Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

26 Maret 2023

Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

5th Sunday of Lent [A]
March 26, 2023
John 11:1-45

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles correspond to the seven sacraments. Last Sunday, we have seen that the healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism (see John 9:1-41). Now, we discover another Jesus’ sign-miracle, that is, the raising Lazarus to life. This miracle points to the sacrament of confirmation.

The sacrament of confirmation is often misunderstood and even neglected. There are many reasons for this. Some of us may feel that it is not necessary. We feel that we are already fulfilling sacred obligation when we are baptized, go to the Mass every now and then, and perhaps go to the confession once a year. Other receive an insufficient catechesis, and therefore, our understanding on the sacrament is very limited and even fussy. Others do not want to trouble themselves with another series of catechesis before the Confirmation. Others receive the sacrament without proper catechesis because their weddings are fast approaching. Thus, many see the confirmation as the second-rate sacrament.

However, this is not true at all. The Church continues to teach that this sacrament has indispensable role in the lives of the faithful. In fact, it is the second of the three sacraments of the initiation (together with baptism and Eucharist). To be full and mature member of the Church, we must receive the grace of the Holy Spirit imparted in the sacrament of confirmation. Now, how does today’s Gospel relate to the sacrament?

Firstly, Lazarus, together with Mary and Martha, has a loving friendship with Jesus before the miracle. This condition shows us that Lazarus is the symbol of baptized Christians who live in Christ. Secondly, Lazarus’ death and his going back to life point to the new life in the Spirit. John the Evangelist narrated explicitly that Lazarus has been in the tomb for four days (John 11:17). This is important detail, that is, Lazarus is truly dead, and his soul is no longer with his body. Thus, miracle of Jesus is a divine act that brings back life, uniting body and soul. While it is true that the Holy Spirit is not mentioned, but Jesus’ miracle brings us back to the creation of man where the Spirit of God was active and life-giving.

Finally, the miracle has enduring effects in Lazarus. After his return from the dead, Lazarus becomes a living witness to Jesus’ power and love. Because of Lazarus’ testimony, many come to Jesus and believe in Him. And for the same reason, Lazarus faces persecutions from Jesus’ enemies [see John 12:9-11]. Yet, Lazarus does not coward. He has been through death, but not even death can separate him from the love of Christ.

What happen to Lazarus are also happening in us. When we are baptized, we receive a loving friendship with Christ. Yet, in the sacrament of confirmation, our souls receive the gifts of the Holy Spirit and we become a mature Christians. We are now transformed to be a living witnesses of Jesus Christ and bring more people to God. We also are empowered to endure hardship and persecution because of Christ.

This is why before receiving the sacrament of holy matrimony or the sacrament of holy orders, we need to receive the confirmation. These two are the sacraments of service and witnessing, that bring other closer to holiness. Thus, only mature Christians are fit for this tasks. We are not only called to be Jesus’ friends, but also His brave witnesses to the world, and this sacrament makes us one.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [A]
19 Maret 2023
Yohanes 9:1-41

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes. Secara naluriah, Gereja melihat ketujuh mukjizat ini sebagai simbol dari tujuh sakramen. Lalu, kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini yang kita dengarkan Minggu ini berhubungan dengan sakramen apa? Jawabannya adalah sakramen Pembaptisan. Dan, karena tema dasar dari masa Prapaskah adalah pembaptisan, Gereja pun tidak ragu-ragu untuk menempatkan bacaan ini pada masa suci ini. Namun, benarkah mukjizat ini berhubungan dengan pembaptisan? Dan bagaimana kita sungguh tahu?

Kisah ini dimulai dengan Yesus dan para murid yang melihat seorang yang menderita kebutaaan sejak lahir. Kemudian, murid-murid-Nya mulai bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yoh 9:2)? Murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan yang dialami orang ini adalah akibat dari dosa-dosa pribadinya, atau setidaknya dosa orang-tuanya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa baik orang yang buta ini maupun orang tuanya tidak melakukan sebuah dosa yang menyebabkan kebutaan. Meskipun penderitaan dan kematian memang berkaitan dengan dosa, tetapi hubungan tersebut tidaklah sejajar, melainkan sebuah misteri. Orang itu tidak melakukan dosa, tetapi ia menanggung konsekuensi dari dosa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Gereja mengajarkan kondisi ini sebagai dosa asal. Setiap keturunan Adam dan Hawa dilahirkan ke dunia sebagai ‘musuh’ Allah. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita adalah ‘orang berdosa’, bukan karena kita melakukan dosa pribadi, tetapi karena kita jauh dari Allah dan tidak memiliki persahabatan rohani dengan-Nya. Oleh karena dosa asal tersebut, kita rentan terhadap berbagai penderitaan dan juga bergumul dengan concupiscentia (lihat juga renungan saya dua minggu yang lalu). Kondisi pria yang buta ini menjadi simbol dari kondisi dosa asal.

Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta ini? Yesus meludah ke tanah dan membuat tanah liat dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan tanah liat tersebut ke matanya. Lalu, Dia meminta orang buta itu untuk membasuh dirinya dengan air. Mengapa Yesus melakukan pengobatan yang aneh dan tidak higienis seperti itu? Jawabannya ada di Perjanjian Lama. Yesus melakukan apa yang Allah lakukan di kisah penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengunakan tanah. Ada sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Allah menggunakan air liur-Nya untuk membuat tanah menjadi lebih mudah dibentuk. Yesus melakukan hal yang sama di sini. Dia membawa orang yang buta menjadi sembuh dengan ‘menciptakannya kembali’. Kemudian, kesembuhan menjadi nyata ketika orang itu membasuh dirinya dengan air.

Apa yang terjadi pada orang yang disembuhkan itu, juga terjadi pada setiap orang saat pembaptisan. Apa yang kita lihat di mata kita, adalah seseorang dibasuh dengan air, tetapi secara rohani, Tuhan sedang membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Semua dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dibersihkan. Jiwa kita diubah menjadi serupa dengan Kristus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, bukan dalam arti kiasan, tetapi dalam arti yang sesungguhnya.

Terakhir, menjelang akhir cerita, Yesus bertanya kepada orang itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Lalu, orang itu menyatakan imannya kepada Yesus dan menyembah Dia. Iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari baptisan. Tidak masalah, jika kita percaya sebelum pembaptisan (seperti dalam kasus baptisan orang dewasa) atau setelah pembaptisan (dalam kasus baptisan bayi). Namun, yang terpenting adalah baptisan hanyalah permulaan, dan iman kita harus terus bertumbuh.

Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tersebut setelah kesembuhan yang diterimanya, tetapi kita dapat percaya bahwa ia menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Setelah pembaptisan dan iman awal kepada Yesus, Gereja mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kekudusan kita. Kita bertumbuh dalam iman melalui hidup di dalam Kristus, menghindari dosa, melakukan karya amal, dan menerima sakramen-sakramen lainnya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Healing of the Blind Man and Baptism

Healing of the Blind Man and Baptism

4th Sunday of Lent [A]
April 19, 2023
John 9:1-41

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles corresponds to the seven sacraments entrusted to her. The healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism. Since the basic theme of Lenten season is baptism, the Church does not hesitate to place this reading during this holy season. But, is true that this miracles is related to baptism? And how do we know?

The story begins with Jesus and disciples saw a poor blind man. Then, His disciples start to ask Him, ‘Rabbi, who sinned, this man or his parents, that he was born blind (John 9:2)?’ Jesus’ disciples believe that his sufferings are consequences of his personal sins, or at least his parents. Yet, Jesus immediately teaches them the truth. Jesus points out that neither blind man nor his parents have sinned to cause him blindness. Although sufferings and death are indeed related to sin, but the relation is not linear, but a mystery. The man does not commit personal sins, but he bears the consequence of sin. How is it possible?

The Church recognizes this condition as the original sin. Every descendant of Adam and Eve was born into the world as ‘enemies’ of God. Since we are in the womb of our mothers, we were ‘sinners’, not because we commit any personal sins, but because we are far from God and do not have a spiritual friendship with Him. Thus, because of the original sin, we are susceptible to various sufferings as well as struggling with concupiscence (check also my reflection two weeks ago).

How does Jesus heal this blind man? Jesus spats on the ground and makes clay with the saliva, and smears the clay on his eyes. Finally, He asks the blind man to wash himself with water. Why does Jesus perform such a weird and unhygienic treatment? Jesus performs what God did in the beginning: the creation of man. When God created Adam, He molded a soil of the ground. There is a Jewish tradition that says that God used His own saliva to make soil easier to form. Jesus does the same here. He is bringing the man with blindness into healing by ‘re-creating’ him. Then, the final healing takes place when the man wash himself with water.

What happens to the healed man, takes place also in every person during the baptism. What we see in our eyes is someone is washed with water, but spiritually, God is making us a new creation. All sins, both original and personal sins, are cleansed. Our souls are transformed into the likeness of Christ and are elevated into the adopted children of God. Thus, we call God our Father, not in the metaphorical sense, but in the real one.

Lastly, towards the end of the story, Jesus asks him, ‘Do you believe in the Son of Man?’ Eventually, the man professes his faith in Jesus and worships Him. Faith is integral part of baptism; whether we believe before the baptism (like in the case of adult baptism) or after baptism (in the case of infant baptism). However, baptism is just the beginning, and our faith must also grow.

We are not sure what the man does after the healing he received, but we may believe that he becomes Jesus’s disciple and follow Him. After baptism and initial faith in Jesus, the Church encourages us to continue our journey of holiness. We grow in faith through living in Christ, works of charity, and proper reception of other sacraments.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »