Kisah Ima Matul
Dalam rangka peringatan Hari Raya Pesta Santa Maria Magdalena, seorang perempuan yang cukup lama dalam sejarah Gereja dianggap seorang pelacur dan baru belakangan ini lebih ditonjolkan perannya dalam memberitakan kebangkitan Yesus, saya ingin mengajak anda menyimak kisah Ima Matul.
Saya bertemu Ima beberapa tahun lalu melalui seorang suster kenalan saya di Los Angeles yang banyak berkarya untuk memberantas perdagangan manusia (human-trafficking). Perjuangan Ima membuat saya sangat tersentuh dan terinspirasi. Ia sendiri adalah korban perdagangan manusia, dianiaya oleh majikannya, dan akhirnya bisa melarikan diri dan sekarang bekerja untuk sebuah organisasi yang membela dan menolong korban-korban perdagangan manusia di Amerika.
Kisah Ima hanya satu dari ribuan kisah perempuan lainnya di dunia yang menjadi korban kejahatan yang tidak manusiawi ini. Semoga kita selalu sadar dan ikut berdoa, mawas diri, dan membantu mereka para korban perdagangan manusia, terutama para perempuan dan anak-anak.
Simak kisahnya dalam artikel dan video di bawah ini:

Sebenarnya, ketika masih menjalani pendidikan sebagai calon imam (Biasa disebut ‘Frater’), banyak guru Vianney di seminari tak mengharapkannya untuk meneruskan pendidikan sebagai imam. Mengapa? Banyak kali Vianney harus mengulang ujian, karena tak berhasil mencapai hasil minimal. Meski sudah berusaha keras, ia lebih sering tertinggal dalam pelajaran dari teman-temannya. Kalau jaman sekarang, Vianney ibarat seorang mahasiswa yang sudah terancam drop out karena indeks prestasinya tidak memenuhi syarat minimal


Kesucian, hidup sederhana, dan doanya mulai memikat hati orang. Perlahan-lahan hingga akhirnya ribuan orang datang padanya setiap hari dan meminta nasehat rohani pada Vianney. Setiap hari lebih dari dua ribu orang datang padanya meminta pengakuan dosa dan nasehat rohani.
Akhirnya Vianney kewalahan memikul tugasnya sebagai imam paroki, sekaligus pembimbing rohani umat. Hidupnya habis di ruang pengakuan dosa; sekitar 14 jam setiap hari selama 33 tahun. Tugas paroki di serahkan pada imam lain, dia hanya melayani misa, pengakuan dosa, dan tugas katekese. Ritme hidupnya sangat luar biasa. Pengakuan dosa mulai pukul dua dini hari hingga pukul sembilan malam, diselingi misa harian, makan sekali sehari pada siang hari, ibadat, dan mengajar umat.