Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Dipanggil Menjadi Bahagia

Dipanggil Menjadi Bahagia

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 6:20-26

Rabu 9 September 2026

              Ketika seseorang ulang tahun, biasanya diberi ucapan, “selamat dan sukses”. Ada tetapi sangat jarang yang memberi ucapan “selamat dan bahagia”. Jika kita refleksikan dengan tenang “sukses” biasanya dimengerti, dipahami sebagai puncak. Artinya orang yang telah mencapai puncak dikatakan sukses. Sebaliknya jika belum sampai dipuncak, dia belum sukses. Sementara bahagia tidak perlu menunggu puncak. Dalam perjalanan menujun puncak, orang bisa menemukan, merasakan kebahagiaan. Karenanya panggilan hidup kita adalah bahagia, bukan sukses. Itulah yang diserukan Yesus, “berbahagialah” dan bukan “sukseslah”.

Dengan sabda yang mengejutkan, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa kebahagiaan itu terletak dalam diri kita masing-masing, di sini, dan bukan di sana. Artinya ketika seseorang merasakan kasih dan kedekatan Allah, saat itulah kebahagiaan ada bersamanya. Ketika kita merasa bahwa Allah sungguh hadir dalam hidup dan kehidupan kita, saat itulah kebahagiaan ada bersama kita. Kekurangan tidak identik dengan penderitaan ketika kita merasa dipenuhi oleh kasih Allah. Situasi sulit, dibenci, dan dikucilkan tidak identik dengan keadaan absennya kebahagiaan ketika kita  masih memiliki kasih Allah yang lebih besar dibandingkan semua persoalan itu. Kebenaran ini tampak jelas dalam firman-Nya, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat 6:33]

Mari kita pertama-tama berusaha menjadi bahagia, dan sukses akan mengikuti. Cara mengupayakan kebahagiaan antara lain dengan menyelaraskan kehendak, pikiran, dan rencana kita dengan kehendak, pikiran, dan rencana Tuhan. Sebab segala yang dikehendaki, dipikirkan, dan direncanakan Tuhan pasti baik dan benar. Karenanya, mari kita mensyukuri dan menerima kehidupan yang kita jalani saat ini. Mari kita berupaya memiliki kasih Tuhan sebagai sesuatu yang paling berharga dan bermakna dalam kehidupan ini. Kasih Tuhan adalah sumber kebahagiaan.

RENUNGAN: 8 September 2026

RENUNGAN: 8 September 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 1:1-16.18-23

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Ketika kita mendengar Injil hari ini, mungkin bagian pertama terasa agak membosankan. Kita mendengar begitu banyak nama: Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda, dan seterusnya. Nama demi nama disebutkan sampai akhirnya sampai kepada Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus. Mungkin kita bertanya: mengapa silsilah yang begitu panjang ini dimasukkan ke dalam Injil? Apa pentingnya bagi hidup iman kita? Justru di situlah terdapat sebuah pesan yang sangat indah: Allah bekerja melalui sejarah manusia.

Kelahiran Yesus tidak terjadi begitu saja, seolah-olah tiba-tiba Allah turun dari surga tanpa hubungan dengan perjalanan manusia. Kedatangan Yesus merupakan puncak dari perjalanan panjang sejarah keselamatan. Ada Abraham, ada Daud, ada masa kejayaan, tetapi juga ada masa kegagalan. Ada orang-orang besar, tetapi juga ada orang-orang biasa. Ada kesetiaan, tetapi juga ada kelemahan dan dosa. Namun, di tengah semua itu, satu hal tetap berjalan: rencana Allah. Ini menjadi kabar gembira bagi kita. Sebab kadang-kadang kita melihat hidup kita hanya sebagai kumpulan peristiwa yang terpisah-pisah. Ada masa ketika semuanya berjalan baik. Ada masa ketika kita berhasil. Tetapi ada juga masa kegagalan, kekecewaan, kehilangan, persoalan dalam keluarga, kesalahpahaman, bahkan mungkin pengalaman yang ingin kita lupakan. Lalu kita bertanya: Apakah Tuhan masih bekerja dalam hidup saya? Apakah hidup saya masih mempunyai arti dalam rencana Tuhan? Injil hari ini menjawab: Ya. Tuhan tetap bekerja. Silsilah Yesus mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya bekerja dalam peristiwa-peristiwa besar dan indah. Allah juga bekerja dalam perjalanan yang panjang, kadang berliku, kadang membingungkan, bahkan melalui manusia-manusia yang tidak sempurna.

Saudara-saudari, Allah tidak menunggu sejarah manusia menjadi sempurna terlebih dahulu  sebelum Ia hadir. Justru Ia masuk ke dalam sejarah manusia yang nyata, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Dan puncaknya adalah kelahiran Yesus yang disebut Imanuel: Allah beserta kita. Ini berarti Allah tidak tinggal jauh dari kehidupan manusia. Ia masuk ke dalam sejarah kita. Ia hadir dalam keluarga kita, dalam pekerjaan kita, dalam komunitas kita, dalam sukacita maupun dalam persoalan yang sedang kita hadapi. Maka pertanyaan bagi kita bukanlah: Apakah Allah bekerja dalam hidup saya? Sebab Injil hari ini menegaskan: Allah selalu bekerja. Pertanyaannya adalah: Apakah saya mampu melihat dan percaya kepada karya Allah dalam perjalanan hidup saya? Mungkin hari ini kita belum memahami seluruh cerita hidup kita. Mungkin masih ada halaman-halaman hidup yang penuh tanda tanya. Tetapi kita diajak untuk tidak berhenti percaya. Sebab hidup kita bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa arah. Di tangan Allah, hidup kita adalah bagian dari sebuah perjalanan yang lebih besar. Seperti nama-nama dalam silsilah Yesus, mungkin nama kita tidak tercatat dalam Kitab Suci. Tetapi hidup kita tetap dikenal oleh Allah. Perjalanan kita, pergumulan kita, kegembiraan dan air mata kita, semuanya tidak luput dari perhatian-Nya. Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan penuh harapan. Jangan terlalu cepat mengatakan bahwa hidup kita gagal. Jangan merasa bahwa masa lalu telah menutup masa depan. Jangan mengira bahwa kelemahan kita membuat Allah tidak dapat berkarya. Sebab Injil hari ini mengajarkan kepada kita: Allah adalah Allah yang bekerja dalam sejarah manusia. Ia bekerja dalam perjalanan panjang, melalui manusia yang tidak sempurna, dan sering kali dengan cara yang tidak langsung kita pahami. Maka apa pun yang sedang kita alami hari ini, marilah kita tetap percaya: cerita hidup kita belum selesai. Allah masih menulis sejarah keselamatan dalam hidup kita. Dan selama kita tetap membuka hati, berjalan bersama-Nya, serta menyerahkan hidup kepada-Nya, kita boleh percaya bahwa pada akhirnya kita akan melihat: ternyata, sejak awal, Allah selalu hadir dan bekerja dalam perjalanan hidup kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini dimulai dengan silsilah Yesus yang cukup panjang. Matius menyebut nama demi nama, dari Abraham sampai Yusuf, suami Maria. Bagi kita, daftar nama itu mungkin terasa membosankan. Tetapi sebenarnya di dalamnya terkandung pesan iman yang sangat dalam: Allah bekerja melalui sejarah manusia.

Yesus tidak hadir ke dunia secara tiba-tiba. Kedatangan-Nya merupakan puncak dari perjalanan panjang sejarah keselamatan. Di dalam perjalanan itu ada manusia yang setia, tetapi juga ada yang jatuh dan mengalami kelemahan. Ada keberhasilan, tetapi juga ada kegagalan. Namun, di tengah semuanya itu, rencana Allah tetap berjalan.

Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Hidup kita pun merupakan sebuah perjalanan. Tidak semuanya berjalan seperti yang kita harapkan. Ada saat kita mengalami keberhasilan dan kebahagiaan, tetapi ada juga saat kita mengalami kegagalan, kekecewaan, persoalan, bahkan pengalaman yang sulit kita pahami. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya: “Tuhan, di mana Engkau? Mengapa saya harus mengalami semua ini?”

Injil hari ini mengajak kita percaya bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita belum mampu melihat karya-Nya. Kita sering hanya melihat satu bagian kecil dari hidup kita. Allah melihat seluruh perjalanan. Apa yang sekarang kita anggap sebagai kegagalan, mungkin justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Pengalaman yang menyakitkan mungkin membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Bahkan kesalahan masa lalu dapat menjadi jalan bagi pertobatan dan perubahan hidup. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa hidup kita gagal hanya karena ada bagian yang tidak sesuai dengan harapan kita. Cerita hidup kita belum selesai.

Saudara-saudari yang terkasih, setelah silsilah itu, Matius menyampaikan sesuatu yang menjadi inti seluruh kisah ini. Yesus disebut Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita.” Allah yang bekerja dalam sejarah manusia bukanlah Allah yang jauh. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia. Ia hadir dalam keluarga kita, dalam pekerjaan kita, dalam kegembiraan kita, tetapi juga dalam pergumulan dan kesulitan kita. Allah beserta kita. Maka ketika hidup terasa berat, jangan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita. Ketika doa belum terjawab, jangan mengira bahwa Tuhan tidak mendengarkan. Ketika jalan hidup terasa berliku, jangan kehilangan harapan. Boleh jadi kita belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Tetapi iman mengajak kita percaya: Allah tetap bekerja. Ia bekerja melalui manusia dengan segala keterbatasannya. Maka kita pun tidak perlu merasa bahwa kelemahan dan masa lalu kita membuat kita tidak berguna bagi Tuhan. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang terbuka dan kesediaan untuk berjalan bersama-Nya. Allah sedang bekerja di dalam perjalanan hidup kita. Mungkin kita belum memahami seluruh rencana-Nya. Tetapi kita percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan-Nya. Maka, apa pun yang sedang kita alami hari ini, marilah kita berkata: “Tuhan, saya tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi saya percaya Engkau berjalan bersama saya.”

Sebab itulah kabar gembira Injil hari ini: Allah hadir dan bekerja di tengah sejarah manusia. Ia bekerja melalui manusia yang tidak sempurna, melalui perjalanan yang panjang, dan sering kali melalui jalan yang tidak kita mengerti.

Maka jangan kehilangan harapan.

Cerita hidup kita belum selesai. Allah masih menulis sejarah keselamatan dalam hidup kita.

Dan kita percaya: Imanuel—Allah beserta kita.

Mengulurkan Tangan untuk Memulihkan Martabat

Mengulurkan Tangan untuk Memulihkan Martabat

Lukas 6:6-11

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita mendengarkan kisah yang sangat akrab: Yesus menyembuhkan seorang pria yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Di dalam tradisi Yahudi kuno, tangan kanan adalah simbol kekuatan, produktivitas, mata pencaharian, dan kehormatan seorang pria. Ketika tangan kanan pria ini mati atau lumpuh, ia bukan hanya mengalami cacat fisik, melainkan kehilangan martabatnya. Ia tidak bisa lagi menafkahi keluarganya secara mandiri dan mungkin dianggap dikutuk oleh masyarakat sekitar.

Mari kita merenungkan peristiwa ini melalui sebuah logika sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bayangkan Anda memiliki sebuah ponsel smartphone. Ponsel ini layarnya retak parah, casing-nya hancur, dan baterainya sudah sangat bocor atau drop—hanya bisa menyala kalau dicolok ke kabel pengisi daya. Secara fungsi, ponsel ini sudah “lumpuh” dan kehilangan nilainya yang berharga.

Jika ponsel rusak ini dibawa ke hadapan dua tipe orang, reaksinya akan persis seperti kisah Injil hari ini:

  • Tipe Pertama adalah Logika Ahli Taurat dan Farisi. Mereka hanya fokus pada aturan, standar kelayakan, dan kerusakan. Mereka akan menilai, mengkritik, lalu berkata: “Ponsel ini sudah cacat, melanggar standar, buang saja ke tempat sampah. Tidak ada gunanya lagi.” Mereka bisa melihat kerusakan dengan sangat detail, tetapi buta terhadap nilai atau sejarah ponsel tersebut.
  • Tipe Kedua adalah Logika Yesus. Sang Pencipta atau Teknisi Ahli tidak melihat kerusakan sebagai akhir cerita. Bagi-Nya, mesin di dalamnya tetap berharga. Nilai ponsel itu tidak hilang hanya karena layarnya retak. Yang perlu dilakukan hanyalah membawa ponsel itu ke pusat servis dan menghubungkannya kembali ke sumber daya agar fungsinya pulih total.

Di dalam rumah ibadat itu, orang Farisi sibuk mencari kesalahan Yesus berdasarkan aturan hari Sabat. Mereka memegang hukum agama dengan kaku, tetapi hati mereka mati rasa terhadap penderitaan sesama. Mereka menggunakan logika tipe pertama: menilai dan membuang orang yang “rusak”.

Sebaliknya, Yesus menggunakan logika tipe kedua. Yesus tahu isi hati mereka, lalu Ia menantang mereka dengan pertanyaan menembus jiwa: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?” Bagi Yesus, mengabaikan orang yang menderita dengan alasan “sedang ibadah atau menaati aturan” sebenarnya adalah sebuah kejahatan.

Yesus kemudian memandang pria itu dan berkata: “Ulurkanlah tanganmu!”
Perintah ini adalah undangan iman. Yesus meminta pria itu melawan rasa malu dan minder untuk menunjukkan bagian hidupnya yang paling rusak di depan umum. Ketika pria itu taat dan mengulurkan tangannya, mukjizat terjadi. Tangan itu sembuh seketika. Yesus tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tetapi mengembalikan martabat, harga diri, dan masa depannya.

Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Yesus. Kita diutus bukan untuk menjadi “hakim” yang sibuk mendata dosa dan kelemahan orang lain seperti orang Farisi. Kita diutus untuk menjadi saluran sakramen kasih Allah yang hidup—yang berani mengulurkan tangan untuk merangkul, menyembuhkan, dan memulihkan martabat sesama kita yang sedang runtuh.

Refleksi pribadi:

  1. Ke dalam diri: Bagian mana dari hidup kita saat ini yang sedang “lumpuh” atau “retak” (mungkin iman yang suam-suam kuku, luka batin, atau relasi keluarga yang hancur)? Apakah kita berani taat pada perintah Yesus untuk “mengulurkan” dan menyerahkan kelumpuhan itu kepada-Nya dalam Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi?
  2. Ke luar (sosial): Ketika melihat sesama di paroki, lingkungan, atau keluarga kita yang hidupnya sedang terpuruk atau jatuh dalam dosa, apakah kita cenderung memakai “logika Farisi” yang suka menghakimi dan bergosip, atau “logika Yesus” yang merangkul dan memulihkan?
  3. Tentang Prioritas Hidup: Apakah kehidupan membiara, pelayanan, atau ibadah rutin kita sudah membuahkan buah kasih yang nyata bagi sesama, atau jangan-jangan kita sering menjadikan kesibukan pelayanan sebagai alasan untuk mengabaikan orang-orang terdekat yang sedang membutuhkan pertolongan kita?

Doa

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas Sabda-Mu hari ini.

Jamahlah hati kami agar kami memiliki iman yang berani untuk mengulurkan segala kelemahan hidup kami ke hadapan-Mu demi menerima pemulihan. Ubahlah pula hati kami yang kaku ini, agar tidak mudah menghakimi sesama, melainkan selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong dan memulihkan martabat mereka yang sedang terpuruk.

Utuslah kami menjadi sakramen kasih-Mu yang hidup. Amin

RD. Yusuf Dimas Caesario

Minggu Biasa XXIII A

Minggu Biasa XXIII A

(Yeh. 33:7-9; Rom. 13:8-10; Mat. 18:15-20)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudari yang terkasih, minggu lalu kita merenungkan percakapan antara Yesus dan Petrus. Petrus bermaksud baik, tetapi pikirannya belum sejalan dengan kehendak Allah. Ia ingin Yesus menghindari penderitaan, sementara jalan yang dikehendaki Bapa justru adalah jalan salib. Dari sana kita belajar bahwa mengikuti Kristus berarti belajar meninggalkan cara berpikir kita sendiri dan semakin menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah. Hari ini, Sabda Tuhan membawa kita kepada satu kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan kita yakni bagaimana kita hidup bersama dengan orang lain, terutama ketika hubungan itu tidak selalu mudah.

Kita semua membutuhkan orang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Kita lahir dari keluarga, bertumbuh dalam keluarga, belajar dalam komunitas, bekerja bersama orang lain, dan sebagai orang beriman kita dipanggil untuk hidup sebagai bagian dari Gereja. Namun, justru karena kita hidup bersama, kita juga mengalami perbedaan. Ada perbedaan karakter, cara berpikir, kebiasaan, harapan, dan kepentingan. Kadang-kadang kita saling memahami, tetapi kadang-kadang kita juga saling melukai. Ada kata-kata yang salah diucapkan, sikap yang menyinggung, janji yang tidak ditepati, bahkan tindakan yang sungguh-sungguh menyakiti hati. Di sinilah kualitas iman kita diuji, bagaimana kita bersikap ketika sesama tidak bertindak seperti yang kita harapkan?

Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel memberikan gambaran yang sangat menarik. Allah mengangkat Yehezkiel sebagai penjaga bagi kaum Israel. Seorang penjaga bukanlah orang yang hanya melihat kesalahan orang lain lalu bersorak karena menemukan kesalahan itu. Penjaga bertugas memperingatkan ketika ada bahaya. Ia berbicara bukan supaya orang lain jatuh, melainkan supaya orang lain diselamatkan. Karena itu, jika seseorang melakukan kesalahan dan penjaga tidak memperingatkannya, ia ikut bertanggung jawab atas kebinasaan orang tersebut.

Gambaran ini membantu kita memahami Injil hari ini. Ketika Yesus berkata, “Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata,” Yesus sebenarnya sedang mengajarkan kita untuk menjadi penjaga bagi saudara kita. Menegur bukan berarti menghakimi. Mengoreksi bukan berarti membenci. Bahkan, kadang-kadang justru karena kita mengasihi seseorang, kita berani mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Tetapi di sinilah persoalannya, menegur orang lain itu mudah, tetapi menegur dengan kasih tidak selalu mudah. Kita sering lebih mudah membicarakan kesalahan seseorang kepada orang lain daripada berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan. Kita lebih cepat membuat grup kecil untuk membahas kesalahan seseorang daripada datang kepadanya dengan hati yang jernih. Kita lebih suka mengatakan, “Kamu tahu tidak, dia itu begini dan begitu…” daripada berkata langsung, “Saudaraku, bolehkah saya berbicara denganmu? Ada sesuatu yang saya rasa perlu kita bicarakan.”

Yesus justru mengajarkan jalan yang berbeda. “Pergilah dan tegurlah dia di bawah empat mata.” Ada kelembutan dan penghormatan yang sangat besar dalam nasihat ini. Jangan langsung mempermalukan. Jangan menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan pembicaraan. Jangan memperbesar persoalan sebelum kita berusaha menyelesaikannya secara pribadi. Sebab tujuan teguran Kristen bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan memenangkan kembali saudara.

Perhatikan kata-kata Yesus, “Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatkan kembali saudaramu.” Bukan, “engkau telah memenangkan perdebatan.” Bukan pula, “engkau telah membuktikan bahwa engkau benar.” Yang dikatakan Yesus adalah, “engkau telah mendapatkan kembali saudaramu.” Inilah ukuran kasih Kristiani. Yang dicari bukan kemenangan ego, melainkan pemulihan relasi.

Namun Yesus juga realistis. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu percakapan. Karena itu, jika saudara tersebut belum mendengarkan, Yesus memberikan langkah berikutnya dengan membawa satu atau dua orang lain. Jika masih belum berhasil, dibawa kepada jemaat. Artinya, ketika sebuah persoalan menyangkut kehidupan bersama, kita tidak boleh membiarkannya begitu saja. Ada tanggung jawab terhadap kebaikan komunitas. Kasih bukan berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa arah. Kasih juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar.

Tetapi keberanian mengatakan yang benar harus selalu berjalan bersama kerendahan hati. Sebab sebelum kita menegur orang lain, baiklah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sungguh ingin menyelamatkan saudara saya, atau sebenarnya saya hanya ingin melampiaskan kekecewaan? Apakah saya berbicara karena kasih, atau karena saya ingin membuktikan bahwa saya lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Sebab satu kalimat yang sama dapat menjadi berkat jika lahir dari kasih, tetapi dapat menjadi luka jika lahir dari kemarahan dan kesombongan.

Di sinilah bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memberikan dasar yang sangat kuat. Paulus berkata, “Janganlah kamu berutang apaapa kepada siapa pun, kecuali kasih satu sama lain.” Dan kemudian ia menegaskan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Karena itu kasih adalah kegenapan hukum.”

Jadi, kalau kita ingin tahu bagaimana menjadi “penjaga” bagi saudara kita, jawabannya adalah kasih. Kalau kita ingin tahu bagaimana menegur, jawabannya adalah kasih. Kalau kita ingin tahu bagaimana menghadapi orang yang menyakiti kita, jawabannya tetap kasih. Kasih bukan berarti selalu setuju dengan segala sesuatu. Kasih berarti menghendaki kebaikan orang lain, bahkan ketika kita harus mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan untuk didengar.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa orang yang paling mengasihi kita adalah orang yang selalu membenarkan kita. Padahal tidak selalu demikian. Ada kalanya justru orang yang sungguh mengasihi kita adalah orang yang berani berkata, “Frater, Suster, Romo, Bapak, Ibu, Saudara, menurut saya sikapmu itu perlu diperbaiki.” Mendengar kata-kata seperti itu memang tidak enak. Tetapi kalau kita memiliki kerendahan hati, kita dapat melihat bahwa koreksi yang diterima dengan baik dapat menjadi jalan pertumbuhan.

Sebaliknya, ketika kita menerima teguran, janganlah kita buru-buru defensif. Jangan setiap koreksi dianggap sebagai serangan. Kita semua memiliki titik buta dalam diri kita. Ada kelemahan yang mungkin dapat kita lihat sendiri, tetapi ada juga yang justru hanya dapat dilihat oleh orang lain. Karena itu, komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang tidak pernah mengalami konflik. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu mengolah konflik dengan kasih dan kebenaran.

Dan setelah berbicara tentang menegur, Yesus membawa kita kepada sesuatu yang lebih dalam yakni kehadiran-Nya di tengah komunitas. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ini adalah janji yang sangat meneguhkan. Yesus tidak hanya hadir ketika semuanya berjalan baik. Ia juga hadir ketika kita sedang berjuang membangun kembali persaudaraan. Ia hadir ketika dua orang yang berselisih mencoba berbicara dan berdamai. Ia hadir ketika sebuah keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan hati terbuka. Ia hadir ketika komunitas memilih untuk tidak saling menghancurkan, tetapi saling menyembuhkan.

Karena itu, kehidupan kristiani tidak pernah hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi. Kita memang membutuhkan doa pribadi, keheningan, dan relasi pribadi dengan Allah. Tetapi iman kita juga memiliki dimensi komunitas. Bahkan ketika kita berdoa sendirian, kita tidak berkata, “Bapa-ku,” melainkan “Bapa kami.” Kata kami mengingatkan bahwa saya kita pernah datang kepada Tuhan sendirian. Di hadapan Bapa, kita selalu mempunyai saudara.

Puncak kebersamaan itu kita alami dalam Ekaristi. Di altar yang sama, kita datang dengan segala perbedaan kita. Ada yang sedang bahagia, ada yang sedang kecewa; ada yang hatinya penuh syukur, ada yang mungkin sedang membawa luka; ada yang datang dengan hati yang ringan, ada yang datang dengan pergumulan yang berat. Namun kita semua berdiri di hadapan Tuhan yang sama. Kita mendengarkan Sabda yang sama dan menerima Kristus yang sama. Ekaristi menyatukan kita bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena kita sama-sama membutuhkan Kristus.

Maka, Saudara-saudari terkasih, mungkin Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali satu atau dua relasi dalam hidup kita. Adakah seseorang yang sedang kita jauhi? Adakah orang yang kita bicarakan di belakangnya, tetapi belum pernah kita ajak berbicara dari hati ke hati? Adakah seseorang yang perlu kita tegur dengan kasih? Atau mungkin justru kita sendiri yang perlu belajar menerima teguran? Jangan biarkan luka kecil menjadi tembok besar. Jangan biarkan kesalahpahaman menjadi jarak yang bertahun-tahun. Jangan menunggu orang lain memulai. Kadang-kadang langkah pertama menuju perdamaian memang harus dimulai dari kita.

Kita memang tidak dapat mengubah semua orang. Kita juga tidak dapat memaksa setiap orang untuk memahami kita. Tetapi kita selalu dapat memilih bagaimana kita bersikap. Kita dapat memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita dapat memilih untuk berbicara daripada bergosip, mengampuni daripada menyimpan dendam, merangkul daripada menjauh, dan membangun daripada menghancurkan.

Inilah semangat yang diberikan Paulus kepada kita, “Janganlah berutang apa-apa kepada siapa pun, kecuali kasih.” Kalau ada satu “utang” yang tidak pernah boleh kita hentikan pembayarannya, itulah utang kasih. Setiap hari kita masih harus membayarnya kepada keluarga, kepada pasangan, kepada anak-anak, kepada sahabat, kepada tetangga, kepada rekan kerja, kepada sesama umat, bahkan kepada orang yang mungkin tidak menyukai kita.

Sebab pada akhirnya, orang kristiani bukan terutama dikenal karena ia tidak pernah berbuat salah. Kita dikenal karena ketika ada kesalahan, kita mau bertobat; ketika ada luka, kita mau menyembuhkan; ketika ada konflik, kita mau berdamai; ketika ada saudara yang jatuh, kita mau menolongnya berdiri kembali. Kita dipanggil bukan untuk menjadi komunitas yang sempurna, melainkan menjadi komunitas yang terusmenerus belajar mengasihi.

Semoga kita menjadi seperti penjaga yang diutus Allah, berani mengatakan yang benar, tetapi selalu dengan kasih; berani mengoreksi, tetapi tanpa merendahkan; berani menerima koreksi, tanpa menjadi defensif; dan terutama, berani mengambil langkah pertama menuju rekonsiliasi. Dan ketika kita berkumpul dalam nama Kristus, semoga kita sungguh percaya bahwa Ia hadir di tengah-tengah kita. Dialah yang menyatukan kita, Dialah yang menyembuhkan luka-luka kita, dan Dialah yang mengajar kita untuk saling mengasihi. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XXII

Sabtu Pekan Biasa XXII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
5 September 2026
1Kor 4: 6-15 + Mzm 145 + Luk 6: 1-5

Lectio
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Meditatio
Memetik bulir gandum dan memakannya pada Sabat adalah pantang. Apakah bila dilanggar mengakibatkan adalah sebuah dosa yang fatal? Daud pun pernah berbuat seperti itu walau bukan pada hari Sabat, yakni dia bersama para pengikutnya yang lapar mengambil roti sajian dan memakannya, padahal roti itu hanya boleh dimakan oleh imam-imam. Itulah sepertinya penegasan Yesus kepada mereka, kaum Farisi, yang mempersoalkannya. Pelanggaran para murid, demikian juga Daud bersama para pengkutnya sebatas pelanggaran kebijakan yang mengkondisikan kesantunan hidup bersama.
Beberapa hal tidak diperkenankan dilakukan pada hari Sabat, tentunya dimaksudkan agar seluruh umat beriman menggunakan hari Sabat sebagai hari yang istimewa yang dipersembahkan kepada Tuhan. Roti sajian dalam bait Allah boleh dinikmati hanya oleh para imam, mengingat tugas mereka yang berkaitan dengan ritual peribadatan dan hanya dalam bait Allah. Inilah kebijakan yang diharapkan ditaati bersama. Bila setiap orang mau menempatkan diri, tentunya akan terasa keindahan dan kenyamanan hidup bersama. Paulus mengingatkan: ‘jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting?’ (1Kor 4). Kerendahan hati akan mampu membuat setiap orang menempatkan diri.
Apakah sebuah dosa pelanggaran terhadap suatu kebijakan? Kalau itu dosa, pasti Yesus akan menegur keras para muridNya. Bukankah ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’.

Oratio
Yesus Kristus, dalam hidup bersama memang dituntut saling memahami satu sama lain. Egoisme diri dalam hidup bersama tak ubahnya seekor serigala di tengah-tengah kawanan ternak. Kami mohon kepadaMu, semoga Roh PengertianMu selalu mendampingi kami dalam setiap karya pergaulan, sehingga kami mampu hidup bersaudara dan mengikuti tatanan hidup bersama. Amin.

Contemplatio
‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’.

Translate »