Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XXVIA

Minggu Biasa XXVIA


(Yeh. 18:25-28; Flp. 2:1-11; Yoh. 21:28-32)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, ada perbedaan kecil tetapi sangat menentukan dalam
hidup kita: perbedaan antara mengatakan “ya” dan sungguh-sungguh melakukannya.
Kita mudah berkata, “Ya, saya siap. Ya, saya akan berubah.” Tetapi ketika waktunya tiba,
sering kali kata-kata itu berhenti di bibir dan tidak sampai pada tindakan.
Yesus hari ini berbicara tentang dua anak yang diminta ayahnya bekerja di kebun
anggur. Anak pertama berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi. Anak kedua
berkata “ya”, tetapi tidak pergi. Pertanyaannya, siapa yang melakukan kehendak
ayahnya? Jawabannya jelas, bukan yang paling indah perkataannya, melainkan yang
melakukan kehendaknya.
Di sinilah bacaan pertama dari Yehezkiel membantu kita memahami Injil. Allah tidak
mengunci manusia dalam masa lalunya. Orang yang pernah salah masih dapat berbalik
dan hidup. Masa lalu bukan penjara dan kegagalan bukan kalimat terakhir. Yang penting
ialah ke mana hati kita diarahkan hari ini. Pertobatan bukan sekadar merasa bersalah,
tetapi berani mengubah arah hidup.
Karena itu, Injil hari ini sebenarnya adalah cermin bagi kita. Jangan-jangan kita sering
berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi belum sungguh-sungguh pergi ke “kebun anggurNya”.

Kita rajin berdoa, berbicara tentang kasih, bahkan aktif dalam Gereja, tetapi
apakah semua itu sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama, menjalankan
tanggung jawab, dan menggunakan hidup kita?
Bacaan kedua menunjukkan kepada kita bagaimana “ya” itu seharusnya
diwujudkan. Paulus mengajak kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam
Kristus Yesus. Kristus tidak berhenti pada kata-kata. Ia mengosongkan diri, mengambil
rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan-Nya menjadi
pemberian diri.
Jadi, ketiga bacaan hari ini bertemu dalam satu pesan: iman harus menjadi tindakan.
Yehezkiel berbicara tentang perubahan arah; Injil tentang melakukan kehendak Bapa;
dan Filipi menunjukkan Kristus sebagai teladan ketaatan dan pemberian diri.
Saudara-saudariku terkasih, kebun anggur Tuhan ada di tempat kita hidup. Bagi
orang tua, itu keluarga; bagi guru, ruang kelas; bagi imam, umat dan pelayanan; bagi
mahasiswa, kampus, persahabatan, tugas, dan masa depan. Tuhan mungkin tidak
meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Ia meminta kesetiaan dalam hal-hal kecil:
jujur, bertanggung jawab, mau meminta maaf, mengampuni, menolong, dan menjaga
perkataan.
Yang indah dari Injil hari ini ialah bahwa anak pertama tidak berhenti pada kata
“tidak”. Ia berubah. Maka, jika hari ini kita merasa pernah gagal, jangan berhenti di sana.
Jika doa kita mulai kering, mulailah lagi. Jika ada relasi yang rusak, beranilah berdamai.
Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, lakukanlah. Tuhan tidak menutup pintu bagi
orang yang mau kembali.
Dan jangan pula kita sibuk menghakimi orang lain. Kita tidak mengetahui seluruh
perjalanan hidup seseorang. Yang saleh masih membutuhkan pertobatan, dan yang
pernah jauh dari Tuhan selalu mempunyai kesempatan untuk kembali. Pertanyaan
terpenting bukan, “Siapa yang lebih baik daripada saya?” melainkan, apa yang hari ini
Tuhan minta saya lakukan?
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita merayakan Ekaristi, Tuhan kembali
berkata, “Pergilah ke kebun anggur-Ku.” Mungkin selama ini “ya” kita belum sempurna.
Tetapi hari ini Tuhan memberi kesempatan baru. Semoga kita tidak hanya pandai
berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi berani menjadikan “ya” itu nyata dalam kehidupan.
Semoga seperti Kristus, kita belajar merendahkan diri, melayani, dan memberikan
diri. Dan semoga seperti anak pertama dalam Injil, kita tidak takut mengubah arah ketika
sadar bahwa kita sedang berjalan menjauh. Sebab iman yang hidup bukan hanya
berkata “ya”, tetapi bangun, melangkah, dan melakukan kehendak Bapa. Tuhan
memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XXV

Sabtu Pekan Biasa XXV

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
26 September 2026
Pengk 12: 1-8 + Mzm 90 + Luk 9: 43-45

Lectio
Pada suatu kali ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Meditatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’. Penegasan Yesus yang amat sulit dipahami orang-orang sejamanNya, tetapi mereka pun tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Pada akhirnya memang Yesus menyampaikannya kembali dalam aneka perumpamaan seperti para penggarap kebun anggur.
Program keselamatan, bahwasannya Anak Manusia diserahkan ke dalam tangan manusia di luar pikiran dan kebiasaan manusia pada umumnya. Anak Manusia sendiri melawan arus yang rutin dan mengalir, sehingga dikatakan oleh Pengkotbah, bahwa segala-galanya adalah kesia-siaan. Biasanya manusia diserahkan kepada Allah, sebagaimana dilambangkan dalam aneka kurban persembahan, tetapi tidaklah demikian sekarang ini, Anak Manusia malahan diserahkan ke dalam tangan manusia. Paulus menyebut Anak Manusia menjadi tebusan bagi banyak orang.
Mengikuti Yesus memang bagi seseorang berarti harus berani melawan arus.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memang menjdi kurban pelunasa dosa bagia setiap orang, umat yang Engkau kasihi. Semoga kami menjadi orang-orang yang mau menikmati karya penyelamatanMu itu, sehingga pada akhirnya kami menikmati keselamatan bersamaMu. Amin.

Contemplatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’.

Mengandalkan Allah

Mengandalkan Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 9:1-6

Pw St.Pius dr Pietrelcina

Ada ungkapan filosofi Jawa, “Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake” berarti berjuang menghadapi musuh tanpa mengerahkan pasukan besar, meraih kemenangan tanpa mempermalukan pihak lain. Ungkapan tersebut kiranya selaras dengan semangat perutusan yang diberikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya.

Bekal seorang murid adalah tenaga dan kuasa Allah. Pada jaman kita, tenaga dan kuasa Allah itu adalah rahmat dan martabat Baptisan. Dengan dibaptis, kita diurapi Allah sebagai imam, nabi dan raja; dengan dibaptis kita ambil bagian dalam tri tugas Kristus dalam pengudusan [imam], pewartaan [nabi] dan penggembalaan [raja]. Kita diundang untuk menghidupi, menghayati martabat baptisan tersebut. Larangan membawa tongkat, tas, roti, uang, atau baju ganti lebih mengungkapkan seorang murid hendaknya percaya pada penyelenggaraan ilahi, sebagaimana difirmankan, “seorang pekerja patut mendapat upahnya” [Mat 10:10].

Pesan pokok perutusan para murid dari dahulu sampai sekarang adalah mewartakan damai. Kebenaran ini tampak peristiwa pemberian tenaga dan kuasa kepada para murid adalah untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Damai tercipta ketika manusia bebas dari pengaruh kuasa setan dan sakit penyakit. Sebuah penerimaan utusan mendandakan bahwa damai sudah ada di tempat itu. Sementara penolakan merupakan tanda bahwa damai belum ada di tempat itu. Karenanya mengebaskan debu dari kaki bukan tanda ancaman atau hukuman, melainkan sebagai peringatan tanggung jawab moral bagi pendengar, sekaligus mengajar murid agar tidak membawa beban atau kepahitan masa lalu. Artinya seolah-olah belum pernah sampai ke tempat tersebut, sehingga pada kesempatan lain bisa didatangi lagi. Selain itu, makna mengebaskan debu tidak menimbulkan trauma ketika menuju ke tempat pelayanan baru.

Melalui warta hari ini, Tuhan mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Dia dalam setiap langkah hidup kita, dalam setiap tugas yang dipercayakan kita.  Sikap dan semangat kesederhaan, kerendahan hati, dan cinta kasih akan sangat membantu mengandalkan Tuhan.

RENUNGAN: 22 September 2026

RENUNGAN: 22 September 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Lukas 8:19-21

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar banyak nasihat: tentang kebaikan, kesabaran, pengampunan, dan kepedulian kepada sesama. Namun, mendengar saja belum cukup. Yang lebih penting adalah apakah apa yang kita dengar itu sungguh mengubah cara kita hidup dan memperlakukan orang lain.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar perkataan Yesus yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat dalam: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya.” Sekilas, perkataan ini mungkin terdengar aneh. Ketika diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya datang mencari-Nya, Yesus justru mengatakan bahwa ibu dan saudara-Nya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya. Apakah Yesus sedang ingin menjauh dari ibu dan saudara-saudara-Nya dan menolak keluarga-Nya? Tentu tidak. Yesus justru memperluas pengertian tentang keluarga. Keluarga Yesus bukan hanya mereka yang memiliki hubungan darah dengan-Nya. Setiap orang yang membuka hati kepada Sabda Allah dan melaksanakannya dipersatukan dengan Yesus sebagai keluarga-Nya. Maka, menjadi keluarga Yesus bukan pertama-tama soal status, tetapi soal cara hidup.

Saudara-saudari,

Kita semua tentu sudah sering mendengarkan Sabda Allah. Setiap kali mengikuti Misa, kita mendengarkan bacaan Kitab Suci. Kita mendengar tentang kasih, pengampunan, kesabaran, kerendahan hati, kejujuran, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama. Tetapi Yesus hari ini tidak hanya berkata: “mereka yang mendengarkan Sabda Allah.” Yesus menambahkan: “dan melaksanakannya.” Artinya, Sabda Allah tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi pikiran kita, tetapi untuk mengubah kehidupan kita. Maka, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah saya sudah mendengarkan Sabda Allah?”; tetapi lebih dalam lagi dan lebih penting adalah: “Apakah Sabda Allah sudah mengubah cara saya berpikir, berbicara, dan bertindak?” Sebab, ukuran iman bukan hanya seberapa banyak kita mengetahui ajaran Tuhan, tetapi juga seberapa nyata ajaran itu menghasilkan buah dalam kehidupan kita. Kita bisa sering mendengar tentang kasih, tetapi apakah kita sungguh mengasihi? Kita bisa sering mendengar tentang pengampunan, tetapi apakah kita mau mengampuni orang yang menyakiti kita? Kita bisa mendengar tentang kerendahan hati, tetapi apakah kita masih selalu ingin dipuji dan dihargai? Kita bisa mendengar tentang kepedulian kepada sesama, tetapi apakah kita peka terhadap orang yang sedang membutuhkan pertolongan? Di sinilah kita melihat bahwa Sabda Allah yang sungguh diterima akan menghasilkan perubahan hidup. Mungkin perubahan itu tidak terjadi sekaligus. Kita masih bisa jatuh dan gagal. Tetapi sedikit demi sedikit, kita belajar menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih mudah mengampuni, lebih peka, dan lebih siap melayani. Itulah buah dari Sabda Allah.

Saudara-saudari yang terkasih,

Kalau kita adalah keluarga Yesus, maka kita juga dipanggil untuk menjadi saudara bagi sesama. Keluarga bukan hanya tentang hidup bersama, tetapi tentang saling memperhatikan. Ketika satu anggota keluarga mengalami kesulitan, yang lain tidak berkata, “Itu bukan urusan saya.” Sebaliknya, ia hadir dan membantu sesuai kemampuannya. Demikian pula sebagai keluarga Allah. Di sekitar kita mungkin ada orang yang sedang mengalami kesulitan. Ada yang sakit. Ada yang kesepian. Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang mungkin sedang kecewa dan kehilangan harapan. Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan mereka. Tetapi kita bisa hadir. Kita bisa mendengarkan. Kita bisa memberi perhatian. Kita bisa membantu. Kita bisa menguatkan. Kadang-kadang kita berpikir bahwa menjadi orang beriman berarti melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan. Padahal, sering kali Tuhan hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih. Ketika kita memilih untuk tidak membalas kata-kata kasar dengan kemarahan, kita sedang melaksanakan Sabda. Ketika kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kita sedang melaksanakan Sabda. Ketika kita menyempatkan diri mengunjungi orang sakit atau menemani seseorang yang kesepian, kita sedang melaksanakan Sabda.  Ketika kita membantu orang yang membutuhkan tanpa mencari pujian, kita sedang melaksanakan Sabda. Ketika kita menjaga persaudaraan dan tidak mudah memecah-belah, kita sedang melaksanakan Sabda. Sabda yang kita dengarkan di gereja harus kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Marilah kita memohon rahmat Tuhan agar kita tidak hanya menjadi orang yang mendengar Sabda Allah, tetapi sungguh menjadi orang yang melaksanakan Sabda itu. Sebab pada akhirnya, menjadi keluarga Yesus berarti membuka hati kepada Sabda Allah, membiarkannya mengubah hidup, lalu mewujudkannya dalam kasih dan tindakan nyata.

Translate »