Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

MENJADI SAUDARA YESUS

MENJADI SAUDARA YESUS

Renungan, 28 Januari 2025

Markus 3:31-35

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

Kata “saudara” begitu akrab di telinga kita, sebab hidup kita berakar dalam persaudaraan. Namun, menjadi menarik apabila hal tersebut dikaitkan dengan Yesus. Mari kita sejenak melihatnya dalam 3 poin berikut:

  • KELUARGA SEDARAH

Kata “ibu dan saudara-saudara” seringkali ditafsirkan, bahwa Maria memiliki anak-anak selain Yesus. Namun, dalam bahasa Aram kata saudara dipakai juga untuk menyebut saudara sepupu atau keluarga besar. Fakta ini didukung oleh keluarga Yesus sebagai tukang kayu. Dalam keluarga miskin, biasanya semua berada dalam satu atap.

  • YESUS DI TENGAH KELUARGA

Orang-orang Nazaret hanya mengenal Yesus sebagai manusia. Mereka tidak dapat melihat sesuatu yang lebih pada diri Nya. Karena itu, Yesus tidak dapat membuat banyak mukjizat di sana. Yesus memalingkan perhatian-Nya ke kota-kota dan desa-desa lain.

  • KELUARGA BARU

Tujuan bacaan Injil Markus bukanlah untuk menekankan sanak keluarga Yesus, namun meringkas satu ciri penting untuk menjadi anggota umat Allah yang baru. Sebuah keluarga baru tanpa menekankan relasi sedarah, tetapi keluarga yang dibentuk oleh mereka yang duduk “mengelilingi” Yesus dan melakukan kehendak Allah.

Renungan 27 Januari 2025

Renungan 27 Januari 2025

Menuduh sesama saudara tanpa sebuah data dan fakta yang benar tentulah sangat menyakitkan hati bagi setiap orang. Di antara kita mungkin ada yang pernah mengalami hal itu. Hal ini bisa terjadi di dalam keluarga, organisasi, perusahaan, sekolah dan masyarakat pada umumnya. Banyak orang terluka dan tersakiti dengan tuduhan. Akibatnya orang saling balas dendam menuduh sesama saudaranya.

Tuduhan tanpa berdasarkan bukti yang akurat juga dialami oleh Yesus. Ahli-ahli Taurat menuduh Yesus kerasukan Beelzebul dan dengan bantuan penghulu setan Yesus mengusir setan. Yesus menjawab tuduhan ahli-ahli Taurat dengan perumpamaan rumah tangga keluarga yang terpecah-pecah tidak akan bertahan lama. Komunitas, keluarga, organisasi, tempat kerja, gereja, negara yang terpecah-terpecah tidak ada kedamaian dan kerukunan. Situasi hidupnya dipenuhi perilaku jahat.

Tuhan Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk memperbaiki rumah tangga, keluarga, komunitas ataupun organisasi agar tidak mudah terpecah belah. Apabila masing-masing orang di dalamnya dapat hidup penuh pengertian, saling memahami dan mengampuni, maka keluarga, komunitas, organisasai akan berdiri kokoh kuat. Tidak ada anggota yang merongrong atau bahkan menghancurkannya. Bersih-bersih rumah, menata kembali menjadi indah dan bersih, hidup rukun dan damai. Setiap orang patut memberikan kesempatan dan ruang bagi Roh Kudus bekerja disana. Tidak ada ruang dan kesempatan bagi orang yang ingin berbuat kejahatan. Daya Ilahi Roh Kudus sangat dahsyat untuk memusnahkan segala kuasa kejahatan.

Tuhan Yesus mengecam pikiran dan tindakan orang-orang yang hanya melihat keburukan daripada kebaikan sesamanya. Suara Allah dan Roh Kudus dikenali dalam keheningan batin dan alam, di dalam setiap peristiwa yang terjadi. Ketika setiap pribadi hanya melihat keburukan atau kejahatan, dia menutup ruang bagi Roh Kudus berkarya dalam dirinya. Ia menutup diri terhadao setiap perbuatan baik yang dilakukan sesamanya. Bukankah itu pula yang terjadi pada diri para ahli Taurat setiap kali melihat perbuatan yang dilakukan Yesus?

Berilah ruang dalam pikiran dan hati untuk Roh Kudus berbicara dan berkarya pada diri kita. Janganlah kita mengabaikan seruan suara Roh Kudus yang sedang bekerja atas diri kita. Tuntunan dan bimbingan Roh Kudus selalu membantu kita melihat segala sisi baik yang dikerjakan oleh Allah lewat orang-orang di sekitar kita. Mohonlah Roh Kudus datang dan tinggal dalam diri kita. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi peziarahan kita di sepanjang Tahun Yubileum : Peziarah Pengharapan.

(rm. medyanto, o.carm)  

Menanggapi Tawaran Keselamatan

Menanggapi Tawaran Keselamatan

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 3:22-30

Senin, 27 Januari 2025

Kita tentu akrab dengan peribahasa, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, artinya: segala sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan secara bergotong-royong, bersama-sama. Peribahasa ini kiranya bisa membantu kita memahami sabda Tuhan hari ini. Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, karena mereka memisahkan diri dari Allah atau tidak taat kepada Allah. Sebaliknya mereka justru lebih taat kepada perkataan iblis.

Dalam kenyataan hidup ini tampaknya iblis lebih menarik daripada Allah. Seperti Adam dan Hawa yang lebih taat pada Iblis, demikian pula para ahli Taurat yang menuduh Yesus kerasukan Beelzebul, dan mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Tuduhan tersebut lahir dari rasa iri, sebagimana manusia pertama yang ingin menjadi seperti Allah [bdk. Kej 3:5]. Jika manusia sudah menjadi seperti Allah, maka selanjutnya mereka tidak membutuhkan Allah. Jika hal ini terjadi inilah kiranya yang disebut dengan “dosa menghojat Roh Kudus”. Difirmankan bahwa dosa menhujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya. Mengapa demikian? Tuhan ada Roh [2 Kor 3:17-18]. Jika Tuhan yang adalah Roh, Dia yang berkuasa mengampuni dihujat, ditolak, tidak dibutuhkan lagi, siapakah yang bisa mengampuni?

Telah difirmankan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” [Yoh 3:16]. Itulah sebabnya, Yesus yang dituduh para ahli Taurat kerasukan setan, mengusir setan dengan penghulu setan, tetap tenang dan tidak marah. Sebab Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Bagi Yesus, para ahli Taurat adalah termasuk yang tersesat. Yesus berupaya untuk memberikan penjelasan dengan berbagai argumen. Dengan harapan para pendengar-Nya mau mendengarkan-Nya dan hidup berdasarkan firman-Nya.

Keselamatan adalah sebuah tawaran, bukan paksaan. Allahpun hanya bisa menawarkan keselamatan itu. Maka melaui Yesus Putra-Nya, Allah menawarkan keselamatan itu. Apakah para ahli Taurat dan juga kita menanggapi tawaran tersebut? Semoga kita bersedia menanggapi tawaran keselamatan itu dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Mari kita bersatu dengan Tuhan, dan bukan bersekutu dengan setan.

Jumat Pekan Biasa II

Jumat Pekan Biasa II

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
24 Januari 2025
Ibr 8: 6-13 + Mzm 85 + Mrk 3: 13-19

Lectio
Pada suatu kali naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Meditatio
Pada suatu kali naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Ada dua tugas yang diberikan Yesus, yakni menyertai sang Guru, tentunya ke mana saja Dia pergi. Para murid diminta membantu dan melayani Dia dalam karya pewartaan. Tugas lainnya adalah memberitakan Injil. Namun sejauh mana mereka ambil bagian dalam karya pewartaan Injil Allah? Apakah kelak dilakukan setelah kebangkitanNya? Yesus tidak hanya menyuruh mereka, tetapi memperlengkapi mereka dengan kuasa ilahi untuk mengusir kuasa kegelapan.
Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. Yesus tentunya mengenal mereka satu per satu. Petrus dan Andreas, Yohanes dan Yakobus diceritakan secara istimewa oleh Markus dalam Injilnya. Namun mengapa Andreas tidak digandengkan langsung dengan Simon Petrus dalam Injilnya? Apakah panggilan Yudas Iskariot hendak menegaskan, bahwa iman tetap mengandaikan intervensi Tuhan dalam diri setiap orang? Panggilan olehNya tidak memperhitungkan kelayakan dan predikat seseorang? Bahkan seorang pribadi mempunyai hak dan kebebasan untuk melanggar dan melawan kehendak Allah? Itulah realitas kehidupan.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memanggil setiap orang untuk menikmati keselamatan yang indah dan sukacita hidup yang terpancar dalam tingkah laku. Semoga kami hari demi hari semakin menghayati panggilanMu itu, dan siap membagikannya juga kepada sesame kami. Amin.

Contemplatio
Yesus menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.

“Hukum Kasih VS Hukum Formal”

“Hukum Kasih VS Hukum Formal”

Rm Yusuf Dimas Caesario O.Carm

Penjual Bakso yang Bijaksana

Suatu hari, seorang penjual bakso terkenal di desa memutuskan untuk libur setiap Minggu demi waktu istirahat dan pergi ke gereja. Namun, pada hari Minggu itu juga, seorang anak kecil mengetuk pintunya sambil menangis, “Pak, saya lapar. Saya belum makan seharian.” Dengan penuh iba, penjual itu menyalakan kompor, memasak semangkuk bakso, dan memberikannya kepada si anak. Sambil tersenyum, dia berkata, “Melayani Tuhan itu bukan hanya soal tutup warung di hari Minggu, tapi juga berbagi dengan yang lapar.”

Kisah sederhana ini mirip dengan apa yang Yesus ajarkan dalam Injil hari ini. Ketika murid-murid-Nya memetik gandum pada hari Sabat, orang Farisi mengkritik mereka karena dianggap melanggar aturan. Namun, Yesus dengan tegas berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.”

Yesus mengingatkan bahwa hukum agama diciptakan untuk mempermudah manusia mendekat kepada Allah, bukan untuk membelenggu. Tuhan tidak ingin kita sekadar mematuhi aturan tanpa memahami tujuan utamanya: kasih dan belas kasih.

Menemukan Kasih dalam Hukum Tuhan

Kita sering terjebak dalam formalitas aturan. Misalnya, kita merasa sudah cukup menjadi orang Katolik yang baik karena mengikuti misa mingguan atau mendoakan Rosario, tetapi apakah kita juga peka terhadap kebutuhan sesama? Jangan sampai hukum agama yang harusnya membawa kedamaian justru menjadi alat untuk menghakimi atau menekan orang lain.

Hari Sabat adalah waktu istimewa yang Tuhan berikan agar kita dapat beristirahat dan merenungkan kasih-Nya. Namun, lebih dari itu, Sabat juga menjadi kesempatan untuk membawa kasih kepada sesama. Yesus menunjukkan bahwa hukum terbesar adalah kasih kepada Allah dan sesama. Aturan dan ritual keagamaan hanya menjadi sarana untuk mewujudkan kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.

Coba tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya menggunakan waktu saya untuk melayani Tuhan dengan penuh cinta? Atau justru saya terlalu sibuk dengan formalitas agama hingga melupakan esensinya? Jangan sampai iman kita hanya menjadi rutinitas tanpa makna, melainkan biarlah itu menjadi kekuatan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan sesama.

Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah saya memahami hukum Tuhan sebagai sarana untuk mencintai Allah dan sesama?
  2. Dalam situasi apa saya lebih memilih “aturan” daripada menunjukkan belas kasih?
  3. Bagaimana saya dapat menjadikan waktu istirahat atau “hari Sabat” saya lebih bermakna, baik untuk hubungan saya dengan Allah maupun dengan orang lain?

Doa Penutup

Ya Allah yang Maharahim, kami bersyukur atas hukum-Mu yang penuh cinta. Bantulah kami untuk memahami bahwa segala aturan yang Engkau berikan bertujuan membawa kami lebih dekat kepada-Mu dan sesama. Berilah kami hati yang lembut, agar kami mampu melampaui formalitas hukum demi mewujudkan kasih-Mu dalam tindakan nyata. Semoga hidup kami menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Mu. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Translate »