Browsed by
Author: admin

Kolaborasi Renungan Jalan Salib

Kolaborasi Renungan Jalan Salib

Pengantar Kolaborasi Renungan Jalan Salib
oleh Romo Galih PR

Renungan Jalan Salib ini dibuat oleh para Romo dan Suster:

Romo Antonius Galih Aryanto PR, Romo FX Sulis HP OCarm , Romo Alm. AM Ardi SJ, Romo Didik Setyawan CM, Romo Samuel Nasada OFM, Romo Lusius Nimu SSCC dan Para Suster Putri Karmel serta dibantu narasi oleh Adi dan Linda.

Narasi ini dibuat terpisah2 agar bisa dinikmati serta bisa di download bila diperlukan , sebagai bahan renungan jalan salib pribadi.

Mohon doa untuk Almarhum Romo Ardi SJ yang telah berpartisipasi dalam mengisi acara kita di Lubukhati.  

Jesus di jatuhi hukuman mati
oleh Romo Galih PR
Jesus memanggul kayu salib
oleh Romo FX Sulistya HP OCarm narasi oleh Adi W
Jesus jatuh pertama kalinya
oleh Romo Lusius Nimu SSCC
Jesus bertemu dengan IbuNya
oleh Suster Putri Karmel
Jesus ditolong Simon dari Kirene
oleh Romo Alm AM Ardi SJ narasi oleh Romo Didik CM
Veronica mengusap wajah Jesus
oleh Romo Samuel Nasada OFM
Jesus jatuh kedua kalinya
oleh Romo Didik S CM
Jesus menghibur perempuan yang menangis
oleh Romo Galih PR
Jesus jatuh ketiga kalinya
oleh Romo FX Sulistya HP OCarm narasi oleh Linda Santoso
Jesus ditanggalkan pakaiannya
oleh Romo Lusius Nimu SSCC
Jesus dipaku di kayu salib
oleh Suster Putri Karmel

Jesus wafat dikayu salib
oleh Alm Romo AM Ardi SJ narasi oleh Romo Didik CM
Jesus diturunkan dari kayu salib
oleh Romo Samuel Nasada OFM
Jesus dimakamkan
oleh Romo Didik S CM
Renungan, 21 Maret 2025

Renungan, 21 Maret 2025

Matius 21:33-43.45-46

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

NYANYIAN KEBUN ANGGUR

Perumpamaan hari ini berbicara tentang cinta Allah yang besar berbanding terbalik dengan sikap manusia yang jahat. Berulangkali dan dengan berbagai cara, Allah menegur dengan sabar dan memberi kesempatan, tetapi kejahatan manusia justru menjadi-jadi. Bahkan, Putra-Nya juga menjadi kurban atas kejahatan manusia. Mengapa hal itu bisa terjadi?

  1. CARA BERPIKIR

Manusia pertama dapat digoda setan karena pikiran Hawa telah dikeruhkan. Kata-kata larangan Tuhan dianggap sebagai upaya Tuhan agar tidak disaingi. Kain membunuh Habel akibat pikirannya sudah keruh, seakan Tuhan hanya menerima persembahan Habel. Tindakan para penggarap menyiksa dan membunuh utusan disebabkan oleh cara pikir yang salah terhadap tuannya.

Pikiran itu adalah anugerah agung nan luhur. Namun, ketika pikiran tidak lurus dan menjadi keruh, maka mata dan hati menjadi gelap. Tindakan jahat pun bisa dilakukan tanpa merasa bersalah.

  • KETAMAKAN

Satu pembelajaran penting hari ini adalah manusia tidak pernah puas akan pencapaian dirinya. Pikiran dan hati ingin terus menjangkau seluruhnya secara tak terbatas. Hal tersebut dibakar oleh setan, sehingga manusia semakin haus dan lapar. Bahkan, ia ingin menjadi Tuhan, agar segala-galanya dapat dikuasai sebagai miliknya.

Demikianlah ketamakan sungguh-sungguh menggeroti diri manusia. Pada dirinya sendiri, manusia akan terus gelisah dan cemas. Terhadap Tuhan, seorang yang telah tamak akan mengabaikan suara Tuhan. Selain dipenuhi oleh keinginan memenuhi hasrat dirinya, ketamakan akan mendorong seseorang untuk tidak beriman.

  • MATIRAGA

Masa Prapaskah adalah saat mengekang kecenderungan tak teratur yang bercokol di dalam diri kita. Sebagaimana Yesus yang adalah Allah tetapi tulus ikhlas menjadi hamba yang menderita, demikianlah kita mencontoh cara Tuhan dalam melepaskan diri dari kejahatan dan ketamakan kita.

Maka, merenungkan jalan salib Tuhan menjadi sesuatu yang amat penting. Permenungan ini bukan dengan maksud mengeksploitasi perasaan, sehingga menjadi terharu dan meneteskan air mata. Lebih daripada itu, permenungan jalan salib adalah cara belajar seperti Tuhan untuk mengekang keinginan tak teratur yang menjadi kelemahan kita.

RENUNGAN 20 MARET 2025

RENUNGAN 20 MARET 2025


Yer 17:5-10; Luk 16: 19-31

Saudara saudari terkasih, kita sampai di hari ke enam belas masa Prapaskah. Ajakan pembaharuan diri, rekonsiliasi, belaskasih, kemurahan hati, pertobatan dan perdamaian sangat kuat gemanya di Tahun Yubileum Peziarah Pengharapan. Sebuah sikap yang mengantar kita pada pengosongan diri, melepaskan diri dari segala hal yang digenggam erat selama ini. Terkadang membuat kita merasa aman dan nyaman, dan kita merasa gelisah di saat lepas dari situasi itu.

Bacaan Injil hari ini diawali percakapan Bapa Abraham dengan pengemis bernama Lazarus dan seorang kaya. Lazarus seorang pengemis pada saat masih hidup di dunia ada dalam penderitaan berkepanjangan karena sakit badannya penuh luka dan kelaparan. Ia tak mampu memenuhi standar hidup yang paling dasar untuk dapat bertahan hidup. Di sisi lain ada seorang kaya yang hidup bersukaria dalam kemewahan. Ia tak berkekurangan apapun, segalanya tersedia baginya. Lazarus sering menunggu remah-remah makanan dari orang kaya tersebut, tetapi tidak pernah ia mendapatkan remah-remah roti.

Di alam maut, kehidupan berbalik keadaannya. Lazarus ada dalam pangkuan Bapa Abraham dan bersukacita. Sedangkan orang kaya itu ada dalam penderitaan. Dua sisi yang bertolak belakang sering terjadi dalam kehidupan ini. Kaya-miskin, sehat-sakit, untung-malang, suka-duka, laba-rugi, positif-negatif. Setiap orang tentu harapannya ada dalam situasi yang baik, positif, dan bahagia. Tidak ada orang yang siap sedia menanggung derita hidup.

Ketika kita ada dalam sukacita senang, ingatlah pada saat kita dalam dukacita susah. Sehingga kita tidak terlalu larut dalam euphoria. Demikian juga sebaliknya. Kehidupan silih berganti, datang dan pergi dengan berbagai suasana situasi kondisi yang dialami. Kita diajak dan diarahkan terus menerus membaharui diri, berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, berbelaskasih dan bermurah hati terhadap sesama saudara saudari. Di saat kita ada dalam derita, kita membutuhkan orang lain untuk berdoa bagi Kesehatan, berdoa untuk pemulihan hidup yang sedang kita alami. Di saat kita ada dalam senang, kita diajak untuk berbagi kepada saudara lainnya. Tuhan menitipkan sebagian dari milik kita untuk dibagikan kepada lainya.
Seorang kaya mendapatkan hukuman setimpal bukan karena kekayaannya, melainkan karena ia tidak memiliki sikap berbagi pada saudara yang menderita, lemah, tersingkir, kecil tak berdaya. Kekayaan menutup dia semakin menutup diri, hanya memikirkan dirinya. Kemurahan hati dan belaskasih membuat orang punya sikap terbuka pada kesulitan saudaranya.

Andalan hidup kita adalah Tuhan Yesus, bukan pada harta benda. Ingatlah nubuat nabi Yeremia,”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatan sendiri, dan yang hatinya menjaduh dari Tuhan! Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”

Semoga Tuhan semakin mengubah diri kita dan memberkati segala niat baik di masa Prapaskah.
(rm. Medyanto, o.carm)

Translate »