Browsed by
Month: January 2014

Peringatan Elisabeth Anna Bayley Seton, Angela dr Foligno

Peringatan Elisabeth Anna Bayley Seton, Angela dr Foligno

 

1Yoh. 3:7-10; Mzm. 98:1,7-8,9; Yoh. 1:35-42

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Bacaan injil hari ini sangat menarik karena menceritakan bagaimana murid Yohanes Pembaptis membuat sebuah keputusan untuk mengikuti Yesus. Saat itu mereka sedang berdiri bersama dengan Yohanes Pembaptis, dan Yohanes melihat Yesus dan berkata “Lihatlah Anak Domba Allah!” mereka kemudian meninggalkan Yohanes Pembaptis dan mengikuti Yesus.

Mungkin kita berpikirbahwa hal itu mudah bagi mereka  karena Jesus hadir secara fisik pada zaman mereka dan mereka  dapat mengikuti Dia  kemana saja Dia berada. Pertanyaan bagi kita, bagaimana kita mengikuti Yesus pada zaman kita sekarang dimana kita tidak melihat Dia secara nyata? Seperti apa menjadi pengikut Kristus setiap hari dalam hidup kita?

Ada tiga hal dari bacaan injil yang membantu kita bagaimana menjadi pengikut Kristus: mengenal Jesus, mempunyai waktu bersama Yesus dan mewartakan Yesus kepada orang lain.

Pertama mengikuti Yesus adalah mengenal Yesus sebagai penyelamat kita. Jesus mati di kayu salib agar kita dapat menjadi sahabat dengan Allah. Kita diajak tidak hanya sekedar mengenal Jesus tetapi lebih dari itu menyadiri bahwa Dia adalah penyelamat kita yang memulihkan relasi kita dengan Allah melalui kematian dan kebangkitanNYA.

Kedua adalah mempunyai waktu bersama dengan Yesus. Seperti kedua murid yang mengikuti Yesus dan mau melihat dimana yesus tinggal, kita juga diajak untuk mempunyai waktu untuk mendengarkan dia dan berbicara dengan Dia. Kita dapat membagi waktu kita untuk membaca kitab suci, berdoa, adorasi dan meditasi.

Ketiga adalah mewartakan Yesus kepada orang lain. Sebagaimana Andreas memeperkenalkan Yesus kepada sudaranya Petrus, demikian juga kita diharapkan agar setelah mengenal Yesus dam mempunyai relasi dengan Yesus, kita pun mempunyai keberanian untuk mewartakan Yesus kepada orang lain. Dan mungkin lebih tepat kalau kita mulai dari lingkungan keluarga kita.

Marilah kita menjadi pengikut Yesus zaman modern yang handal dan membawa semakin banyak orang untuk mengenal dan mengikuti Yesus.

Tuhan berkati

Pesta Nama Yesus Yang Tersuci

Pesta Nama Yesus Yang Tersuci

 

1Yoh. 2:29-3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34

 

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Ketika hendak berenang di pantai Waikiki, Hawaii, saya berjumpa dengan seorang umat yang sedang berjemuran di pantai. Saya menyapa orang tersebut karena saya sering melihat dia mengikuti misa pagi. Dia memandang saya seolah dia tidak pernah mengenal saya. Melihat reaksinya tersebut saya akhirnya mengenalkan diri saya bahwa saya adaah romo di Gereja yang setiap hari dia menghadiri misa pagi. Dia merasa kaget dan bekata “Oh kamu Romo Lusius ya? Saya menjawab ya. Dia berkata, wah saya benar tidak mengenal kamu, biasanya selalu pakai jubah. Saya dalam hati berpikir bagaimana berenang pakai jubah? Umat saya ini tidak mengharapkan untuk tidak melihat saya mengenakan pakaian renang. Dia tidak mengenal saya walaupun saya menyapanya.

Kadang-kadang kita melakukan hal yang sama untuk Yesus. Kita mengharapkan untuk bertemu Yesus  ditempat-tempat yang suci: dalam kitab Suci, doa, sakramen, di gereja, bahkan di tempat yang indah dan menarik yang masih natural. Kita sering gagal melihat Yesus ditempat-tempat lain dan konteks/situasi yang lain seperti dalam rutinitas hidup kita sehari-hari, di tempat kerja kita, di rumah, di tengah kesulitan dan penderitaan, ditengah orang yang sungguh membutuhkan bantuan dan kemiskinan. Sesungguhnya, Yesus hadir dalam setiap situasi hidup kita. kita perlu buka mata kita dan menemukan Dia.

Dalam injil hari ini, St. Yohanes Pembaptis dua kali mengatakan bahwa dia tidak mengenal Yesus. Sesungguhnya, dia mengatakan bahwa Kehadiran Yesus dinyatakan kepada dia oleh Roh Kudus. Barangkali kita belajar dari Yohane Pembaptis dan memohon Roh Kudus untuk memperlihatkan  kehadiran Yesus  tidak hanya ditempat dimana kita selalu harapkan untuk melihat Yesus, tetapi terutama di tempat-tempat dimana melihat wajah Yesus yang tampak sebagai sesuatu yang selalu surprise dalam setiap  lini hidup kita.

 

Peringatan Wajib Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze

Peringatan Wajib Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze

1Yoh. 2:22-28; Yoh. 1:19-28

 

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

 

Memberikan kesaksian akan keMenjadi benaran pada zaman sekarang adalah sesuatu yang tidak mudah. orang jujur bisa menjadi kiamat bagi diri sendiri atau keluarga. Kebenaran bisa menjadi malapetaka sehingga seringkali dimanipulasi. Dalam banyak problem rumah tangga, suami istri sering tidak terbuka akan satu dengan yang lain karena ada hal yang disembunyikan. Yang sering muncul dipermukaan adalah marah, tidak mau komunikasi, sibuk ataupun ada kegiatan lainnya diluar rumah. Alasan utama menjadi sumber konflik seringkali tidak terkuak. Ditempat kerja, orang tidak tidak berani buka mulut karena takut kehilangan posisi atau pekerjaannya.

Bacaan injil hari ini memunculkan tokoh Yohanes pembaptis yang dengan lugas memberikan kesaksian siapakah dirinya sesungguhnya dan apa yang di lakukan. “Akulah suara orang yang berseru di padang gurun: luruskan jalan bagi Tuhan!”

Yohanes secara tidak langsung mengajak kita juga untuk menyuarakan identitas kita sebagai pengikut Kristus: berani menyuarakan tugas perutusan yang telah dipercayakan kepada kita. ketika kita menerima sakramen Krisma, kita diutus menjadi saksi Kristus, saksi akan nilai-nilai Kristiani kepada siapa saja yang kita jumpai, berani mewartakan ajaran cinta kasih Kristus kepada orang yang membutuhkannya.

Menjadi pertanyaan refleksi bagi kita adalah apakah kita berani menjadi saksi sebagaimana yang dicontohkan oleh yohanes pembaptis? Kalau belum, apa yang perlu kita lakukan? Di hari kedua permulaan tahun 2014, kita diajak untuk melatih diri membuat sebuah komitme sebagai pengikut Kristus untuk berani menjadi saksi kebenaran bagi orang lain mulai dari dalam rumah sendiri.

Translate »