku menjadi pembawa kasih bagi sesama.” Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Iman vs tradisi

Iman vs tradisi

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Lukas 1:57-66.80

Rabu, 24 Juni 2026

“Tidak ada yang mustahil bagi Allah”. Kebenaran ini tampak dalam diri Maria, seorang gadis Nasaret, mengandung tanpa peran serta laki-laki. Selain itu juga terbukti dalam diri Elisabet yang mandul dan lanjut usia, tetapi mengandung seorang anak di hari tuanya. Peristiwa ini mengubah aib menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga dan sanak saudaran dan juga tetangga [Luk 1:58].

Campur tangan Allah semakin menguatkan iman Elisabet dan juga Zakharia, sehingga merekapun berani keluar dari adat-istiadat dan mempercayakan diri kepada kehendak Allah. Hal ini tampak dalam pemberian nama anaknya yang di lahirkan di masa tua mereka. Ketika sanak saudara mau memberikan nama Zakharia sesuai dengan tradisi saat itu, Elisabet berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” [Luk 1:60]. sungguh menarik, sebab meski tanpa janjian sebelumnya, ternyata Zakharia memiliki pendapat yang sama dengan istrinya, “Namanya adalah Yohanes.” [Luk 1:63]. “Yohanes, Yehohanan”, artinya “Allah itu pengasih” atau “Tuhan yang murah hati”.

Iman dan sikap taat akan Allah berbuah manis bagi Zakharia, mulut terbuka dan ikatan lidahnya terlepas. Ia kembali dapat berbicara setelah sembilan bulan bisu akibat sikap ragu-ragu terhadap karya Allah. Akan tetapi kebisuan Zakharia bisa jadi juga sebagai kesempatan indah untuk menemani istrinya yang sedang mengandung dalam keheningan, tanpa bicara.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Zakharia dan Elisabet adalah pribadi-pribadi yang percaya akan campur tangan Allah.  Ketika orang banyak bertanya-tanya dan bahkan ragu akan menjadi apakah anak ini nanti, orangtuanya sama sekali tidak ragu-ragu. Untuk itu mereka setia mengasuh Yohanes dengan penuh cinta. Yahanes bertumbuh menjadi pribadi yang kuat sehingga bertahan untuk hidup dipadang gurun. Roh Kudus memampukan Yohanes untuk berkata-kata tentang kebenaran, pertobatan dan warta Kerajaan Allah.

Beranikah kita keluar dari tradisi, untuk beriman, mempercayakan diri sepenuhnya kepada kemahakuasaan Allah seperti Zakharian dan Elisabet? Semoga!

RENUNGAN: 23 JUNI 2026

RENUNGAN: 23 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 7:6.12-14

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pada umumnya, manusia lebih menyukai jalan yang mudah. Kita senang jika segala sesuatu berjalan lancar, tanpa hambatan, tanpa pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari pilihan yang paling nyaman, paling cepat, dan paling menguntungkan. Namun dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dia berkata: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu; karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Tetapi sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Sabda Tuhan ini mengajak kita merenungkan dua hal penting: pertama, keberanian memilih pintu yang sesak; dan kedua, kesadaran bahwa keselamatan adalah pilihan yang harus diperbarui setiap hari.

Memilih Pintu yang Sesak.

Mengapa demikian? Karena mengikuti Kristus tidak selalu sejalan dengan keinginan dunia, keinginan-keinginan manusia. Jalan Kristus adalah jalan kasih, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan pengorbanan. Nilai-nilai ini sering kali bertentangan dengan semangat dunia yang mengutamakan keuntungan diri sendiri, popularitas, dan kenyamanan. Memilih pintu yang sesak berarti berani melakukan yang benar meskipun tidak populer. Berani berkata jujur meskipun bisa merugikan diri sendiri. Berani mengampuni meskipun hati masih terluka. Berani setia pada panggilan hidup dan janji yang telah diucapkan meskipun banyak tantangan. Melewati pintu yang sesat itu berarti: ketika seorang suami atau istri yang tetap setia ketika rumah tangga sedang mengalami masalah; ketika orang muda yang menolak godaan korupsi, ketidakjujuran, atau pergaulan yang merusak juga sedang memilih jalan yang sempit’ ketika seorang umat yang tetap meluangkan waktu untuk berdoa dan mengikuti Ekaristi di tengah kesibukan hidup juga sedang melangkah melalui pintu yang sesak. Pintu itu sesak bukan karena Tuhan ingin mempersulit hidup kita. Pintu itu sesak karena untuk masuk ke dalamnya kita harus meninggalkan banyak beban: kesombongan, egoisme, kebencian, iri hati, dan dosa-dosa yang melekat dalam diri kita. Seperti seorang peziarah yang harus melepaskan barang-barang yang tidak perlu agar dapat berjalan ringan, demikian pula kita harus melepaskan apa yang menghalangi langkah kita menuju Tuhan.

Keselamatan Adalah Pilihan Setiap Hari

Saudara-saudari, sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang beriman cukup dengan satu keputusan besar dalam hidup. Padahal Yesus mengajarkan bahwa mengikuti-Nya adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Setiap pagi sebenarnya kita sedang berdiri di depan dua jalan. Jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Jalan yang lebar menawarkan kenyamanan sesaat. Jalan yang sempit menawarkan kehidupan sejati. Pilihan itu hadir dalam hal-hal sederhana. Ketika muncul kesempatan untuk berbohong demi keuntungan pribadi, kita memilih antara dua jalan. Ketika ada konflik dalam keluarga, kita memilih antara mempertahankan ego atau membangun perdamaian. Ketika melihat sesama yang membutuhkan pertolongan, kita memilih antara sikap acuh tak acuh atau kasih yang nyata. Setiap keputusan kecil sesungguhnya membentuk arah hidup kita.

Sering kali kita menganggap dosa besar sebagai ancaman utama bagi keselamatan. Memang benar. Tetapi yang juga perlu diwaspadai adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan: menunda doa, mengabaikan Sabda Tuhan, membiarkan kebencian tinggal dalam hati, atau menjadi tidak peduli terhadap sesama. Karena itu keselamatan bukan hanya tujuan di akhir hidup, melainkan perjalanan yang kita jalani hari demi hari bersama Tuhan. Kabar baiknya adalah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Kristus sendiri berjalan bersama kita. Ia tidak hanya menunjukkan jalan yang sempit, tetapi terlebih dahulu telah melewatinya. Yesus memilih jalan salib. Melalui salib, Ia membuka pintu kehidupan bagi seluruh umat manusia. Maka ketika kita merasa berat menjalani hidup sebagai murid Kristus, kita dapat memandang kepada Yesus. Ia memahami perjuangan kita.

Saudara-saudari terkasih,

Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita memiliki keberanian untuk memilih yang benar, kesetiaan untuk tetap berjalan di jalan-Nya, dan harapan untuk terus melangkah menuju kehidupan yang telah dijanjikan-Nya.

Mengelap Kaca Jendela yang Salah

Mengelap Kaca Jendela yang Salah

Rm. Yusuf Dimas Caesario

Seorang pria baru saja pindah ke rumah baru. Setiap pagi saat minum kopi, ia selalu melihat ke luar jendela dan menggerutu melihat jemuran baju tetangganya. “Duh, tetangga baru itu kalau mencuci baju tidak pernah bersih ya? Kelihatan kusam dan banyak noda abu-abu,” bisiknya jengkel kepada istrinya.

Karena gemas, besoknya si pria mengambil kain lap dan pembersih kaca, lalu membersihkan bagian luar jendela rumahnya sendiri yang ternyata sudah berbulan-bulan berdebu tebal. Begitu selesai mengelap dan duduk kembali, ia terkejut melihat ke luar. Jemuran tetangganya ternyata putih bersih berkilauan. Sambil tersenyum kecut, ia baru sadar: yang kotor dari kemarin bukan baju tetangganya, melainkan jendelanya sendiri.

Isi Renungan

Dalam Injil Matius 7:1-5, Yesus memberikan sebuah teguran yang sangat menohok tentang kecenderungan manusiawi kita: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Secara logika, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat serpihan kayu kecil (selumbar) di mata orang lain jika matanya sendiri sedang terganjal sebatang balok kayu besar? Yesus menggunakan hiperbola ini untuk menelanjangi kemunafikan yang sering membungkus kehidupan rohani kita. Kita kerap kali bertindak sebagai “hakim” yang memegang palu sidang, siap mengetuk vonis atas kesalahan sesama, sementara kita lupa bahwa lensa pandangan kita sendiri—yaitu hati kita—sedang tertutup oleh debu dosa dan ego kita sendiri.

Dalam tradisi Gereja Katolik, teks ini mengajak kita pada praktik pemeriksaan batin (examinatio conscientiae). Menghakimi orang lain sering kali menjadi cara instan bagi ego kita untuk merasa “lebih suci” atau “lebih benar” tanpa harus bersusah payah memperbaiki diri sendiri. Saat kita sibuk menyoroti noda pada hidup orang lain, kita sebenarnya sedang melarikan diri dari cermin kebenaran Allah yang ingin menyingkapkan kerapuhan kita sendiri.

Tuhan tidak melarang kita untuk saling mengingatkan dalam kasih (correctio fraterna), namun koreksi itu hanya akan berbuah jika diawali dengan pertobatan pribadi. Bersihkan dulu “jendela” hati kita melalui kerendahan hati dan Sakramen Tobat. Dengan begitu, saat kita memandang sesama, kita tidak lagi melihat mereka melalui prasangka atau kemarahan, melainkan melalui tatapan penuh belas kasih seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.

3 Poin Refleksi

  1. Dalam satu minggu terakhir, seberapa sering saya lebih banyak mengkritik kekurangan orang lain daripada mencoba memahami beban hidup yang sedang mereka pikul?
  2. Apakah saya berani mengakui bahwa sering kali rasa kesal saya kepada orang lain sebenarnya berakar dari kelemahan atau ketidakpuasan dalam diri saya sendiri?
  3. Langkah konkret apa yang dapat saya ambil hari ini untuk “membersihkan jendela” hati saya, agar saya bisa melihat sesama dengan kasih, bukan dengan penghakiman?

Doa Singkat

Tuhan Yesus Kristus yang Maharahim, ampunilah kami yang sering kali lebih cepat menjadi hakim bagi sesama daripada menjadi saksi kasih-Mu. Sadarkanlah kami akan “balok” di mata kami sendiri, agar kami senantiasa rindu untuk bertobat dan membenahi diri sebelum menghakimi orang lain. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati dan mata yang penuh belas kasih, supaya kami mampu memandang sesama sebagaimana Engkau memandang kami. Amin.

Minggu Biasa XIIA

Minggu Biasa XIIA


(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.
Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut gagal mendidik anak, takut masa depan tidak seindah harapan, takut ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan takut karena merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ketakutan-ketakutan itu perlahan menguras kegembiraan hidup dan membuat hati menjadi sempit. Karena itu sabda Tuhan hari ini terasa begitu dekat dengan pengalaman kita. Di tengah berbagai kecemasan hidup, Tuhan berulang kali berkata, “Jangan takut.”
Dalam bacaan pertama, kita mendengar keluh kesah Nabi Yeremia. Ia mengalami penolakan, fitnah, bahkan ancaman dari orang-orang di sekitarnya. Yang menyakitkan, bukan hanya musuh yang memusuhinya, tetapi juga sahabat-sahabat yang menantikan kejatuhannya. Yeremia merasa sendirian. Ia takut, ia terluka, ia gentar. Namun di tengah semuanya itu, ia tidak lari dari Tuhan. Justru di saat paling gelap, ia semakin berpegang pada Tuhan. Karena itu di akhir bacaan, ratapannya berubah menjadi pujian, “Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan!” Ketakutan tidak menghilang seketika, tetapi kehadiran Tuhan membuatnya mampu melewati ketakutan itu.
Pengalaman Yeremia menjadi gambaran dari apa yang dikatakan Yesus dalam Injil. Tiga kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Jangan takut.” Yesus tidak menjanjikan hidup yang bebas masalah. Ia tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam tangan Bapa. Bahkan rambut di kepala mereka pun terhitung semuanya. Gambaran
ini sangat indah. Tuhan bukan hanya mengenal kita secara umum; Ia mengenal kita secara pribadi. Ia mengetahui air mata yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, pergumulan yang kita sembunyikan di balik senyum, dan doa-doa yang hanya kita bisikkan dalam keheningan malam.
Lalu apa dasar keyakinan kita untuk tidak takut? Di sinilah bacaan kedua memberikan jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan membawa penderitaan serta kematian. Namun melalui Yesus Kristus datanglah rahmat yang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri. Artinya, bagi orang beriman, kejahatan tidak pernah memiliki kata terakhir. Dosa bukanlah akhir cerita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Salib bukanlah tujuan terakhir. Dalam Kristus, kasih Allah selalu lebih besar daripada luka manusia. Karena itu, ketika kita merasa takut, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia yang telah mengalahkan dosa dan maut.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang memikul beban tertentu. Ada yang cemas memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, masa depan anak-anak, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Sabda Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa masalah itu akan langsung hilang. Namun Tuhan mengingatkan satu hal yang sangat penting, engkau tidak sendirian. Sebagaimana Tuhan menyertai Yeremia, sebagaimana Tuhan mendampingi para rasul, demikian pula Ia berjalan bersama kita. Ketika kita merasa tidak mampu, Tuhan berkata, “Aku ada di sini.” Ketika kita merasa sendirian, Tuhan berkata, “Engkau berharga di mata-Ku.” Dan ketika kita takut menghadapi hari esok, Tuhan berkata, “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu.”
Maka dalam Ekaristi ini, marilah kita meletakkan segala kecemasan dan ketakutan kita di hadapan Tuhan. Semoga melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut, hati kita diteguhkan untuk percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada segala ketakutan kita. Sebab bersama Yesus, kita tidak selalu bebas dari badai kehidupan, tetapi yang pasti bersama Yesus kita tidak akan tenggelam oleh badai itu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »