Browsed by
Month: March 2014

Kamis Minggu I Masa Puasa

Kamis Minggu I Masa Puasa

Ester C:12, 14-16, 23-24
Matius 7:7-12
seek_knock_ask“Perjalanan kita selama masa puasa ini kiranya bisa membawa kita secara lebih mendalam, kuat dan setia berdoa”
Saudara-saudari sekalian,
Puasa yang dalam bahasa Inggris disebut “Lent” berasal dari akar kata “spring”(sumber air, atau musim semi). Sesungguhnya masa Puasa membawa jiwa kita ke musim semi. Puasa mengingatkan kita untuk meninjau kembali dasar-dasar pemuridan kita. Oleh karena itu dari kedua bacaan hari ini, baik dari kitab Ester maupun dari injil Matius berbicara kepada kita salah satu dasar utama dari hal pemuridan kita ialah komitmen kita untuk berdoa.
Dari bacaan pertama, kita dengar bahwa Ester sangat kuat dalam hal berdoa sementara ia sudah terperangkap dalam peristiwa-peristiwa yang berbahaya. Lingkungan ceritanya meliputi tipu muslihat di dalam istana Persia pada abad kelima sebelum Kristus. Suatu rencana kotor dari seorang pegawai pengadilan raja Xerxes, memungkinkan kehancuran orang-orang Hibrani di dalam kerajaan itu. Ester, yang adalah ratu Xerxes, tetapi tidak dikenal sebagai seorang Hibrani oleh sang raja, Ester justru menjadi seseorang yang dapat menghentikan rencana pembunuhan itu. Meskipun Ester tidak tahu apa yang dapat ia lakukan.  Ia memohon kepada Allah dalam doanya agar Allah dapat membantu dia menyelamatkan orang-orang ini. Ujud utama doanya agar orang-orang Hibrani diselamatkan. Sampai dengan saat ini di kalangan orang Yahudi cerita tentang doa Ester dikenal sebagai perayaan Purim.
Selanjutnya kalau kita melihat injil Matius, kita mendengar bagaimana Jesus mengajarkan jawaban Tuhan atas doa-doa kita. Kepada kita Yesus mengatakan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”. Kemudian di dalam pengajaran yang sama Yesus memberi kita peraturan-peraturan (the golden rule) yang menghantar kita kepada suatu perbuatan nyata untuk sesama.
Oleh karena itu secara serentak baik dari bacaan pertama maupun  bacaan injil hari ini, kita lihat bahwa bacaan-bacaan itu merupakan petunjuk dari Yesus sendiri bagaimana seharus kita berdoa. Selain itu kitapun menyadari dan percaya akan apa yang Yesus katakan sebagai jalan yang benar: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”…setia mendoakan satu sama lain terutama dengan mereka yang selalu hidup bersama kita dalam keluarga kita masing-masing, mendoakan sesama kita di dalam komunitas maupun mereka yang berada di luar komunitas kita. Inilah semangat hidup doa yang mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat dan yang juga telah diungkapkan oleh Ester dan kemudian juga ditegaskan lagi oleh Yesus sendiri. Disamping kekuatan yang dahsyat dari doa-doa kita, doa telah menjadi suatu pengungkapan yang nyata dari kasih dan perhatian kita kepada mereka yang kita jumpai dan yang hidup bersama kita. Dengan demikian melalui doa yang tak putus-putusnya itu akan selalu dan senantiasa memelihara keintiman kita dengan Allah dan dengan mereka yang kita bawakan dalam doa-doa kita.
Saudara-saudari terkasih,
St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Tesalonika mendorong kita untuk tiada henti-hentinya berdoa, dan itu sangat mungkin akan sulit untuk sementara orang kalau harus  dilakukan setiap hari. Bagaimanapun juga anjuran St. Paulus ini bisa menjadi perhatian kita selama masa Puasa. Misalnya dengan mengatur alarm clock kita tiga puluh menit sebelumnya dan atau menikmati kopi/teh pagi bersama Tuhan. Kalau hal ini dapat dilakukan secara rutin, tiap-tiap hari sangat mungkin dan sangat boleh jadi kita akan selalu merasakan kedamaian, kehadiran kasih Allah bersama kita sepanjang hari itu. Kalau anda adalah tipe orang yang tidurnya larut malam, gunakanlah sedikit waktu pada malam hari untuk berdoa, merasakan kehadiran Tuhan dalam keheningan malam itu sambil bersyukur atau berterimakasih kepadaNya,  membuka diri kita untuk kehadiranNya…bahkan kita bisa membawa dan atau menyebut nama siapa saja yang mau kita bawakan dalam doa dan meditasi kita pada malam itu.
Kiranya masa Puasa ini dapat membawa kesegaran baru kepada semangat hidup rohani kita; akan menjadi suatu kesempatan yang baik untuk pertumbuhan dan pendewasaan hidup rohani kita dengan meningkatkan semangat doa, puasa/matiraga dan amal kasih kita. Amin.
God’s love and mercy are truly boundless

God’s love and mercy are truly boundless

Yunus 3:1-10
Lukas 11:29-32
Saudara-saudari sekalian,
Kedua bacaan hari ini baik dari kitab Nabi Yunus maupun dari injil Lukas mengingatkan kita akan rahmat dan kasih Allah yang tak terbatas, sangat jauh dari kemampuan kita untuk memahaminya. Kedua bacaan yang mewarnai awal masa puasa kita tidak hanya membicarakan kebutuhan kita untuk bertobat tetapi juga menyampaikan bahwa Allah menyapa setiap orang meskipun seringkali kita tidak dapat mengerti ataupun melimpahkan kasih dan kemurahanNyakepada orang yang tidak mau atau belum menerimaNya.
Lukas, dalam bacaan injil hari ini mewartakan bagaimana Yesus berbicara di depan banyak orang bahwa “angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus.” Yesus tidak mau memberi kesempatan kepada para pendengarNya bingung berkepanjangan atas apa yang Ia katakan. Secara blak blakan Yesus menyampaikan bahwa nabi Yunus berkhotbah kepada kaum Ninive di masa lampau, mereka adalah orang-orang yang samasekali tidak mengenal Allah dan musuh bangsa Israel namun mereka menangkap dan mendengarkan pesannya, mereka bertobat dan meninggalkan cara hidup lama. Selanjutnya Yesus mengingatkan para pendengarnya bahwa Ratu yang terkenal dari Selatan itu yang dikenal Ratu dari Sheba, telah berjalan dari negeri asing hanya untuk mendengarkan kebijaksanaan Salomon (“…ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada disini lebih dari pada Salomo!”). Yesus lalu bertanya, berapa lama lagi bangsa ini (yakni bangsa Yahudi) bisa mendengarkan firmanNya/pesanNya dan mengakui Kerajaan Allah? “Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”
Saudara-saudari, dalam kehidupan ini rupanya kita perlu melihat lebih jauh kebelakang, dengan kata lain kita perlu merefleksi kehidupan keluarga kita masing-masing dan kehidupan orang lain di sekitar kita. Kadangkala kita menjadi puas dengan diri sendiri dalam pengertian bahwa kita begitu merasa comfortable dengan kepercayaan kita, dengan orang-orang yang seiman dengan kita, dengan orang-orang yang punya latar belakang kebudayaan, pemikiran dan bahasa yang sama. Tetapi orang-orang Niniwe dalam bacaan-bacaan hari ini mengatasnamakan kelompok orang yang sangat tidak disukai oleh orang/bangsa Israel, tetapi justru orang-orang Niniwe ini juga telah mendapat perhatian dan kasih Allah. Pada zaman sekarang ini, menghadapi pergolakan dunia dengan pelbagai macam pertentangan (karena perbedaan suku, agama dan ras), ataupun peperangan dimana-mana kita ditantang dengan pertanyaan ini, “apakah yang dapat saya lakukan, sumbangan apa yang dapat saya berikan khususnya pada masa puasa ini untuk menyampaikan, meneruskan belaskasihan dan kemurahan Allah?” Paling tidak melalui ketiga pilar yang selalu diwartakan selama masa puasa ini untuk membuat puasa kita berarti yakni lewat “doa, puasa/matiraga dan amal kasih” Karena orang-orang yang berada disekitar kita itu, yang mengalami penderitaan, yang belum mengenal Allah, bahkan yang menolak mengenal Allah, masih dapat menikmati, merasakan kasih dan kemurahan Allah lewat doa, puasa dan amal bakti kita. Karena kasih dan kemurahan Allah tidak berkesudahan, tak terbatas (God’s love and mercy are truly boundless) Amen.
Translate »