Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 5:43-48

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita semua menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan. Bahkan para kudus pun bukan orang-orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga pernah mengalami kelemahan, pergumulan, dan jatuh bangun dalam hidup rohani mereka. Namun hari ini kita mendengar Sabda Yesus yang seakan tidak masuk akal dan cukup menantang kita. Dia berkata: “Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.” (Mat. 5:48)   Mengapa demikian? Sebab ketika mendengar kata “sempurna”, seringkali yang terlintas dalam pikiran kita adalah seseorang yang tidak pernah berbuat salah, tidak pernah jatuh dalam dosa, tidak pernah marah, tidak pernah gagal. Jika demikian pengertiannya, tentu kita akan merasa bahwa tuntutan Yesus terlalu tinggi dan hampir mustahil untuk dicapai.

Lalu, apa yang dimaksud Yesus dengan kesempurnaan? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat konteks Injil hari ini. Sebelum mengucapkan kalimat tersebut, Yesus berbicara tentang mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Dengan kata lain, kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukan pertama-tama kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kesempurnaan dalam kasih. Yesus berkata bahwa Allah Bapa menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Hujan turun bagi orang benar maupun orang yang tidak benar. Allah tidak memilih-milih kepada siapa Ia akan menunjukkan kasih-Nya. Kasih-Nya melampaui perhitungan manusia. Biasanya kita mengasihi orang yang mengasihi kita. Kita baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita menghormati orang yang menghormati kita. Itu adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tetapi Yesus meminta sesuatu yang lebih. Murid Kristus dipanggil untuk mengasihi bahkan ketika tidak menerima balasan. Mengampuni bahkan ketika tidak diminta maaf.  Mendoakan bahkan mereka yang menyakiti hati kita. Mengapa? Karena itulah cara Allah mengasihi.

Saudara-saudari,

Kalau kita melihat perjalanan hidup kita masing-masing, bukankah kita semua pernah mengalami kasih Allah yang demikian? Berapa kali kita jatuh dalam kelemahan? Berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Berapa kali kita kurang setia dalam doa, kurang sabar, kurang mengasihi? Namun Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Setiap pagi kita masih diberi kehidupan. Setiap hari kita masih menerima berkat-Nya. Setiap kali datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat, Ia selalu membuka pintu pengampunan. Kalau Allah memperlakukan kita seperti itu, maka Yesus mengajak kita memperlakukan sesama dengan cara yang sama. Tentu ini tidak mudah. Mungkin ada orang yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada anggota keluarga yang membuat kita kecewa. Mungkin ada sahabat yang mengkhianati kepercayaan kita. Bahkan mungkin ada luka yang sudah bertahun-tahun kita simpan. Yesus tidak mengatakan bahwa luka itu tidak nyata. Yesus juga tidak meminta kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak membiarkan luka itu berubah menjadi kebencian yang menguasai hati kita. Karena kebencian pertama-tama melukai diri kita sendiri. Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil lagi: lebih sabar daripada kemarin, lebih murah hati daripada kemarin, lebih mudah mengampuni daripada kemarin, lebih setia kepada Tuhan daripada kemarin. Jika kita terus berjalan dalam kasih, maka sedikit demi sedikit kita akan semakin menyerupai Bapa di surga.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar sedikit demi sedikit hati kita semakin menyerupai hati Bapa: hati yang penuh kasih, belas kasih, dan pengampunan. Sebab di situlah letak kekudusan dan kesempurnaan sejati.

Sebaliknya, pengampunan membebaskan hati kita. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Mengapa harus berdoa? Karena sering kali kita tidak mampu mengampuni dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Tuhan. Ketika kita mulai mendoakan seseorang yang menyakiti kita, perlahan-lahan Tuhan melembutkan hati kita. Mungkin luka itu belum langsung hilang, tetapi hati kita mulai dibebaskan dari kepahitan.

Saudara-saudari,

Para kudus memahami bahwa inti kekudusan bukanlah melakukan hal-hal yang luar biasa, melainkan bertumbuh dalam kasih.

Santo Alfonsus Maria de Liguori berkata:

“Seluruh kekudusan dan kesempurnaan jiwa terdiri dalam mengasihi Yesus Kristus.”

Kalimat ini sangat indah. Santo Alfonsus tidak mengatakan bahwa kesempurnaan terletak pada pengetahuan yang luas, jabatan yang tinggi, atau karya yang besar. Kesempurnaan terletak pada kasih kepada Yesus.

Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita ingin hidup seperti Dia. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita mampu mengampuni. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita belajar mengasihi orang lain.

Hal yang sama ditegaskan oleh Santa Theresia dari Lisieux. Ia berkata:

“Aku tidak mengetahui jalan lain untuk mencapai kesempurnaan selain kasih.”

Santa Theresia tidak melakukan karya-karya besar yang menggemparkan dunia. Ia hidup sederhana di biara. Namun Gereja mengakui dia sebagai orang kudus yang besar karena ia melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Inilah pelajaran penting bagi kita.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk menjadi kudus kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal Tuhan lebih melihat kasih yang ada di dalam hati kita.

Senyum yang tulus.

Kata-kata yang menghibur.

Kesabaran menghadapi anggota keluarga.

Kesediaan mengampuni.

Kesetiaan dalam doa.

Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi sangat berharga di mata Tuhan bila dilakukan dengan kasih.

Maka ketika Yesus berkata, “Hendaklah kamu sempurna,” Ia sebenarnya mengundang kita untuk semakin sempurna dalam mengasihi Tuhan dan sesama.

Saudara-saudari terkasih,

Kesempurnaan Kristen bukanlah keadaan yang langsung dicapai dalam satu hari. Itu adalah perjalanan seumur hidup.

Memberi Lebih dari yang Diminta

Memberi Lebih dari yang Diminta

(Matius 5:38-42)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Suatu hari seorang tukang ojek mengantar penumpang yang cukup merepotkan. Sepanjang perjalanan penumpang itu banyak mengeluh: jalan terlalu macet, motor terlalu pelan, bahkan sempat menyalahkan si pengemudi karena terlambat. Sesampainya di tujuan, penumpang itu turun tanpa mengucapkan terima kasih.

Teman-teman pengemudi yang melihat kejadian itu berkata, “Kalau aku jadi kamu, sudah kubalas dengan kata-kata yang pedas.”

Namun pengemudi itu hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau saya ikut marah, berarti dia menentukan siapa saya hari ini. Saya tidak mau hidup saya dikendalikan oleh kemarahan orang lain.”

Jawaban sederhana itu menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Ternyata kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membalas, melainkan ketika kita tetap menjadi diri yang baik meskipun diperlakukan tidak baik.

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan ajaran yang sering kali terdengar tidak masuk akal: jika ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu; jika seseorang memaksa berjalan satu mil, berjalanlah dua mil; jika diminta sesuatu, berilah.

Banyak orang mengira Yesus sedang mengajarkan sikap pasif, lemah, atau membiarkan diri diinjak-injak. Padahal bukan itu maksud-Nya.

Yang menarik, Yesus tidak sedang berbicara tentang kalah atau menang. Ia sedang berbicara tentang kebebasan batin.

Biasanya ketika seseorang menyakiti kita, ia sebenarnya sedang berusaha mengendalikan reaksi kita. Ia ingin kita marah, membenci, dendam, atau membalas. Ketika kita bereaksi persis seperti yang ia harapkan, sesungguhnya kita telah kehilangan kebebasan. Hidup kita dikendalikan oleh tindakan orang lain.

Di sinilah letak kebaruan ajaran Yesus. Yesus tidak hanya meminta murid-Nya menjadi baik. Ia mengajak murid-Nya menjadi pribadi yang tidak diperbudak oleh perilaku orang lain.

Orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan masih bergerak dalam logika yang sama dengan pelaku kejahatan. Sebaliknya, orang yang tetap memilih kasih sedang menciptakan logika baru. Ia memutus rantai kebencian yang biasanya terus berputar dari satu orang ke orang lain.

Ada hal lain yang jarang disadari. Yesus tidak berkata, “Berjalanlah satu mil saja.” Ia justru berkata, “Berjalanlah dua mil.” Artinya, murid Kristus tidak hidup berdasarkan ukuran minimum. Kasih Kristen selalu melampaui kewajiban.

Banyak orang bertanya, “Apa kewajiban saya?” Sedangkan Yesus mengajak kita bertanya, “Apa lagi yang dapat saya lakukan demi kebaikan?”

Karena itu kekudusan bukan sekadar memenuhi aturan. Kekudusan adalah kemampuan memberi lebih daripada yang dituntut. Allah sendiri mengasihi manusia dengan cara demikian. Ia tidak memberi kita sekadar apa yang pantas kita terima, melainkan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan.

Di salib, Yesus tidak hanya mengampuni mereka yang layak diampuni. Ia mengampuni bahkan mereka yang sedang menyalibkan-Nya.

Kasih yang seperti itulah yang diminta dari para murid-Nya.

Poin Refleksi

  1. Apakah saya masih membiarkan sikap buruk orang lain menentukan suasana hati dan tindakan saya?
  2. Dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja, apakah saya hanya melakukan yang wajib atau bersedia memberi lebih demi kebaikan bersama?
  3. Adakah seseorang yang saat ini sulit saya ampuni, sehingga saya masih terikat oleh luka dan kemarahan terhadapnya?

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang bebas, sehingga tidak dikuasai oleh kemarahan, dendam, atau keinginan membalas. Berilah kami keberanian untuk mengasihi lebih dari yang diwajibkan dan menghadirkan damai di tengah dunia yang sering dipenuhi permusuhan. Amin.

RD. Yusuf Dimas Caesario

Minggu Biasa XIA

Minggu Biasa XIA


(Kel 19:2-6a; Rom 5:6-11; Mat 9:36-10:8)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita melihat seorang anak kecil yang tersesat di keramaian? Wajahnya kebingungan, matanya mencari-cari seseorang yang bisa menolongnya, sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya. Gambaran itu kiranya membantu kita memahami perasaan Yesus dalam Injil hari ini. Ketika melihat orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Mereka hidup, tetapi kehilangan arah. Mereka berjalan, tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah. Mereka berada di tengah banyak orang, tetapi merasa sendirian.
Belas kasih Allah yang kita lihat dalam diri Yesus sesungguhnya sudah tampak sejak Perjanjian Lama. Dalam bacaan pertama, Allah memanggil bangsa Israel di Gunung Sinai dan berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, dan “bangsa yang kudus”. Allah tidak memilih Israel karena mereka bangsa terbesar atau terkuat, melainkan karena kasih-Nya. Mereka dipanggil bukan untuk menikmati pilihan itu bagi diri sendiri, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, sejak awal Allah selalu memanggil suatu umat agar menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Panggilan yang sama diteruskan oleh Yesus dalam Injil. Ia memanggil dua belas rasul dari berbagai latar belakang, ada nelayan sederhana, ada pemungut cukai yang dipandang rendah, ada pribadi-pribadi dengan karakter yang berbeda-beda. Pilihan Yesus ini mengandung pesan yang sangat indah, dimana Allah tidak menunggu seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum dipanggil. Justru melalui orang-orang biasa, Allah melakukan karya-karya yang luar biasa. Karena itu, jangan pernah merasa terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu tidak pantas untuk melayani Tuhan. Yang dicari Tuhan pertama-tama bukanlah kemampuan kita, melainkan kesediaan hati kita.
Lalu dari mana kekuatan untuk menjalankan panggilan itu? Di sinilah bacaan kedua memberi jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah mengasihi kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Ia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan kita. Artinya, dasar dari setiap perutusan bukanlah kehebatan manusia, melainkan kasih Kristus yang lebih dahulu menyelamatkan kita. Orang yang sungguh menyadari dirinya telah dikasihi akan lebih mudah mengasihi. Orang yang pernah merasakan pengampunan Tuhan akan lebih mudah mengampuni. Orang yang pernah diteguhkan oleh Tuhan akan terdorong untuk meneguhkan sesamanya.
Karena itu, tugas perutusan tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar atau melakukan hal-hal besar. Sering kali perutusan dimulai dari hal-hal sederhana yang lahir dari belas kasih: menjadi pendengar bagi mereka yang sedang terluka, menghibur mereka yang kehilangan harapan, mendamaikan anggota keluarga yang bertengkar,
membantu mereka yang sedang kesulitan, atau sekadar menyapa seseorang yang merasa dilupakan. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang hidup seperti domba tanpa gembala, mereka yang cemas akan masa depan, orang tua yang khawatir memikirkan pendidikan anak-anaknya, kaum muda yang kehilangan arah hidup, mereka yang terluka oleh konflik keluarga, atau mereka yang merasa tidak lagi dicintai. Kehadiran kita yang penuh perhatian bisa menjadi tanda bahwa Allah belum meninggalkan mereka.
Memang, tidak jarang ketika berusaha melakukan kebaikan, kita mengalami penolakan. Ada yang menertawakan, ada yang salah paham, bahkan ada yang membalas kebaikan dengan sikap yang tidak menyenangkan. Namun, Santo Paulus mengingatkan bahwa kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus. Karena itu, jangan biarkan penolakan memadamkan semangat pelayanan kita. Yesus sendiri mengalami penolakan, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi. Ia tetap berjalan, tetap menyembuhkan, tetap mengajar, dan tetap menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita melihat penderitaan, kebingungan, dan kesepian di sekitar kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Mungkin Tuhan justru sedang bertanya kepada kita, “Maukah engkau menjadi jawaban-Ku bagi mereka?” Sebab melalui tangan kita, Tuhan ingin menolong. Melalui kata-kata kita, Tuhan ingin menghibur. Melalui hati kita, Tuhan ingin menghadirkan belas kasih-Nya.
Semoga dalam Ekaristi ini kita semakin menyadari bahwa kita adalah umat pilihan Allah, yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh Kristus, serta diutus untuk menjadi pembawa harapan bagi dunia. Dan semoga ketika orang lain berjumpa dengan kita, mereka dapat merasakan sedikit dari belas kasih Yesus yang sama, yang dahulu menggerakkan hati-Nya ketika melihat domba-domba yang terlantar. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Peringatan Hati Maria yang tak bernoda

Peringatan Hati Maria yang tak bernoda

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
13 Juni 2026
Yes 61: 9-11 + Mzm + Luk 2: 41-51

Lectio
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Meditatio
Hanya dalam hati yang suci dan saleh, seseorang mampu menyimpan semua perkara hidup, dan itulah yang dilakukan Maria. Mendung tak selalu hujan, dan bahkan sering susu dibalas tuba. Yosef dan Maria mencari dan mencari sang Buah hati. Mereka bahkan selama tiga hari berlarian ke sana kemari. ‘Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Ayah-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau’, kata-kata Maria yang mungkin disertai nada kejengkelan, karena capek. Bukan permintaan maaf yang terdengar, tetapi kata-kata insani yang pahit malah didengarnya. ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?’, sahut Yesus tanpa beban. Kata-kata Tuhan yang kurang begitu halus menjawab kata-kata seorang ibuku. Setelah meredakan gelombang danau dan angin rebut, Yesus masih sempat berkata-kata mengapa kalian kurang percaya.
Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Berbicara dengan Tuhan Yesus seringkali seperti berbicara dengan orang pandai, yang mana kata-kataNya sulit kita mengerti maksudNya. Namun sebagai orang-orang yang membutuhkan Dia, amat baiklah kalau kita mendengarkan kehendakNya dan mentaatiNya, sebagaimana dicontohkan Maria sendiri yang mempunyai hati yang suci itu aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau selalu menyampaikan sabdaMu kepada kami. Sucikanlah dan kuduskanlah hati kami, agar mampu menyimpan sabdaMu dan merenungkanNya.
Ya Maria, doakanlah kami, agar berani membiarkan diri dikuduskan oleh Puteramu, Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

Contemplatio
Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

Kasih adalah jiwa hukum

Kasih adalah jiwa hukum

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 5:17-19

Rabu, 10 Juni 2026

Dari sekian hukum yang ada di dunia ini, hukum Taurat kiranya merupakan hukum yang cukup lengkap. Hukum Taurat terdiri dari 613 mitzvot, dan terbagai dalam dua bagian: 365 berupa perintah negatif [mitzvot lo taaseh] atau yang dilarang, sedangkan 248 berupa perintah positif [mitzvot ase] atau yang diperintahkan untuk dilalukan.  Jika sudah lengkap mengapa dikatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi? Hal apa lagi yang kurang dan harus digenapi?

Kita semua tentu paham bahwa isi Kitab Suci memiliki otoritas mutlak dan kekal. Ungkapan “satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan” [Mat 5:18] menunjukkan bahwa setiap firman Tuhan sangat penting dan tidak akan kehilangan kuasanya sampai rencana Allah tergenapi sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan ungkapan “menggenapi” berarti Yesus menambah jumlahnya, melainkan membawa Hukum Taurat dan kitab para nabi kepada arti, tujuan sejati hukum Taurat diturunkan kepada manusia melalui Musa. Sebab dalam perjalanan waktu, sekurang-kurangnya pada jaman Yesus, hukum Taurat hanya diajarkan oleh para ahli Taurat, tetapi tidak dilaksanakan oleh mereka, sebagaimana difirmankan, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” [Mat 23:2-3]. Bagi Yesus yang terpenting bukan soal menjaga kemurnian ajaran Taurat, melainkan bagaimana Taurat ini dilaksanakan dan dihayati dalam hidup setiap hari dalam semangat kasih. Taurat akan bermakna ketika perilaku dan sikap hidup benar-benar dijiwai oleh semangat saling mengasihi. Sebab kebenaran tanpa kasih akan melahirkan anarkhisme, sebaliknya kasih tanpa kebenaran hanyalah sentimentil belaka. Ketika kasih menjadi jiwa hukum, maka Taurat menjadi inspirasi yang menuntun orang kepada kebaikan, menjadi sumber moral dalam bertindak dan melakukan segala sesuatu dalam hidup dan kehidupannya. Orang yang melaksanakn hukum Taurat berlndaskan kasih, menurut Yesus, akan menduduki tempat tertinggi dalam Kerajaan Surga.

KItab Suci adalah Sabda Allah, pelita dalam hidup beriman kita. Karenanya sungguh sangat disayakankan, jika ayat Kitab Suci hanya digunakan untuk membenarkan perilaku menyimpang. Karenanya, mari kita berupaya bukan hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, melainkan sebagai pelaku, pelaksana Firman [Yak 1:22]. Sabda Allah yang kita baca atau dengarkan, kita resapkan dalam hati sehingga menjiwai seluruh pola hidup beriman dan sosial kita.

Translate »